DEMOCRAZY.ID – Tensi politik di Bangladesh kian mendidih.
Belum kering tanah makam tokoh radikal Sharif Osman Hadi, kini giliran Muhammad Motaleb Sikdar (42), pemimpin gerakan mahasiswa sekaligus pendiri sayap partai buruh Warga Negara Nasional, menjadi sasaran penembakan brutal.
Insiden berdarah ini terjadi di siang bolong, tepatnya pukul 11.45 waktu setempat di Sonadanga, Kota Khulna, akhir pekan lalu.
Sikdar ditembak tepat di bagian kepala oleh penyerang misterius saat dirinya tengah sibuk mempersiapkan demonstrasi buruh.
Mengutip The Independent, Selasa (30/12/2025), meski terjangan timah panas menembus dari telinga satu ke telinga lainnya, tim medis di Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Khulna menyebut nyawa Sikdar masih bisa diselamatkan.
“Peluru menembus kedua sisi telinga, namun ia tidak dalam bahaya langsung. Saat ini korban masih dalam pengawasan ketat,” lapor tim medis usai melakukan pemindaian CT di pusat diagnostik swasta.
Saif Nawaz, koordinator unit metropolitan Khulna, mengonfirmasi bahwa Sikdar merupakan sosok sentral di Jatiya Sramik Shakti, platform buruh yang berafiliasi dengan partai mahasiswa.
ksi penembakan ini seolah menjadi bensin yang menyiram api kerusuhan di Bangladesh.
Pekan lalu, publik sudah diguncang oleh pembunuhan Sharif Osman Hadi (32), juru bicara Inqilab Manch yang berperan besar dalam penggulingan rezim Sheikh Hasina pada Agustus 2024 lalu.
Hadi tewas diterjang peluru pria bertopeng di Dhaka pada 12 Desember. Kematiannya memicu gelombang protes anarkis yang menyasar properti Partai Awami League dan misi diplomatik India.
Di Mymensingh, kerusuhan bahkan memakan korban jiwa seorang pria Hindu, Dipu Chandra Das, yang tewas dikeroyok massa atas tuduhan penistaan agama.
Kondisi ini menjadi ujian mahaberat bagi pemerintahan sementara pimpinan peraih Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus.
Sejak memegang kendali pada Agustus 2024, Yunus terus dihantam tekanan terkait lambannya reformasi birokrasi dan hukum.
Terlebih, Bangladesh tengah bersiap menyongsong pemilihan parlemen pada 12 Februari mendatang—sebuah pesta demokrasi yang dipastikan tanpa kehadiran Liga Awami, partai milik Sheikh Hasina yang telah dilarang ikut serta.
Dalam pidato nasionalnya, Yunus menyebut kematian tokoh-tokoh muda ini sebagai kehilangan besar bagi demokrasi.
“Saya mengimbau masyarakat tetap tenang. Kekerasan hanya akan merusak kredibilitas pemilu kita nanti,” tegasnya.
Pemerintah telah menetapkan hari Sabtu lalu (27/12/2025) sebagai hari berkabung nasional.
Namun, di bawah kibaran bendera setengah tiang, bayang-bayang konflik horizontal dan ketidakpastian politik masih menghantui Bangladesh.
Sumber: Inilah