DEMOCRAZY.ID – Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran menjadi salah satu prediksi geopolitik yang disampaikan akademisi China, Prof Jiang Xueqin.
Prediksi itu sebelumnya disampaikan Prof Jiang pada tahun 2024.
Dalam sebuah kuliah, Prof Jiang menjelaskan pandangannya mengenai tiga prediksi terkait dinamika politik global.
Prediksi pertama adalah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.
Prediksi kedua, Amerika Serikat akan terlibat perang dengan Iran.
Adapun prediksi ketiga, menurut Jiang, Amerika Serikat pada akhirnya akan gagal memenangkan perang tersebut.
“Dalam kelas itu saya membuat tiga prediksi besar. Pertama, Trump akan menang pada November. Kedua, Amerika akan pergi berperang melawan Iran. Ketiga, Amerika akan kalah dalam perang itu,” ujar Jiang dalam video yang diunggah di akun TikTok @infinitephoenix2015.
Dalam video, Prof Jiang menunjukkan alasan prediksinya tepat.
Dimulai dari kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS dan perang antara AS-Israel VS Iran.
Termasuk prediksinya soal AS yang akan kalah perang terhdap Iran.
Menurut Jiang, dinamika konflik yang berkembang saat ini menunjukkan Iran memiliki sejumlah keuntungan strategis dibandingkan Amerika Serikat.
Ia menilai konflik tersebut pada dasarnya merupakan perang langsung antara Washington dan Teheran, dengan Iran telah mempersiapkan diri selama puluhan tahun.
“Saya melihat Iran memiliki keunggulan dalam cara mereka mempersiapkan konflik ini. Selama sekitar 20 tahun mereka menyiapkan strategi dan latihan militer,” kata Jiang.
Ia juga menilai Iran memanfaatkan jaringan sekutu dan kelompok proksi di kawasan, seperti kelompok Houthi di Yaman serta Hezbollah dan Hamas di Timur Tengah, untuk memahami pola respons militer Amerika Serikat.
Menurutnya, pengalaman konflik sebelumnya juga memberi Iran waktu untuk mengevaluasi kemampuan serangan dan pertahanan lawan.
Jiang menjelaskan bahwa strategi Iran tidak hanya bertumpu pada konfrontasi militer langsung, tetapi juga menargetkan infrastruktur vital di kawasan Teluk, khususnya negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC).
Infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi air, kata dia, menjadi titik lemah yang berpotensi dimanfaatkan.
“Fasilitas desalinasi air merupakan sumber utama pasokan air bagi negara-negara Teluk. Jika infrastruktur ini terganggu, dampaknya bisa sangat besar bagi stabilitas kawasan,” ujarnya.
Selain itu, Jiang menilai konflik tersebut berpotensi memicu dampak ekonomi global yang luas.
Negara-negara Teluk selama ini memainkan peran penting dalam pasar energi dunia serta investasi global, termasuk pada sektor teknologi dan pusat data.
Menurutnya, gangguan terhadap produksi dan distribusi energi di kawasan dapat berdampak pada stabilitas ekonomi global, termasuk investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat.
Di sisi lain, Jiang juga menyoroti perbedaan biaya dalam penggunaan teknologi militer modern. Ia menyebut perang modern menunjukkan ketimpangan antara biaya senjata murah seperti drone dengan sistem pertahanan berteknologi tinggi yang jauh lebih mahal.
“Strategi militer Amerika selama ini bertumpu pada teknologi yang sangat canggih dan mahal. Ini membuat perang modern menjadi sangat asimetris dalam hal biaya,” kata dia.
Lebih jauh, Jiang menilai salah satu skenario yang paling berisiko bagi Amerika Serikat adalah apabila konflik berkembang menjadi operasi militer darat di Iran.
Menurutnya, sejarah menunjukkan perubahan rezim di suatu negara hampir tidak pernah berhasil hanya melalui serangan udara tanpa keterlibatan pasukan darat.
“Jika tujuan akhirnya adalah perubahan rezim, maka secara historis hal itu membutuhkan pasukan darat. Itu yang membuat situasi ini menjadi sangat kompleks,” ujarnya.
Jiang juga menilai dinamika geopolitik kawasan tidak terlepas dari kepentingan sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk Saudi Arabia dan Israel, yang memiliki kepentingan strategis terhadap perkembangan situasi di Iran.
Menurutnya, kedua negara tersebut memiliki kepentingan besar terhadap perubahan politik di Iran, mengingat rivalitas geopolitik yang telah berlangsung lama di kawasan.
Meski demikian, Jiang menekankan bahwa perkembangan konflik masih sangat dinamis dan sulit diprediksi secara pasti.
Namun, ia menilai eskalasi yang terus berlangsung berpotensi mengubah peta geopolitik global dalam jangka panjang.
Iran mengklaim berhasil menghancurkan penampungan bawah tanah terbesar di Tel Aviv, Israel.
Klaim itu disampaikan media nasional Iran Press Tv pada Senin (9/3/2026) sambil membuat sebuah bangunan yang terbakar hebat.
Disebutkan bahwa bangunan yang terbakar merupakan ruang perlindungan bawah tanah terbesar di Tel Aviv.
“Rekaman yang beredar dilaporkan menunjukkan tempat perlindungan bawah tanah terbesar di Tel Aviv dan lingkungan sekitarnya terbakar setelah serangan rudal Iran,”
Hingga berita ini dimuat belum ada jawaban terkait dengan klaim media Iran tersebut.
Namun demikian, Times New India melaporkan bahwa ruang bawah tanah tersebut merupakan penampungan bawah tanah para pejabat Israel.
Disebutkan bangunan tersebut merupakan salah satu tempat perlindungan bawah tanah paling rahasia di kota itu, yang diyakini digunakan oleh para pemimpin Israel selama masa perang.
Akibat lontaran rudal Iran tersebut, terjadi kebakaran besar, membakar kendaraan dan menyebarkan puing-puing di jalan-jalan terdekat.
Fasilitas tersebut merupakan bagian dari jaringan pertahanan sipil Israel yang dilindungi oleh sistem seperti Iron Dome.
Sebelumnya Iran juga mengaku berhasil membobol Iron Dome.
Pelaksanaan gelombang ke-29 Operasi Janji Sejati 4 menunjukkan bahwa Iran tidak hanya mempertahankan kemampuannya untuk melanjutkan serangan dalam jangka panjang, tetapi juga mengakui telah berhasil menembus sistem radar musuh.
Hal ini membuat Iran merasa lebih mudah menghancurkan target.
Iran juga mengklaim bahwa semua rudal yang ditembakkan mengenai sasaran yang dituju.
Yang membuat klaim ini lebih serius adalah penggunaan rudal multiple-reentry vehicle (MIRV), yang secara eksponensial meningkatkan kemampuan untuk menembus perisai rudal.
Sementara itu dilaporkan Times News Israel pada Minggu (8/3/2026) sebanyak enam orang terluka karena serangan rudal Iran.
Satu dari enam warga tersebut kritis.
Israel menduga Iran menggunakan hulu ledak kluster pada Minggu sore.
Layanan ambulans Magen David Adom mengatakan seorang pria berusia 40-an mengalami luka serius di Tel Aviv.
Di Petah Tikva, lima orang lainnya terluka, termasuk seorang pria berusia 25 tahun dengan kondisi luka sedang dan tiga orang dalam kondisi luka ringan.
Polisi menduga serangan sporadis Iran tersebut menunjukkan bahwa rudal balistik Iran kemungkinan membawa hulu ledak bom tandan.
Iran telah meluncurkan sejumlah rudal balistik ke Israel yang membawa hulu ledak bom tandan selama konflik yang sedang berlangsung, menyebarkan bom-bom kecil secara sembarangan di wilayah yang luas di negara tersebut.
Bom tandan adalah jenis senjata yang ketika dijatuhkan atau ditembakkan akan membuka di udara dan menyebarkan puluhan hingga ratusan bom kecil (submunisi) ke area yang luas.
Sebuah tamparan keras menghantam sistem pertahanan udara Amerika Serikat di Timur Tengah.
Di tengah eskalasi yang kian tak terkendali, sebuah sistem radar AN/TPY-2 yang menjadi ‘mata’ bagi unit pertahanan rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) milik AS dilaporkan media Tasnim News, hancur total akibat serangan presisi Iran.
Hancurnya aset senilai $300 juta atau sekitar Rp4,7 triliun di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania ini, bukan sekadar kerugian materi.
Ini adalah lubang besar pada perisai langit yang selama ini dibanggakan Washington untuk melindungi aset-aset strategisnya di kawasan Teluk.
Detik-Detik Jebolnya Pertahanan Canggih
Berdasarkan citra satelit komersial yang dianalisis oleh CNN, puing-puing radar canggih buatan RTX Corp tersebut terlihat berserakan bersama peralatan pendukung lainnya.
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya akhirnya mengakui bahwa Iran berhasil menembus pertahanan berlapis yang selama ini diklaim tak tertembus.
Sistem THAAD dirancang khusus untuk mencegat rudal balistik di batas atmosfer—target yang jauh lebih sulit dibandingkan kemampuan sistem Patriot.
Dengan lumpuhnya radar TPY-2, beban pertahanan kini jatuh sepenuhnya ke pundak sistem Patriot.
Masalahnya, stok rudal pencegat PAC-3 milik AS saat ini dilaporkan sangat terbatas.
“Jika serangan ini benar-benar sukses, ini akan tercatat sebagai serangan paling mematikan bagi supremasi militer AS di kawasan sejauh ini,” ujar Ryan Brobst, wakil direktur dari Foundation for the Defense of Democracies.
Peringatan Keras Teheran: Jangan Pinjamkan Tanahmu untuk Musuh
Seiring dengan keberhasilan serangan tersebut, Teheran mengirimkan pesan yang menggetarkan bagi negara-negara tetangga.
Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, juru bicara senior Angkatan Bersenjata Iran, menegaskan bahwa negara mana pun yang memfasilitasi serangan AS atau Israel ke wilayah Iran akan dianggap sebagai target sah.
Narasi Shekarchi bukan sekadar gertakan.
Baca juga: Front Reformis Iran Desak Pemimpin Baru Usai Kematian Khamenei, Ingatkan Bahaya Kekuasaan Satu Faksi
Ia menekankan bahwa keamanan negara-negara Muslim sebenarnya saling berkaitan, namun persaudaraan itu akan putus jika wilayah udara atau darat digunakan oleh pihak asing untuk menyerang Republik Islam.
“Kami telah membuktikan bahwa setiap lokasi yang dijadikan titik awal serangan terhadap Iran adalah target militer yang sah. Negara yang tidak memberikan sumber daya kepada musuh akan aman, namun bagi yang mengizinkan wilayahnya digunakan, bersiaplah menghadapi konsekuensi,” tegas Shekarchi dalam pernyataan resminya, Sabtu (7/3/2026).
Hancurnya radar ini menciptakan efek domino bagi moral prajurit di lapangan.
Dengan hanya delapan sistem THAAD yang beroperasi di seluruh dunia, termasuk di Korea Selatan dan Guam, kehilangan satu unit radar berarti membutakan kemampuan deteksi dini yang sangat krusial.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah perang akan meluas, melainkan seberapa siap pangkalan-pangkalan AS lainnya menghadapi gelombang serangan berikutnya setelah ‘mata’ mereka kini telah buta.
Sumber: Tribun