GAWAT! Pengamat Soroti Potensi ‘Pengkhianatan’ di Lingkar Kekuasaan Prabowo

DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Nirmal Ilham, melontarkan pandangan kritis mengenai potensi pengkhianatan dalam lingkar kekuasaan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam sebuah tulisan opini yang beredar luas, ia mengaitkan kejatuhan sejumlah pemimpin dunia dengan faktor pengkhianatan dari orang-orang terdekat.

Menurut Nirmal, sejarah menunjukkan bahwa pemimpin besar sering kali tumbang bukan karena kekuatan lawan, melainkan akibat retaknya loyalitas di internal kekuasaan.

Ia menyinggung contoh pemimpin luar negeri yang dinilai mudah dijatuhkan karena adanya pengkhianatan dari lingkar dalam.

“Jika suatu saat Indonesia menghadapi tekanan geopolitik besar, maka faktor paling berbahaya bukan datang dari luar, melainkan dari dalam kekuasaan itu sendiri,” tulis Nirmal, Ahad (11/1/2026).

Dalam analisanya, perhatian pertama diarahkan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Nirmal menyoroti proses politik yang mengantarkan Gibran ke kursi wakil presiden, yang menurutnya sarat kontroversi dan preseden pelanggaran etika konstitusional.

Ia juga mengaitkan hal itu dengan dinamika politik Presiden ke-7 Joko Widodo yang dinilai pernah meninggalkan partai pengusungnya sendiri.

Perhatian berikutnya tertuju pada faktor keluarga inti Presiden Prabowo.

Nirmal mengingatkan bahwa dalam politik global, ikatan ideologis dan keyakinan sering kali lebih dominan dibanding hubungan darah.

Ia menilai perbedaan orientasi dan jaringan internasional dapat menjadi celah loyalitas, terutama dalam situasi tekanan asing.

Selain itu, Nirmal juga menyinggung sejumlah elite politik senior lintas partai yang saat ini berada di sekitar pusat kekuasaan.

Menurutnya, tokoh-tokoh tersebut memiliki insting politik tajam dan pengalaman panjang dalam membaca arah angin kekuasaan.

“Mereka bukan politisi biasa. Mereka terbiasa berpindah posisi demi memastikan tetap berada di pusat pengaruh,” tulisnya.

Tak hanya itu, Nirmal juga menyoroti politisi generasi muda dengan ambisi besar.

Ia menilai sebagian dari mereka memiliki ketergantungan pada dukungan eksternal dan jejaring global, yang dalam kondisi tertentu dapat berpotensi menggeser loyalitas politik nasional.

Meski demikian, Nirmal menegaskan bahwa pandangannya merupakan refleksi sejarah dan peringatan politik, bukan tuduhan hukum.

Ia mengajak publik untuk belajar dari pengalaman masa lalu bangsa Indonesia, di mana pengkhianatan terhadap pemimpin pernah terjadi berulang kali, bahkan terhadap tokoh-tokoh besar dan pahlawan nasional.

“Sejarah Indonesia sudah berkali-kali menangis karena pengkhianatan. Tidak ada pemimpin yang kebal, termasuk Presiden Prabowo,” pungkasnya.

Sumber: RadarAktual

Artikel terkait lainnya