DEMOCRAZY.ID – Kematian anggota TNI AL Kelasi Dua, Ghofirul Kasyfi (22), warga Bangkalan Madura Jawa Timur ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan keluarga.
Sejumlah pengakuan sebelum meninggal hingga kondisi jenazah membuat pihak keluarga meragukan penyebab kematian yang disebut bunuh diri.
Di tengah suasana tahlilan malam ke-7 di Bangkalan, kegelisahan keluarga pun mencuat.
Ayah korban, Mahbub Madani, secara terbuka menyampaikan keraguannya.
Bagi Mahbub, Ghofirul dikenal sebagai pribadi yang tegar dan bangga saat diterima sebagai prajurit TNI AL.
Ia dilantik pada Desember 2025 di Surabaya, sebelum mulai berdinas di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat pada Februari 2026.
Namun, kebanggaan itu perlahan berubah menjadi kecemasan saat sang anak mulai mengeluh.
“Tapi kurang lebih satu bulan kemarin dia menelpon dan bilang, ‘papa saya tidak kuat di sini, saya disiksa’,” jelas Mahbub.
Awalnya, Mahbub mengira keluhan itu bagian dari masa orientasi. Namun, pengakuan berikutnya membuatnya semakin khawatir.
“Cuma saya yang dibatai pa, bukan oleh satu orang tetapi 60 (orang)’. Padahal dia tidak pernah mengeluh, saya agak was-was karena baru kali ini anak saya mengeluh,” ujarnya.
Seiring waktu, komunikasi pun semakin terbatas. Ghofirul hanya bisa menggunakan ponsel pada waktu tertentu.
Bahkan, ia sempat menghubungi keluarga secara diam-diam menggunakan ponsel lain.
“Pa, saya tidak kuat, saya minta pindah ke Surabaya. Saya benar-benar sakit Pa, tolong-tolong,” isi pesan yang diterima keluarga.
Mahbub mengaku tetap berusaha menenangkan anaknya, meski sadar perpindahan tugas bukan hal mudah.
“Kecuali ada hubungan dengan jenderal. Tetapi bagaimana pun saya upayakan cari jalan meski saya tahu tidak mungkin, tetapi saya kuat-kuatkan saja, dia mendesak benar hampir setiap hari dengan HP baru, sembunyi-sembunyi. Berarti HP lama disita,” tegasnya.
Kejanggalan semakin terasa menjelang akhir April. Keluarga didatangi dua orang yang mengaku sebagai atasan Ghofirul dan menyebut ia kabur dari kapal.
Namun, sehari kemudian justru muncul kabar berbeda.
“Katanya kabur dari kapal, anehnya besoknya, malam kalau tak salah, ada informasi anak saya ditemukan meninggal di kamar (kapal). Itu kan janggal, kemarin kata 2 orang yang mengaku komandannya telah menggeledah setiap kamar dan anak saya tidak ditemukan,” terang Mahbub.
Tak lama berselang, pihak TNI AL menyampaikan bahwa Ghofirul meninggal karena bunuh diri. Pernyataan ini langsung ditolak oleh keluarga.
“Saya kenal anak saya, sosok yang tidak mudah menyerah bahkan justru saya yang rapuh dibandingkan dia. Artinya, bunuh diri bagi dia sangat-sangat tidak mungkin,” tegasnya.
Kecurigaan kian menguat saat jenazah tiba di rumah duka pada 27 April dini hari. Mahbub melihat adanya lebam di wajah anaknya saat peti dibuka sebagian.
Keesokan harinya, sebelum pemakaman, ia kembali memeriksa kondisi jenazah.
“Keesokan harinya sebelum prosesi pemakaman, saya membuka semua meski sebatas area depan. Tetapi banyak lebam dan di selangkangan keluar darah, anehnya disebut gantung diri tetapi bekas luka dari tali yang menjerat leher di sini (agak ke bawah). Seharusnya kan (di atas) karena dia merosot ada tali naik. Di situlah saya curiga dan mengamuk,” paparnya.
Meski sempat ingin dilakukan autopsi, langkah itu urung dilakukan karena pertimbangan keluarga, khususnya ibu kandung korban.
Hingga kini, Mahbub tetap menolak kesimpulan bunuh diri.
“Tetapi saya betul-betul tidak terima anak saya dibilang bunuh diri. Saya betul-betul tidak terima anak saya mengalami hal-hal yang betul-betul sangat tidak wajar,” katanya.
Keluarga berencana mengajukan keberatan resmi kepada TNI AL serta meminta autopsi ulang secara menyeluruh dan transparan.
“Kami tidak terima anak saya disebut bunuh diri jika kenyataannya dianiaya,” tegas Mahbub.
Keluarga menyatakan akan menerima hasil penyelidikan apabila terbukti tidak ada unsur kekerasan.
Namun, jika ditemukan indikasi tindak pidana, mereka meminta proses hukum dilakukan secara terbuka dan adil.
Kasus ini pun menjadi perhatian publik dan menambah sorotan terhadap pentingnya transparansi dalam penanganan kematian prajurit saat menjalankan tugas negara.
Sumber: Tribun