DEMOCRAZY.ID – Militer Israel mengklaim telah menghancurkan sebuah pesawat yang sebelumnya digunakan oleh pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan yang terjadi di Bandara Mehrabad pada Minggu (15/3/2026) malam hari.
Menurut pernyataan militer Israel, yang dilansir BBC, pesawat tersebut juga digunakan oleh sejumlah pejabat tinggi Iran dan personel militer untuk mendukung pembelian senjata serta melakukan koordinasi dengan negara-negara sekutu.
Serangan ini menjadi bagian dari rangkaian operasi militer yang terus berlangsung di tengah konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang kian memanas.
Selain menghancurkan pesawat tersebut, militer Israel menyebut bahwa salah satu target utama operasinya saat ini adalah sistem peluncur rudal Iran.
Sebuah laporan media Israel menyebut sekitar 70 persen peluncur rudal Iran telah berhasil dihancurkan atau dibuat tidak berfungsi oleh serangan Israel.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk melemahkan kemampuan serangan balasan Iran yang selama beberapa hari terakhir meluncurkan gelombang rudal dan drone ke berbagai target.
Sementara itu, Menteri Pekerjaan dan Pensiun Inggris Pat McFadden menegaskan bahwa konflik yang terjadi saat ini bukanlah perang NATO, melainkan aksi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dalam wawancara dengan program Today di BBC Radio 4, McFadden mengatakan aliansi NATO tidak dibentuk untuk menghadapi situasi seperti konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini.
Ia menjelaskan bahwa NATO didirikan pada 1949 oleh 12 negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, dengan prinsip utama Pasal 5, yaitu serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
“Konflik ini bukan perang NATO, melainkan aksi Amerika Serikat dan Israel,” kata McFadden, seraya menegaskan bahwa Inggris tetap berkomitmen kuat terhadap aliansi tersebut.
Di sisi lain, mantan Kepala Staf Pertahanan Inggris Nick Carter menyarankan agar Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mempertimbangkan pengiriman kapal perang dan drone ke Timur Tengah untuk mendukung Amerika Serikat.
Menurut Carter, menjaga Selat Hormuz tetap terbuka merupakan kepentingan nasional Inggris sekaligus sangat penting bagi stabilitas ekonomi global.
Ia juga menilai angkatan laut Iran mungkin lebih lemah dibanding sebelumnya, namun pasukan laut dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) masih tetap kuat dengan berbagai persenjataan seperti rudal pesisir, drone, kapal cepat bersenjata, kapal tanpa awak, serta ranjau laut.
Carter menekankan bahwa operasi militer untuk mengamankan kawasan tersebut harus dilakukan secara terkoordinasi oleh banyak negara.
“Operasi seperti ini tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan kemampuan dari banyak negara untuk bekerja bersama, dan ini akan menjadi operasi yang sulit dan memerlukan perencanaan matang,” ujarnya.
Di tengah eskalasi konflik yang terus berkembang, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dijadwalkan menyampaikan sikap resmi pemerintah Inggris mengenai krisis Timur Tengah dalam konferensi pers.
Sumber: Tribun