Gawat! China Ingatkan Tatanan Dunia ‘Kiamat’ Akibat Blokade AS di Selat Hormuz

DEMOCRAZY.ID – Presiden Tiongkok Xi Jinping meluncurkan peringatan keras yang menggetarkan panggung diplomasi global.

Di tengah eskalasi militer Amerika Serikat yang kini mengunci total Selat Hormuz, Xi menyebut tatanan internasional sedang berada di ambang keruntuhan dan menuju jurang kekacauan yang tak terkendali.

Pernyataan dramatis ini disampaikan Xi Jinping saat menerima kunjungan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, di Beijing, Selasa (14/4/2026).

Xi menekankan bahwa tindakan sepihak yang mengabaikan hukum internasional telah menciptakan ketidakpastian global.

“Di dunia saat ini, kekacauan merajalela. Tatanan internasional sedang runtuh dan kacau,” tegas Xi Jinping.

Ia mendesak kekuatan dunia untuk kembali pada multilateralisme sejati dan supremasi hukum demi menjaga perdamaian yang kian rapuh.

Blokade AS vs Tanker “Siluman” Iran

Peringatan Cina ini muncul tepat setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan keberhasilan “blokade total” terhadap perdagangan ekonomi Iran via laut.

Laksamana Brad Cooper mengeklaim dalam waktu kurang dari 36 jam, militer AS telah menghentikan seluruh arus keluar-masuk logistik di Selat Hormuz.

Ironisnya, di tengah klaim kemenangan AS tersebut, Iran melakukan aksi menantang.

Kantor berita Fars melaporkan sebuah kapal tanker raksasa (super tanker) berkapasitas 2 juta barel minyak mentah berhasil melintasi blokade AS dengan sistem pelacakan yang sengaja diaktifkan—seolah mengejek kecanggihan pengawasan Washington.

4 Doktrin Cina: Oase di Tengah Kegagalan Diplomasi

Menyusul kegagalan perundingan langsung antara AS dan Iran di Islamabad, Ciina mengambil inisiatif strategis dengan menawarkan “Rencana Empat Poin” untuk perdamaian Timur Tengah.

Usulan ini disampaikan Xi Jinping kepada Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan:

  1. Hidup Berdampingan Secara Damai: Mendukung negara-negara Teluk membangun arsitektur keamanan bersama yang kooperatif dan berkelanjutan.
  2. Kedaulatan Mutlak: Menghormati integritas wilayah dan keamanan nasional negara-negara berkembang tanpa intervensi asing.
  3. Supremasi Hukum Internasional: Meneguhkan sistem internasional dengan PBB sebagai inti dan Piagam PBB sebagai pedoman utama.
  4. Keseimbangan Keamanan dan Pembangunan: Mengintegrasikan keamanan sebagai prasyarat pembangunan, di mana China siap berbagi peluang modernisasi dengan kawasan Teluk.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru memberikan pernyataan kontradiktif dengan mengeklaim bahwa konflik di Timur Tengah hampir berakhir dan perdamaian sudah berada di depan mata.

Namun, bagi Beijing, langkah AS di Selat Hormuz justru merupakan bahan bakar baru bagi api kekacauan global yang lebih besar.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya