Pernyataan Anies Ini Dianggap Pengamat ‘Sindiran Balasan’ untuk Prabowo

DEMOCRAZY.ID – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam pidato politiknya di hadapan Dewan Pengurus Wilayah Gerakan Rakyat Jawa Tengah beberapa hari lalu, Anies menyatakan bahwa pemerintahan saat ini semakin jauh dari prinsip integritas dan meritokrasi.

Anies menegaskan bahwa bangsa ini tidak akan maju jika rekrutmen politik, baik di birokrasi maupun bidang politik, didasarkan pada koneksi dan bukan kompetensi.

“Bagaimana mungkin bangsa ini akan maju dan menjadi bangsa yang hebat kalau rekrutmen politiknya didasarkan atas koneksi dan bukan didasarkan atas kompetensi,” ujar Anies.

Menurutnya, politik saat ini penuh dengan unsur transaksional yang mengabaikan kompetensi, profesionalitas, dan kualitas dasar manusia.

Sindiran Balik atas Pernyataan Prabowo?

Pengamat politik Adi Prayitno menilai pernyataan Anies ini merupakan sindiran balik kepada Prabowo yang sebelumnya menyinggung soal skor 11 dari 100 yang diberikan Anies saat debat Pilpres 2024.

Dalam acara Munas PKS beberapa waktu lalu, Prabowo menyebut justru skor rendah tersebut berkontribusi pada kemenangannya karena membuat “emak-emak” semakin mendukungnya.

“Sepertinya Anies tidak mau tinggal diam. Ini semacam sindir-menyindir yang tidak berkesudahan,” kata Adi Prayitno dalam kanal YouTube-nya, Ahad (12/10/2025).

Kritikan Anies mendapat respons dari sejumlah politisi pendukung pemerintah.

Politisi PSI Bestari Barus menyebut Anies juga melakukan hal serupa saat menjadi Gubernur Jakarta dengan membentuk Tim Gabungan Percepatan Pembangunan (TGUPP) yang mayoritas diisi pendukungnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Desa Ahmad Riza Patria membela kebijakan Prabowo dengan menyebut bahwa setiap presiden memiliki gaya kepemimpinan masing-masing.

“Apa yang dilakukan Prabowo adalah merangkul semua kalangan untuk gotong royong membangun Indonesia, bukan sekadar koneksi,” ujar politisi Gerindra yang dulu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta di era Anies tersebut.

Adi Prayitno menilai pernyataan Anies merupakan strategi untuk mempertebal posisinya sebagai tokoh oposisi yang berada di luar kekuasaan.

Hal ini dinilai sebagai upaya merawat basis dukungan dari kelompok-kelompok yang anti-pemerintah.

“Anies ingin memberikan diferensiasi bahwa mazhab politiknya adalah mazhab oposisi yang berada di luar kekuasaan,” jelasnya.

Meski menuai pro-kontra, Adi Prayitno berpandangan kritik terbuka semacam ini justru menjadi kabar baik bagi demokrasi Indonesia, terutama di tengah minimnya fungsi check and balances dari DPR dan partai politik.

“Dalam negara demokrasi, sahut-sahutan politik dan sindir-menyindir secara terbuka adalah keniscayaan demokratis,” pungkasnya.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya