Kuasa Tuhan! Sejumlah Korban Banjir Dahsyat Nepal Ditemukan Masih Hidup Usai Berhari-Hari Terkubur

DEMOCRAZY.ID – Banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah pegunungan Nepal meninggalkan pemandangan kehancuran.

Rumah-rumah tersapu arus, jalan terputus, bangunan tertimbun lumpur dan bebatuan, sementara ratusan orang masih dinyatakan hilang.

Namun, di tengah kepungan air, lumpur dan reruntuhan, operasi penyelamatan menghadirkan sejumlah kisah yang nyaris sulit dipercaya.

Setelah berjam-jam hingga berhari-hari berada dalam kondisi ekstrem, beberapa korban ditemukan masih hidup.

Salah satu momen paling menggetarkan terjadi di Timure, distrik Rasuwa.

Tim penyelamat yang sedang menyisir wilayah terdampak mendengar suara tangisan samar dari balik tanah dan bebatuan.

Mereka segera menggali sumber suara tersebut.

Di balik timbunan reruntuhan, ditemukan seorang anak perempuan berusia enam tahun yang masih hidup.

Anak itu diperkirakan telah terjebak selama tiga hari di kawasan dengan ketinggian lebih dari 2.200 meter.

Setelah berhasil dikeluarkan, kondisinya memburuk sehingga petugas segera mengevakuasinya ke pos polisi bersenjata Nepal sebelum direncanakan diterbangkan ke Kathmandu untuk mendapatkan perawatan medis.

Bagi tim penyelamat, suara tangisan dari balik reruntuhan tersebut menjadi tanda bahwa harapan belum sepenuhnya hilang di tengah kawasan yang porak-poranda.

Diselamatkan dari bawah reruntuhan dengan ekskavator

Kisah lain datang dari Rasuwa, ketika seorang perempuan berusia 97 tahun, Guna Maya Bohara, ditemukan masih hidup setelah fasilitas perawatan tempat tinggalnya hancur diterjang banjir.

Bohara terjebak di bawah reruntuhan selama berjam-jam.

Tim penyelamat harus bekerja dalam kondisi sulit sebelum akhirnya menggunakan ekskavator untuk membuka timbunan dan mengeluarkannya dari lokasi.

Tubuhnya dipenuhi lumpur ketika berhasil dievakuasi. Namun, perempuan lanjut usia itu masih hidup.

Momen ketika Bohara ditarik keluar dari reruntuhan menggunakan ember ekskavator kemudian menyebar luas di media sosial.

Bagi keluarganya, menemukan Bohara masih bernapas setelah bencana tersebut merupakan sesuatu yang sulit dipercaya.

Di tengah wilayah yang sebagian telah rata dengan tanah, dua kisah penyelamatan itu menjadi gambaran tentang betapa tipisnya batas antara kehidupan dan kematian dalam bencana besar.

Harapan masih menyala di dalam terowongan

Keajaiban berikutnya masih ditunggu dari sebuah terowongan pembangkit listrik tenaga air yang menjadi tempat terjebaknya ratusan pekerja.

Setelah banjir bandang dan longsor menerjang kawasan tersebut, para pekerja terperangkap di dalam terowongan. Kondisi di luar lokasi menyulitkan proses evakuasi, sementara waktu terus berjalan.

Pada 29 Agustus, tentara Nepal mulai mengebor lapisan lumpur dan memasukkan udara ke dalam terowongan.

Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan peluang bertahan hidup para pekerja yang masih berada di dalam.

Pemerintah Nepal memperkirakan lebih dari 100 pekerja kemungkinan masih hidup di dalam terowongan. Sebelumnya, tim penyelamat telah berhasil mengevakuasi 279 pekerja ke tempat aman.

Personel penyelamat dari India dan China juga turut membantu Nepal menghadapi operasi yang sangat kompleks tersebut.

Di tengah situasi yang serba tidak pasti, setiap celah yang berhasil dibuka, setiap suara yang terdengar, dan setiap korban yang ditemukan hidup menjadi alasan bagi tim penyelamat untuk terus menggali.

Di balik keajaiban, bencana masih menyisakan duka besar

Kisah-kisah penyelamatan tersebut hadir di tengah skala bencana yang sangat besar.

Hingga 30 Agustus, banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal-China sejak 26 Agustus dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 750 orang. Lebih dari 3.000 orang masih dinyatakan hilang.

Sebagian korban diduga terseret arus deras dan kemungkinan terbawa hingga wilayah India.

Bencana ini juga menyisakan pekerjaan besar bagi Nepal.

Selain pencarian korban dan evakuasi warga, pemerintah harus menghadapi kerusakan infrastruktur serta memulihkan kehidupan masyarakat di kawasan yang terdampak.

Perkiraan awal menyebut biaya rekonstruksi dapat mencapai 4-5 miliar dolar AS.

Lebih jauh, tragedi Nepal kembali memperlihatkan meningkatnya ancaman bencana di kawasan pegunungan.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa pemanasan global mempercepat pencairan gletser dan meningkatkan ketidakstabilan danau glasial.

Risiko serupa tidak hanya mengintai Himalaya. Pegunungan Alpen hingga Andes juga menghadapi ancaman banjir akibat jebolnya danau glasial atau glacial lake outburst flood (GLOF).

Karena itu, para ahli mendorong penguatan sistem pemantauan menggunakan satelit, drone, stasiun meteorologi, serta pemodelan hidrodinamik untuk mendeteksi potensi bencana lebih awal.

Di tengah angka korban yang terus bertambah, kisah anak berusia enam tahun yang ditemukan hidup setelah tiga hari terkubur, perempuan 97 tahun yang ditarik dari reruntuhan, dan para pekerja yang masih dinantikan keselamatannya menjadi pengingat bahwa bahkan di tengah bencana paling dahsyat sekalipun, harapan dapat muncul dari tempat yang paling tidak terduga.

Artikel terkait lainnya