DEMOCRAZY.ID – Tak ada foto maupun video yang menggambarkan situs-situs militer Israel hancur atau rusak dihantam rudal Iran dalam perang yang dimulai 28 Februari.
Ini bukan karena tak ada situs militer Zionis yang disasar misil Teheran, tapi karena sensor ketat militer di negara Yahudi tersebut.
Tak main-main, tentara maupun warga sipil dapat terancam hukuman penjara hingga lima tahun jika membagikan video di media sosial tentang situs-situs militer yang terkena serangan.
Ancaman tersebut berdasarkan Pasal 103 dari Israeli Penal Law 5737-1977 tentang pemberlakuan sensor.
Peraturan ini berlaku jika sebuah publikasi, termasuk unggahan di media sosial dianggap membocorkan informasi militer sensitif, mengungkap lokasi strategis, atau membantu musuh memahami kerusakan akibat serangan, maka pelaku dapat dikenakan hukuman penjara hingga lima tahun, tergantung tingkat ancaman terhadap keamanan negara.
Dalam beberapa konflik terakhir, militer Israel berulang kali memperingatkan warga agar tidak mengunggah foto atau video lokasi jatuhnya rudal musuh, kerusakan akibat serangan, maupun posisi sistem pertahanan udara.
Informasi semacam itu dinilai bisa dimanfaatkan oleh musuh, termasuk Iran dan kelompok proksinya, untuk menganalisis akurasi serangan mereka.
Bahkan unggahan sederhana dari kota seperti Tel Aviv dapat memberikan petunjuk penting mengenai lokasi target atau efektivitas sistem pertahanan Israel.
Dalam era perang modern, media sosial dianggap sebagai sumber open-source intelligence yang sangat berharga.
Foto atau video yang diunggah warga biasa dapat membantu musuh membaca situasi di lapangan secara real time.
Selain Pasal 103, hukum pidana Israel juga memiliki sejumlah pasal lain yang berkaitan dengan keamanan negara.
Dalam beberapa kasus, penyebaran informasi sensitif bahkan dapat dijerat dengan pasal pemberian informasi kepada musuh, yang ancaman hukumannya bisa mencapai 10 hingga 15 tahun penjara.
Karena itu, otoritas keamanan Israel secara rutin mengimbau warga agar tidak membagikan informasi terkait operasi militer atau dampak serangan sebelum diumumkan secara resmi oleh pihak militer.
Situasi ini menciptakan paradoks. Di satu sisi, warga Israel mendengar sirene peringatan, melihat sistem pertahanan udara bekerja, dan mengetahui bahwa rudal Iran terus diluncurkan.
Namun di sisi lain, detail tentang dampak nyata dari serangan tersebut sering kali tidak muncul secara terbuka di media.
Beberapa laporan media internasional dan regional bahkan menyebut bahwa kerusakan yang terjadi di Israel mungkin lebih besar daripada yang terlihat di ruang publik.
Tetapi karena sensor militer, informasi tersebut jarang muncul secara rinci di media Israel.
Akibatnya, muncul dua narasi besar. Pertama, narasi resmi Israel—di mana sebagian besar rudal berhasil dicegat dan kerusakan yang terjadi bersifat terbatas.
Kedua, narasi alternatif: dampak serangan mungkin lebih besar, tetapi tidak dipublikasikan karena sensor militer.
Praj Mohan Singh, seorang jurnalis India yang baru kembali dari Israel, mengungkap fakta tentang sensor tersebut.
Singh mengatakan otoritas Israel membatasi liputan tentang dampak serangan Iran.
Menurutnya, para jurnalis tidak dapat mengakses rumah sakit yang berisi jenazah atau merekam lokasi kehancuran akibat serangan rudal dan drone Iran.
Singh mengatakan beberapa rudal Iran bahkan menghantam tanpa sirene peringatan berbunyi. Ini bertentangan dengan jaminan resmi rezim Zionis.
Kementerian Kesehatan Israel mengatakan 13 orang tewas dan 1.929 luka-luka dalam serangan balasan Iran sejak 28 Februari.
“Pemerintah (Israel) tidak akan memberi tahu Anda apa pun, Anda tidak dapat mengunjungi rumah sakit yang berisi jenazah, dan ketika terjadi insiden, kami bahkan tidak tahu di mana itu terjadi,” katanya kepada Al Jazeera.
Menurut Singh, otoritas pendudukan Israel juga mencegah jurnalis untuk merekam kerusakan yang disebabkan oleh serangan Iran.
Kesaksiannya telah beredar luas di platform media sosial, di mana para pengguna menggambarkannya sebagai bukti sensor militer Israel yang ketat selama perang terbaru ini.
Singh menggambarkan apa yang menurutnya merupakan perbedaan antara pernyataan resmi Zionis Israel dan kondisi di lapangan.
“Rudal Iran terkadang menyerang tanpa sirene peringatan,” katanya.
Menurut Singh, beberapa warga sipil tewas bahkan di dalam tempat perlindungan meskipun pemerintah Israel telah menjamin bahwa fasilitas tersebut akan memberikan perlindungan.
Hanya saja, kata dia, para wartawan dicegah untuk mendokumentasikan kerusakan tersebut.
Contoh kejanggalan lain adalah NBC News merekam rudal-rudal Iran menghantam Tel Aviv.
Tapi, anehnya informasi tentang lokasi dampak dan tingkat kerusakan tidak diungkapkan secara publik.
Laporan sebelumnya oleh Al-Jazeera Open Source Unit menganalisis foto udara yang diterbitkan oleh platform Israel yang tidak tunduk pada sensor militer.
Analisis tersebut mengidentifikasi lokasi serangan rudal di kompleks perumahan.
Menurut laporan tersebut, rudal tersebut langsung menghantam tempat perlindungan, menyebabkan kerusakan luas pada rumah-rumah di sekitarnya.
Media Israel juga menerbitkan kesaksian dari penduduk di Beit Shemesh, di mana orang-orang menggambarkan kekuatan serangan rudal Iran.
Beberapa penduduk mempertanyakan apakah sistem peringatan dini memberikan cukup waktu untuk mencapai tempat-tempat yang terlindungi.
Meskipun militer mengatakan peringatan telah diaktifkan, beberapa saksi mengatakan penduduk tidak memiliki cukup waktu untuk mencapai tempat perlindungan sebelum dampak terjadi.
Liputan media berbeda dengan kondisi Iran. Media-media Teheran secara terbuka melaporkan bahwa agresi gabungan AS-Israel telah menewaskan lebih dari 1.200 orang di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dan melukai lebih dari 10.000 lainnya.
Contoh nyata terjadi ketika jurnalis CNN melakukan siaran langsung.
Selama liputan serangan rudal Iran dan peluncuran pencegat Israel di Tel Aviv, jurnalis tersebut secara tak sengaja mengatakan lokasi tertentu tidak dapat ditampilkan karena pembatasan.
Jurnalis itu mengatakan dalam siaran langsungnya bahwa pemerintah Israel tidak mengizinkan jurnalis untuk menunjukkan lokasi tertentu, khususnya tempat peluncuran rudal pencegat.
“Kami tidak menunjukkan itu kepada Anda…, karena pemerintah Israel tidak mengizinkan kami atau tidak ingin kami menunjukkan dari mana itu mungkin berasal,” katanya.
Setelah pengakuan itu ditayangkan, beberapa pengguna media sosial bereaksi keras.
Salah satu komentar pengguna media sosial berbunyi: “LOL mereka baru saja mengakui di siaran langsung TV bahwa Israel MENGONTROL media dan outlet berita Amerika.”
Pengguna lain mendesak para jurnalis untuk tidak menahan diri dengan mengatakan, “@CNN Laporkan kebenaran. Jangan menahan diri! Itu adalah tanggung jawab Anda sebagai jurnalis.”
Sumber: SINDO