DEMOCRAZY.ID – Serangan militer Amerika Serikat-Israel ke Iran telah memasuki pekan kedua. AS bersama Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Sudah memasuki pekan kedua atau 17 hari setelah serangan pertama, tak ada tanda-tanda Iran kibarkan bendera putih alias menyerah.
Di tengah perang melawan Iran yang belum kunjung usai, presiden AS Donald Trump melontarkn kritik pedas kepada pemimpin Israel.
Trump dalam wawancara dengan media Israel, Channel 14 menyebut Presiden Israel, Isaac Herzog sebagai sosok lemah dan tidak berguna.
Kritik itu disampaikan Trump erkait isu permohonan grasi untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Trump menilai Herzog memanfaatkan isu grasi untuk menekan Netanyahu secara politik. “Dia menaruh isu grasi itu di atas kepala Bibi,” ujar Trump.
Menanggapi pernyataan Trump, Netanyahu menegaskan bahwa ia tidak meminta Presiden AS untuk membahas isu grasi.
“Itu urusan dia sendiri. Presiden AS berhak mengatakan apa yang ada di pikirannya,” kata Netanyahu.
Perdana Menteri Israel juga mendukung pandangan Trump bahwa ada elemen perburuan politik dalam kasus hukum yang menimpa dirinya.
Netanyahu menegaskan bahwa ia tidak bertanggung jawab atas kata-kata Trump.
“Herzog bebas memutuskan sendiri, dan yang benar adalah mengakhiri pengadilan ini,” tambahnya.
Kritik Trump ini memicu perhatian internasional, terutama di tengah operasi militer bersama Israel dan AS.
Hubungan antara Gedung Putih dan kepemimpinan Israel pun kembali menjadi sorotan media global.
Sementara itu, mantan penasihat Perdana Menteri Israel, Nir Hefetz, mengungkap kemungkinan skenario politik yang bisa menyelamatkan posisi Benjamin Netanyahu di tengah tekanan hukum dan situasi perang melawan Iran.
Dalam wawancara radio, Hefetz menyebut peluang Netanyahu kembali terpilih sebagai perdana menteri tidak besar, meski masih mungkin terjadi.
Dalam wawancara di radio 103FM, Hefetz menilai kembalinya Yonatan Urich ke kantor perdana menteri memang menguntungkan Netanyahu, tetapi tidak akan mengubah peta politik secara dramatis.
Yonatan Urich meruakan juru bicara utama Netanyahu dan partai Likud saat ini.
Urich dikenal sebagai ahli strategi digital yang mendirikan jaringan sosial untuk IDF dan pendamping Netanyahu dalam beberapa kampanye pemilu.
Ia menjelaskan, Urich lebih berperan sebagai pelaksana kampanye komunikasi, terutama di media digital.
Menurutnya, kemampuan utama Urich ada pada pengelolaan pesan politik dan operasi media sosial, termasuk kampanye negatif.
“Dia bukan orang yang memimpin strategi. Dia pelaksana. Strategi biasanya dipimpin oleh Netanyahu sendiri bersama penasihat lain,” ujarnya dilansir dari Maariv.
Hefetz juga menyebut nama mantan perdana menteri Naftali Bennett sebagai faktor yang bisa menentukan masa depan politik Netanyahu.
Hefetz menduga Bennett bisa saja memilih bergabung dengan Netanyahu dibanding membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab.
Menurut Hefetz, ada kemungkinan tercipta kesepakatan politik tertentu untuk menjaga stabilitas pemerintahan.
“Saya bisa membayangkan skenario, Bennett masuk pemerintahan bersama Netanyahu, mungkin dengan rotasi, disertai kesepakatan politik tertentu. Pertanyaan besarnya adalah soal hukum dan isu wajib militer,” katanya.
Sumber: Suara