Bukan Main-Main, Mantan Guru Spiritual Jokowi Beri Peringatan Keras Soal Prosesi Injak Kepala Kerbau!

DEMOCRAZY.ID – Mantan penasihat spiritual Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Sri Eko Srianto Galgendu atau Eko Lemu, mengingatkan agar prosesi adat menginjak kepala kerbau yang dilakukan Jokowi saat menerima gelar Baginda Pemuka Bangsa di Lampung tidak dimaknai sekadar seremoni.

Menurut Eko, ritual tersebut memiliki makna filosofis yang kuat dalam tradisi adat.

Karena itu, ia mengingatkan penggunaan simbol-simbol adat untuk kepentingan politik justru dapat berbalik menghantam orang yang menjalaninya.

“Nilai dari simbolisasi kepala kerbau adalah penyucian diri. Artinya kejujuran, keikhlasan, dan kesucian. Kalau kemudian itu ditunggangi kepentingan yang tidak ikhlas, tidak benar, sewaktu disimbolkan Pak Jokowi menginjak kepala kerbau, itu bisa menjadi permasalahan yang menghantam dirinya sendiri,” kata Eko dalam podcast Forum Keadilan TV, Rabu (1/7/2026).

Pernyataan itu disampaikan Eko menanggapi prosesi adat yang dijalani Jokowi saat menerima gelar kehormatan dari lima kerajaan adat Lampung dalam rangka safari politiknya di provinsi tersebut.

Menurut dia, simbol-simbol adat tidak boleh dipisahkan dari nilai moral yang terkandung di dalamnya.

“Jangan kemudian bermain-main dengan hal yang menyangkut nilai-nilai adat dan tradisi yang disakralkan,” terangnya.

Eko juga menilai masyarakat perlu memahami bahwa setiap prosesi adat membawa konsekuensi moral bagi orang yang menerimanya, bukan sekadar rangkaian seremoni.

Dalam kesempatan yang sama, Eko menguraikan makna kepemimpinan seorang raja yang menurutnya sejalan dengan filosofi gelar Baginda.

Ia mengatakan seorang raja atau baginda bukan hanya memperoleh penghormatan, melainkan memikul tanggung jawab besar terhadap rakyat.

“Yang harus dimuliakan adalah masyarakat, bangsa, dan negaranya, bukan anak-anaknya,” ujarnya.

Menurut Eko, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan terletak pada keberhasilan membangun keluarganya, melainkan pada kemampuannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Bagi seorang raja, kemiskinan rakyat adalah kemiskinan dirinya. Kebodohan rakyat adalah kebodohan dirinya,” katanya.

Ia juga menilai seorang pemimpin yang ingin mewariskan kepemimpinan kepada generasi berikutnya seharusnya mengedepankan kebijaksanaan, bukan kepentingan keluarga ataupun kelompok politik.

“Kalau ingin meneruskan kepemimpinan kepada pewarisnya, harus penuh kebijakan, berbesar hati, bahkan kadang mau mengalah,” ujar Eko.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya