

DEMOCRAZY.ID – Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memanas setelah parlemen Iran dilaporkan tengah membahas rancangan undang-undang tentang pemberian hadiah fantastis sebesar €50 juta atau sekitar Rp865 miliar kepada siapa pun yang berhasil membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan atau Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Langkah ekstrem itu disebut sebagai bentuk balas dendam atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada awal konflik terbaru di kawasan tersebut Februari 2026 lalu.
Laporan yang pertama kali diungkap media Inggris Daily Mail menyebut pembahasan itu dilakukan melalui rancangan undang-undang bertajuk “Reciprocal Action by Military and Security Forces of the Islamic Republic” yang digagas parlemen Iran.
Ketua Komisi Keamanan Nasional Iran, Ebrahim Azizi, secara terbuka mengungkapkan kemarahan Teheran terhadap Washington dan Tel Aviv atas serangan mendadak yang menewaskan Ali Khamenei.
“Karena Trump memerintahkan pembunuhan Ali Khamenei, maka dia sendiri harus dihukum oleh setiap Muslim dan setiap orang merdeka,” kata Azizi seperti dikutip televisi pemerintah Iran.
Jika benar disahkan, maka hadiah resmi negara untuk pembunuhan kepala negara asing itu akan menjadi eskalasi paling berbahaya dalam konflik Iran melawan AS dan Israel selama beberapa dekade terakhir.
Donald Trump dan Benjamin Netanyahu selama ini memang dianggap Iran sebagai aktor utama di balik operasi militer yang menewaskan Khamenei.
Bahkan sebelum muncul usulan hadiah pembunuhan tersebut, sejumlah ulama Iran telah mengeluarkan fatwa yang menyerukan pembalasan terhadap kedua pemimpin itu.
Situasi semakin memanas sejak pecahnya konflik besar pada akhir Februari 2026.
Sejumlah tokoh agama dan politik Iran berulang kali menyerukan umat Muslim di seluruh dunia untuk membalas kematian Khamenei.
Anggota Komisi Keamanan Nasional Iran lainnya, Mahmood Nabavian, bahkan menyampaikan pernyataan yang jauh lebih keras.
“Pejabat kotor Amerika dan Zionis harus tahu, jika ada agresi lagi kali ini, kami akan menghancurkan mereka bersama istana-istana mereka,” tegas Nabavian.
Ia juga menyebut hadiah tersebut dimaksudkan untuk “mengirim Trump dan Netanyahu ke neraka”.
Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, Amerika Serikat ternyata nyaris melancarkan serangan militer besar-besaran ke Iran.
Donald Trump disebut telah menyiapkan operasi militer skala penuh terhadap Republik Islam Iran.
Serangan itu dijadwalkan berlangsung sehari setelah ancaman terbaru dari Teheran muncul.
Namun pada detik-detik terakhir, Trump membatalkan operasi tersebut setelah mendapat tekanan diplomatik dari sejumlah pemimpin Timur Tengah.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, penguasa Qatar, hingga Uni Emirat Arab dikabarkan secara langsung meminta Trump memberi kesempatan terakhir bagi jalur diplomasi dan negosiasi nuklir.
Melalui platform Truth Social, Trump mengumumkan bahwa dirinya memutuskan menunda serangan.
“Saya diminta untuk menunda serangan militer terhadap Republik Islam Iran yang dijadwalkan besok,” tulis Trump.
Meski demikian, Trump tetap menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam kesepakatan damai apa pun.
Walaupun serangan dibatalkan sementara, Washington disebut masih menyiapkan opsi militer penuh jika pembicaraan damai gagal.
Trump bahkan telah memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan militer AS untuk tetap siaga menghadapi kemungkinan operasi besar terhadap Iran.
Sumber pejabat Amerika yang dikutip Axios menyebut proposal damai terbaru dari Iran belum menunjukkan kemajuan berarti.
“Kami benar-benar tidak membuat banyak kemajuan. Situasinya sangat serius hari ini,” ujar pejabat tersebut.
AS disebut ingin pembicaraan serius terkait program nuklir Iran. Jika gagal, Washington mengisyaratkan bahwa penyelesaian bisa dilakukan lewat jalur militer.
“Jika tidak ada kesepakatan, maka pembicaraan berikutnya bisa terjadi melalui bom,” kata sumber itu.
Ketegangan terbaru ini memicu kekhawatiran dunia internasional akan potensi pecahnya perang regional yang lebih luas.
Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang ekonomi global, harga minyak dunia, hingga stabilitas politik internasional.
Analis menilai, ancaman hadiah pembunuhan terhadap Trump dan Netanyahu menunjukkan bahwa konflik kini telah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya dibanding sebelumnya.
Jika negosiasi nuklir gagal dan aksi militer kembali terjadi, Timur Tengah dikhawatirkan bisa terseret ke dalam perang besar yang melibatkan banyak negara sekaligus.
Sumber: Tribun