DEMOCRAZY.ID – Media Iran memberikan bukti jika Perdna Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah meninggal dunia. Kalau pun masih hidup, Netanyahu diyakin lagi sakit keras.
Kantor Berita Iran, Tasnimnews, memberikan bukti rekaman visual yang menampilkan sosok Benjamin Netanyahu yang disebut sebagai AI.
Selain itu Banyak pihak mulai meragukan keaslian video tersebut setelah ditemukan sejumlah anomali teknis yang sangat mencolok.
“Netanyahu di dunia maya juga memicu spekulasi tentang kemungkinan cedera atau kematiannya, yang telah diangkat di beberapa kalangan berbahasa Ibrani dan Inggris akhir-akhir ini,” tulis Tasnimnews.
IS NETANYAHU DEAD? YOU CAN SEE THIS THING HAS SIX FINGERS ON HIS RIGHT HAND JUST A FEW SECONDS INTO THIS SPEECH, SUPPOSEDLY FROM TODAY.
Also, it talks to fast and animated than recent talks by Netanyahu.
What do you think? pic.twitter.com/j88CI4U4N2— William Ramsey Investigates (@WilliamRamseyIn) March 13, 2026
“Netanyahu öldüğü iddiaları üzerine video paylaştı. Bir cafeden kahve alan Netanyahu, deepfake basın toplantısı iddiaları üzerine ellerini ve parmaklarını gösterdi.”#netanyahu #Iran pic.twitter.com/6h5PIiZgoO
— Medyatex (@medyatex) March 15, 2026
Teknologi kecerdasan buatan atau AI diduga kuat menjadi alat untuk memproduksi konten yang kini sedang viral.
Dalam tayangan itu Netanyahu terlihat sedang memberikan apresiasi mendalam terhadap dukungan Amerika Serikat bagi Israel.
Namun fokus penonton justru teralihkan pada bagian tangan sang Perdana Menteri saat ia sedang berbicara.
Ada hal mengejutkan bahwa jumlah jari pada tangan Netanyahu tampak berjumlah enam buah di layar.
Ketidakteraturan anatomi ini menjadi bukti kuat bahwa video tersebut bukanlah rekaman kamera asli manusia secara langsung.
Secara medis dan alami manusia hanya memiliki lima jari pada masing-masing telapak tangan dalam kondisi normal.
Selain masalah visual detail latar belakang dengan bendera Israel juga dianggap memiliki komposisi warna yang tidak natural.
Kecurigaan publik tidak hanya berhenti pada masalah teknis video yang dianggap sebagai hasil manipulasi digital saja.
Berdasarkan laporan investigasi dari tim Ibrani Tasnim terdapat perubahan pola yang sangat drastis pada kanal pribadinya.
Pada periode konflik sebelumnya Netanyahu tercatat sangat aktif mengunggah konten video asli dirinya hampir setiap hari.
Data menunjukkan bahwa pada perang 12 hari yang lalu ia bisa mengunggah hingga enam konten dalam sehari.
Perbandingan aktivitas media sosial ini memberikan gambaran adanya sesuatu yang sedang disembunyikan oleh pihak otoritas terkait.
“Netanyahu di perang 12 hari yang terjadi pada Juni dan Juli 2025, mengunggah setidaknya satu postingan setiap hari.”
Tercatat total ada 32 unggahan yang mayoritas berupa video testimoni langsung dari dirinya pada masa konflik tersebut.
Namun kondisi pada peperangan kali ini menunjukkan anomali yang sangat kontradiktif dengan kebiasaan lama sang pemimpin.
Jumlah konten yang dibagikan menurun hingga lebih dari lima puluh persen dibandingkan dengan periode masa lalu.
Saat ini sudah memasuki hari ketiga tanpa ada satu pun unggahan baru yang muncul di kanal komunikasi pribadinya.
Hal ini memicu pertanyaan besar mengenai di mana keberadaan fisik pria yang memimpin pemerintahan Israel tersebut sebenarnya.
Para pakar komunikasi digital menyebutkan bahwa video terakhir yang beredar memiliki indikasi kuat buatan sistem algoritma komputer.
Berbeda dengan masa lalu kini konten yang muncul lebih didominasi oleh format teks tertulis tanpa wajah.
Kalaupun ada video yang muncul tidak ada indikator waktu atau lokasi yang jelas untuk memverifikasi keasliannya.
Hingga detik ini belum ada pernyataan klarifikasi yang memadai dari jajaran pemerintahan terkait isu kesehatan ini.
Situasi vakum informasi ini membuat spekulasi mengenai cedera parah atau kemungkinan kematiannya semakin berkembang luas di masyarakat.
Masyarakat global terus menunggu bukti nyata berupa kemunculan fisik secara langsung untuk meredam segala macam teori konspirasi.
Fenomena penggunaan AI dalam propaganda politik kini menjadi ancaman serius bagi kebenaran informasi di era digital.
Sumber: Suara