Dampak Hebat Perang AS-Iran: Minyak Meroket hingga Harga BBM RI Terseret!

DEMOCRAZY.ID – Eskalasi militer antara koalisi Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang kini telah berlangsung sekitar sepekan mulai memicu guncangan luar biasa pada perekonomian global.

Tidak lagi sekadar memantik ketegangan geopolitik, perang ini telah menciptakan kelumpuhan operasional nyata yang mengancam ketahanan energi, logistik, hingga bahan baku industri di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tertutupnya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dan hancurnya sejumlah infrastruktur energi di kawasan Teluk membuat rantai pasokan dunia lumpuh.

Kondisi ini membawa mimpi buruk baru bagi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih, memicu kekhawatiran bahwa dampak perang ini akan jauh lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid-19.

Harga Minyak Menuju US$ 100 per Barel

Dampak paling instan langsung menghantam pasar energi global. Konflik ini telah melumpuhkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam dunia.

Akibat terhentinya aktivitas di Selat Hormuz, jalur yang dilalui seperlima produksi minyak dunia, sekitar 140 juta barel minyak atau setara 1,4 hari kebutuhan minyak dunia, tertahan.

Fasilitas penyimpanan di kawasan Teluk mulai penuh, memaksa negara produsen seperti Irak memangkas produksi.

Harga minyak dunia pun merespons dengan beringas, melonjak 24% sepanjang pekan ini hingga menembus level US$ 90 per barel.

Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, William Jackson, memperingatkan bahwa harga minyak dapat meroket lebih tinggi.

“Jika konflik berkepanjangan dan terutama jika mempengaruhi pasokan minyak secara nyata, baik akibat gangguan pasokan Iran maupun upaya Iran untuk memblokir Selat Hormuz, hal itu dapat menyebabkan harga minyak melonjak, mungkin hingga sekitar US$100 per barel (sekitar Rp1,22 juta),” kata William Jackson, kepala ekonom pasar negara berkembang di Capital Economics, dalam catatan kepada klien, Selasa (10/3/2026).

Senada dengan itu, analis JP Morgan menegaskan dinamika pasar telah berubah drastis.

“Pasar kini bergeser dari sekadar memperhitungkan risiko geopolitik menjadi menghadapi gangguan operasional yang nyata, ketika penutupan kilang dan pembatasan ekspor mulai mengganggu pengolahan minyak mentah serta aliran pasokan regional,” tulis analis JP Morgan dalam catatan riset, dikutip dari Reuters, pada Selasa (10/3/2026).

Krisis energi ini diperparah dengan status force majeure yang diumumkan Qatar untuk ekspor gasnya pasca-serangan drone Iran.

Padahal, Qatar memasok sekitar 20% kebutuhan gas alam cair (LNG) dunia.

Kekacauan Penerbangan dan Logistik Udara

Di sektor transportasi, perang ini memicu gangguan terbesar bagi industri penerbangan sejak pandemi Covid-19.

Penutupan wilayah udara di kawasan Timur Tengah membuat dua hub transit terbesar di dunia, Bandara Dubai dan Doha, terdampak parah.

Tercatat sekitar 40.000 penerbangan dibatalkan, menelantarkan puluhan ribu penumpang.

Kondisi ini membuat harga avtur melonjak hingga dua kali lipat sejak konflik pecah, memaksa maskapai memutar rute dan menaikkan harga tiket penerbangan secara drastis, khususnya untuk rute Asia-Eropa.

Kapasitas kargo udara yang menyusut juga membuat biaya pengiriman logistik internasional, mulai dari komponen otomotif hingga produk segar melambung tinggi.

Efek Domestik: Harga BBM dan Kewaspadaan Jelang Lebaran

Di dalam negeri, perang yang berkecamuk di tengah momen bulan suci Ramadhan dan menjelang Lebaran ini mulai meresahkan masyarakat.

Di tengah ketidakpastian global, banyak warga memilih mengerem pengeluaran dan melakukan penghematan karena khawatir akan terjadinya lonjakan harga kebutuhan pokok.

Saat ini, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi di Indonesia telah mengalami penyesuaian kenaikan pasca-gejolak Timur Tengah.

Meski demikian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim stok BBM, minyak mentah, dan LPG domestik masih aman untuk setidaknya tiga pekan ke depan.

Untuk menyiasati kebuntuan jangka pendek, Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan skema pengalihan impor minyak dari Timur Tengah ke negara lain, termasuk Amerika Serikat.

Para pengamat ekonomi juga mendesak pemerintah untuk segera menyiapkan skenario darurat fiskal, termasuk mengevaluasi kembali program-program yang menelan anggaran jumbo.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya