DEMOCRAZY.ID – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencoba menunjukkan ‘taji’ negaranya di hadapan sekutu utamanya, Amerika Serikat.
Dalam sebuah laporan yang dirilis The Washington Post pada Minggu (8/3/2026), Netanyahu sesumbar kepada Presiden AS Donald Trump bahwa militer Israel siap melancarkan agresi ke Iran tanpa bantuan langsung dari pasukan Paman Sam.
Meski mencoba terlihat mandiri secara militer, Netanyahu nyatanya tetap tak bisa lepas dari bayang-bayang Washington.
Pejabat yang dikutip laporan tersebut menyebutkan bahwa Netanyahu tetap ‘merengek’ meminta restu dan persetujuan politik dari Trump sebelum tombol operasi militer benar-benar ditekan.
Ketegangan ini mencapai puncaknya melalui sambungan telepon pada akhir Februari lalu. Netanyahu dilaporkan menyodorkan data intelijen presisi mengenai lokasi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta lingkaran dalamnya.
Berbekal informasi tersebut, Netanyahu berhasil meyakinkan Trump untuk memberikan lampu hijau bagi operasi militer gabungan.
Tepat pada 28 Februari, agresi udara diluncurkan ke sejumlah titik strategis di Iran, termasuk jantung kota Teheran.
Serangan yang diklaim sebagai tindakan ‘pencegahan’ terhadap program nuklir Iran itu nyatanya meninggalkan jejak kehancuran hebat dan jatuhnya korban sipil yang tak sedikit.
Dunia internasional pun tersentak. Pada hari pertama operasi militer tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur.
Iran langsung menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Namun, Teheran tidak tinggal diam. Sebagai bentuk pertahanan diri, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar wilayah pendudukan Israel dan berbagai fasilitas militer AS yang tersebar di seantero Timur Tengah.
Eskalasi ini membuktikan bahwa manuver ‘percaya diri’ Netanyahu justru menyeret kawasan tersebut ke dalam jurang perang yang lebih luas.
Awalnya, AS dan Israel berdalih serangan ini hanya untuk mengeliminasi ancaman nuklir.
Namun, seiring berjalannya waktu, niat asli keduanya terkuak: mereka menginginkan keruntuhan rezim di Teheran.
Langkah provokatif ini memancing kecaman keras dari Moskow.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia pun mendesak penghentian segera permusuhan guna mencegah deeskalasi yang semakin liar.
Kini, meskipun Netanyahu berupaya mengecilkan peran sekutunya dalam narasi ‘serangan mandiri’, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Israel tetap berada di bawah ketiak AS dalam menghadapi badai perlawanan dari Republik Islam Iran.
Sumber: Inilah