DEMOCRAZY.ID – Direktur Rumah Politik Indonesia (RPI) Fernando Emas menilai reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto belum menyentuh persoalan utama dalam pemerintahan.
Penilaian ini disampaikan menyusul pelantikan sejumlah menteri dan kepala lembaga di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4).
Menurut Fernando, langkah perombakan kabinet tersebut kehilangan makna karena tidak menyasar posisi strategis yang dinilai bermasalah.
Ia menyoroti keberadaan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang tetap dipertahankan di tengah sorotan publik.
“Reshuffle kabinet yang baru dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto seolah tidak memiliki arti dan tidak menyentuh persoalan utama di kabinet,” kata Fernando dalam keterangannya, Jumat (1/5).
Fernando menilai, posisi Teddy sebagai pejabat eselon II dinilai memiliki pengaruh yang melampaui kewenangannya.
Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi mengganggu efektivitas kerja kabinet.
Dalam perombakan tersebut, sejumlah nama baru masuk ke jajaran kabinet, di antaranya Jumhur Hidayat dan Dudung Abdurachman.
Namun, menurut Fernando, perubahan tersebut belum cukup untuk memperkuat soliditas pemerintahan.
Ia berpandangan, langkah tegas terhadap posisi Sekretaris Kabinet diperlukan agar komunikasi antara Presiden dan para menteri dapat berjalan lebih efektif.
“Kalau Presiden ingin kabinetnya semakin solid, maka hambatan komunikasi harus diselesaikan,” ujarnya.
Fernando bahkan menyebut keberadaan Sekretaris Kabinet berpotensi menjadi penghalang koordinasi antara Presiden dan jajaran pembantunya.
Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak pada kinerja pemerintahan secara keseluruhan.
Ia juga mengingatkan bahwa keberlanjutan pemerintahan sangat bergantung pada efektivitas komunikasi internal.
Jika tidak segera dibenahi, menurut dia, situasi tersebut dapat menghambat pengambilan kebijakan strategis.
Fernando menambahkan, reshuffle kabinet seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola pemerintahan dan meningkatkan kinerja para menteri.
Oleh karena itu, evaluasi terhadap seluruh posisi strategis dinilai penting dilakukan secara menyeluruh.
“Perombakan kabinet seharusnya diarahkan untuk menjawab persoalan mendasar, bukan sekadar perubahan simbolik,” kata Fernando.
Sumber: NetralNews