3 Indikasi Kuat Magnet Politik Jokowi Mulai Luntur, Benarkah Sang Eks Presiden Mulai Ditinggalkan Rakyat?

DEMOCRAZY.ID – Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga, menilai respons masyarakat saat kunjungan politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Provinsi Lampung, menjadi sinyal melemahnya daya tarik politik mantan kepala negara tersebut.

Menurut Jamiluddin, antusiasme warga yang hadir dalam agenda safari politik Jokowi di Lampung tidak sesuai dengan ekspektasi sejumlah pihak, termasuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang berharap kehadiran Jokowi mampu menarik massa dalam jumlah besar.

“Safari politik Jokowi Widodo ke Provinsi Lampung tampaknya jauh dari harapan PSI. PSI berharap kehadiran Jokowi akan mendapat sambutan meriah dari warga Lampung. Nyatanya, dilihat dari warga yang hadir, jumlahnya terbilang terbatas,” kata Jamiluddin saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (28/6/2026).

Jamiluddin menilai, kondisi tersebut berbeda dengan dukungan yang pernah diterima Jokowi pada Pilpres 2019.

Saat itu, kata dia, sebanyak 59,3 persen pemilih di Lampung memberikan suaranya kepada Jokowi.

“Sambutan itu tak sesuai dengan jumlah yang memilih Jokowi pada Pilpres 2019. Saat itu, yang memilih Jokowi ada 59,3 persen dari warga Lampung yang memiliki hak pilih,” katanya.

Jamiluddin menyebut respons masyarakat Lampung menunjukkan bahwa Jokowi tidak lagi memiliki magnet politik yang kuat untuk menarik perhatian publik.

“Jokowi bagi warga Lampung bukan lagi sosok yang punya magnet politik, apalagi untuk menghipnotis warga Lampung agar berduyun-duyun menyaksikan kehadirannya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya aksi demonstrasi dari sejumlah emak-emak yang menolak kedatangan Jokowi di Lampung.

Menurutnya, hal tersebut memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat kini memandang Jokowi sebagai sosok yang bermasalah.

“Jokowi malah dianggap sosok bermasalah. Hal itu terlihat dari demo emak-emak yang menolak kehadiran Jokowi di Lampung,” kata Jamiluddin.

Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa kondisi tersebut membuat kehadiran Jokowi dinilai sulit memberikan dampak signifikan terhadap elektabilitas PSI.

“Karena itu, Jokowi bukan lagi dianggap solusi, apalagi untuk mengalihkan warga beralih ke PSI. Hal ini tentu mengindikasikan pula kehadiran Jokowi di Lampung tampaknya sulit mendongkrak elektoral PSI,” ucapnya.

Jamiluddin memperkirakan fenomena serupa berpotensi terjadi di berbagai daerah lain apabila tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi terus menurun.

“Kasus sambutan warga Lampung terhadap Jokowi berpeluang terjadi di daerah lain. Masyarakat di provinsi lain bisa saja mengabaikan kedatangan Jokowi,” katanya.

“Hal itu sangat berpeluang terjadi karena trust masyarakat terhadap Jokowi sudah sangat rendah. Karena itu, safari politik Jokowi ke provinsi lain bisa saja disambut secara terbatas. Bahkan tak menutup kemungkinan gelombang demo menolak Jokowi akan semakin besar,” imbuhnya.

Jamiluddin menambahkan, jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, maka Jokowi hanya akan memperoleh sambutan dari kader PSI dan para relawannya.

“Kalau itu yang terjadi, kehadiran Jokowi di daerah memang sudah tidak dikehendaki. Jokowi paling disambut kader PSI dan relawan Jokowi. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi Jokowi, yang merasa dirinya masih digdaya dan suhu politik di tanah air,” pungkasnya.

Aksi Penolakan

Dinamika politik mewarnai Kota Bandar Lampung seiring berlangsungnya agenda safari politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Di tengah kunjungan tersebut, ratusan massa yang didominasi oleh ibu-ibu berpakaian gamis hitam menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran Adipura, Sabtu (27/6/2026).

Aksi yang diinisiasi oleh Forum Suara Masyarakat Lampung (FSML) itu tidak hanya diwarnai penyampaian aspirasi melalui orasi.

Massa juga menyatakan rencana melanjutkan aksi dengan berjalan kaki (long march) menuju Gedung Rimbawan, lokasi Jokowi menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI Kota Bandar Lampung.

Berdasarkan pantauan di lokasi, massa tiba di Bundaran Adipura menggunakan satu unit mobil komando dan tiga unit bus besar.

Mereka membentangkan berbagai atribut aksi sembari menyampaikan penolakan terhadap kehadiran Jokowi di Provinsi Lampung.

Koordinator lapangan aksi, Gunawan Parikesit, menyampaikan bahwa Bundaran Adipura merupakan titik awal konsolidasi massa sebelum bergerak menuju lokasi kegiatan yang dihadiri Jokowi.

Menurutnya, Gedung Rimbawan yang menjadi tujuan aksi berjarak sekitar 700 meter dari titik berkumpul massa.

“Orang yang kita tolak, Jokowi ada di Rimbawan, kita akan ke sana!” pekik Gunawan Parikesit dengan lantang dari atas mobil komando, Sabtu (27/6/2026).

Keyakinan Jokowi

Jokowi menyatakan keyakinannya bahwa dengan struktur yang bekerja hingga tingkat desa, PSI akan mampu melewati ambang batas parlemen atau lolos di DPR RI.

“Kalau persoalan masuk parlemen, saya berani memastikan pasti masuk,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa target PSI bukan hanya sekadar masuk Senayan, melainkan target yang lebih besar di internal dapur partai.

Agenda konsolidasi di Lampung ini turut diwarnai bergabungnya sejumlah tokoh politik lokal, seperti mantan Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara dan beberapa mantan anggota DPRD dari PPP, PKB, serta PDIP. Pemasangan atribut partai secara simbolis dilakukan langsung oleh Kaesang Pangarep disaksikan Jokowi.

Ketua DPW PSI Lampung, Achmad Ridho Julian, optimistis kehadiran tokoh-tokoh ini akan semakin memantapkan basis massa PSI di Lampung.

“Dengan bergabungnya mantan kepala daerah dan legislator, saya yakin basis PSI semakin mantap dan menambah kekuatan di Lampung,” pungkasnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya