Survei Gibran Jomplang, Rocky Gerung Curiga Ada ‘Operasi Besar’ Menuju 2029!

DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Rocky Gerung mencium adanya ‘operasi besar’ di balik hasil survei kepuasan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang tinggi.

Menurutnya, angka yang ‘jomplang’ dengan survei lain merupakan bagian dari skenario untuk merawat elektabilitas Gibran menjelang Pilpres 2029.

Kecurigaan ini muncul setelah Poltracking Indonesia merilis tingkat kepuasan Gibran mencapai 71,4 persen.

Angka tersebut kontradiktif dengan temuan lembaga lain seperti CELIOS dan IPO yang justru memberikan ‘rapor merah’ dengan skor kepuasan hanya 29 persen.

“Kita mulai menduga bahwa memang ada operasi besar untuk merawat elektabilitas. Sebut aja elektabilitas karena tentu Pak Wapres, Pak Gibran punya misi atau bahkan ambisi untuk jadi presiden di kemudian hari,” ucap Rocky di kanal YouTube Rocky Gerung Official, Kamis (23/10/2025).

Rocky mempertanyakan dasar dari penilaian tinggi tersebut, mengingat minimnya laporan publik mengenai kinerja konkret Gibran, misalnya dalam memimpin rapat koordinasi atau evaluasi program pemerintah.

“Bagaimana mungkin ada prestasi oleh wakil presiden kendati didempetkan dengan prestasi presiden, selama tidak ada satu keterangan publik yang membuat publik yakin bahwa Pak Gibran itu bekerja,” kritiknya.

Bagi Rocky, menempelkan prestasi Gibran pada capaian Presiden Prabowo tanpa bukti kinerja spesifik adalah hal yang tidak masuk akal.

“Tentu orang menganggap it is too good to be true, terlalu mengada-ada,” ujarnya.

Rocky Gerung Sebut Duet Prabowo-Gibran Tidak Akan Lanjut di Pilpres 2029, Nama Ini yang Berpeluang?

Pengamat politik Rocky Gerung memprediksi duet Prabowo-Gibran tidak akan berlanjut pada Pilpres 2029.

Menurutnya, Gibran belum memiliki kapasitas intelektual untuk meneruskan gagasan “Sumitronomics”.

Dalam analisisnya, Rocky menyebut bahwa Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Prabowo Subianto tidak akan kembali menggandeng Gibran dalam Pemilu 2029.

“Di dalam proyeksi ke-29, kalangan Gerindra pasti sudah lengkap bersiap atau Pak Prabowo dua periode tetapi wakil presidennya pasti bukan Gibran itu sudah pastilah,” ujarnya, melalui kanal YouTube Rocky Gerung official, dikutip pada Kamis (23/10/2025).

Alasannya, Rocky menilai Gibran belum memiliki kapasitas intelektual untuk melanjutkan warisan Presiden Prabowo, yaitu gagasan-gagasan yang diwariskan dari mendiang ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo atau “Sumitronomics”.

Sedangkan wakil presiden di periode selanjutnya, atau yang Rocky sebut sebagai “putra mahkota”, menurutnya, haruslah seseorang yang mampu memahami dan menjalankan gagasan-gagasan tersebut.

“Bukan Gibran lah, kalau misalnya ide-ide Pak Sumitro dijadikan sebagai pedoman untuk membangun kembali Indonesia, ya pasti Gibran buta huruf terhadap itu kan,” ungkap Rocky.

Rocky mengatakan bahwa dalam lingkaran internal Gerindra sudah mulai mempersiapkan sejumlah tokoh yang dianggap lebih mumpuni untuk mendampingi Prabowo, menghidupkan kembali gagasan-gagasan Sumitronomics.

“Ada yang punya potensi untuk menghidupkan kembali pikiran-pikiran partai sosialis lama, yang didirikan oleh mendiang Prof. Soemitro, jadi di kalangan Gerinda sendiri pasti kader tersedia,” kata dia.

Lebih lanjut, Rocky kemudian menyoroti tokoh-tokoh di luar lingkaran Gerindra yang terlihat mulai muncul ke permukaan untuk menguji kapasitasnya dalam berbagai isu yang lebih luas, tidak hanya dengan sensasi melalui media sosial.

Sebagai contoh, Rocky menyebut nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau Kang Dedi yang popularitasnya semakin naik.

“Dedi Mulyadi yang popularitasnya makin naik itu, tapi orang tetap menunggu bagaimana konsep-konsep Kang Dedi di dalam soal global politics, environmental ethics, human solidarity,” ucap Rocky.

Ia menegaskan bahwa seorang calon pemimpin tidak dapat membangun citra hanya dengan video sensasional, melainkan pengetahuan yang luas dan kemampuan untuk mengomentari berbagai isu strategis, yang akan menjadi tolak ukur utama.

“Yang saya maksud bahwa seorang calon pemimpin seperti Kang Dedi ini harus harus punya pengetahuan yang luas, bukan sekedar mengolah dan membombardir publik dengan segala macam video yang sensasional,” tutupnya.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya