5 FAKTA Mojtaba Khamenei: Jebolan Perang Iran-Irak, Nikahi Anak Politisi Senior Iran

DEMOCRAZY.ID – Majelis Ahli Iran resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Ia menggantikan ayahnya, Ali Khamenei yang meninggal dunia akibat serangan AS-Israel.

Dalam pernyataan resminya, Majelis Ahli menegaskan bahwa proses suksesi kepemimpinan tetap berjalan meskipun Iran berada dalam situasi genting.

“Proses penunjukan pemimpin tidak akan terhenti meski negara berada dalam kondisi perang dan menghadapi ancaman langsung dari musuh,” demikian pernyataan lembaga tersebut.

Mojtaba Khamenei dikenal sebagai sosok misterius namun berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran.

Ia lahir pada 8 September 1969 di Mashhad dan merupakan anak kedua dari Ali Khamenei.

Dalam sejumlah laporan media Iran, Mojtaba disebut memiliki pengaruh besar di lingkungan kantor pemimpin tertinggi, Garda Revolusi Iran, serta lembaga keamanan negara.

Meski jarang tampil di publik, namanya kerap disebut dalam berbagai keputusan politik penting.

Fakta pertama, setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Sekolah Alavi, Mojtaba melanjutkan studi agama di Hauzah Qom.

Di sana ia belajar dari sejumlah ulama konservatif ternama seperti Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi dan Lotfollah Safi Golpayegani.

Fakta kedua, pada masa muda, Mojtaba juga dikabarkan ikut terlibat dalam Perang Iran–Irak.

Menurut sejumlah sumber yang dekat dengan Garda Revolusi, ia bergabung dengan batalion Habib ibn Mazahir dari divisi Muhammad Rasulullah.

Beberapa mantan komandan militer bahkan menyebut Mojtaba ikut hadir dalam sejumlah operasi militer. Salah satunya operasi Beit al-Moqaddas dan Mersad pada akhir perang Iran–Irak.

Salah satu komandan militer Iran, Nourali Shoushtari, pernah mengenang keberanian Mojtaba saat berada di garis depan.

“Saat operasi berlangsung, ia bersikeras ikut menuju garis depan meski kami mencoba menahannya,” ujarnya dalam sebuah catatan militer seperti dikutip dari DW.

Fakta ketiga, di luar kehidupan militer, Mojtaba juga memiliki hubungan keluarga yang kuat dengan elite politik Iran.

Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad Adel, putri politisi senior Iran Gholam-Ali Haddad Adel.

Pernikahan tersebut berlangsung pada akhir 1990-an dan menghasilkan tiga anak. Haddad Adel pernah mengenang proses pernikahan itu dengan sederhana.

“Setelah keluarga datang dan berbicara, kami menanyakan pendapat putri kami. Ia setuju dan pernikahan pun dilangsungkan,” kata Haddad Adel.

Fakta keempat, dalam dua dekade terakhir, Mojtaba disebut semakin berpengaruh di balik layar politik Iran.

Sejumlah pejabat Iran bahkan menyebut ia kerap meminta laporan dari berbagai lembaga pemerintahan.

Seorang mantan pejabat media Iran pernah mengatakan, “Kami diminta memberikan analisis tentang situasi universitas kepada Agha Mojtaba.”

Fakta kelima, namanya juga sempat mencuat dalam kontroversi politik Iran, terutama terkait pemilihan presiden 2005 yang membawa Mahmoud Ahmadinejad ke tampuk kekuasaan.

Sejumlah tokoh oposisi saat itu menuduh Mojtaba memiliki peran di balik layar dalam proses politik tersebut.

Meski jarang berbicara di publik, pengaruh Mojtaba juga disebut terlihat dalam hubungan dengan sejumlah tokoh militer Iran, termasuk mantan komandan Pasukan Quds, Qasem Soleimani.

Dalam beberapa laporan yang beredar, pejabat militer Iran menyebut Mojtaba mendukung berbagai program militer strategis negara.

Dukungan tersebut termasuk dalam pengembangan program rudal dan drone Iran.

Selain pengaruh politik dan militer, Mojtaba juga disebut memiliki peran dalam pengelolaan jaringan ekonomi besar yang terkait dengan lembaga-lembaga di bawah otoritas pemimpin tertinggi Iran.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya