DEMOCRAZY.ID – Genap delapan hari sudah bara api menyelimuti Timur Tengah.
Apa yang bermula dari saling serang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, kini resmi bermutasi menjadi perang regional yang mengerikan.
Eskalasi kian tak terkendali setelah Iran melancarkan gempuran balasan ke sejumlah negara Arab yang dianggap sebagai kaki tangan Washington.
Kini, peta kekuatan mulai bergeser. Inggris (UK) secara resmi telah memberikan lampu hijau bagi AS untuk menggunakan pangkalan militernya di Siprus.
Langkah ini menandakan bahwa Barat sedang mempersiapkan operasi udara yang jauh lebih masif dan sistematis.
Dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Presiden AS Donald Trump tampil dengan gaya yang jauh dari pakem kepresidenan tradisional.
Mengenakan topi bisbol putih dan kemeja santai, Trump menyampaikan pesan video yang sangat agresif.
Baginya, kemenangan bukan lagi sekadar negosiasi, melainkan penghancuran total.
“Kami akan melumat rudal-rudal mereka dan meratakan industrinya hingga ke tanah,” tegas Trump.
Ia berambisi menghancurkan Angkatan Laut Iran dan melumpuhkan seluruh proksi teroris di kawasan agar tidak ada lagi ancaman bom pinggir jalan (IED) yang membunuh tentara Amerika.
Namun, Trump sedang melakukan pertaruhan besar.
Ia mendorong rakyat Iran untuk turun ke jalan dan merebut kekuasaan saat serangan udara AS berlangsung.
Masalahnya, sejarah mencatat belum pernah ada pergantian rezim yang sukses hanya mengandalkan serangan udara tanpa pengerahan pasukan darat secara masif—seperti yang terjadi di Irak (2003) atau Libya (2011).
Di Tel Aviv, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berdiri di atas atap gedung, memandang cakrawala dengan satu target: menghancurkan ‘rezim teror’ yang telah ia musuhi selama 40 tahun.
Bagi Netanyahu, perang ini adalah jalan penebusan. Ia memikul beban berat atas kegagalan intelijen pada serangan Hamas, 7 Oktober 2023 lalu.
Dengan pemilu yang membayangi di akhir tahun ini, kemenangan telak atas Iran adalah satu-satunya tiket bagi Netanyahu untuk tetap tak terkalahkan secara politik.
Ia ingin memastikan militer Iran tidak lagi mampu membangun kekuatan milisi yang bisa mengancam perbatasan Israel.
Meskipun AS dan Israel mengklaim telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Teheran bukanlah rezim ‘satu orang’ layaknya Gaddafi di Libya atau keluarga Assad di Suriah.
Republik Islam Iran dibangun di atas jaringan institusi politik dan agama yang sangat kompleks.
Definisi kemenangan bagi Teheran adalah bertahan hidup. Mereka memiliki perisai yang sangat tebal:
Dunia internasional patut cemas. Iran adalah negara raksasa dengan populasi lebih dari 90 juta jiwa—tiga kali lipat ukuran Irak.
Jika rezim ini runtuh secara paksa tanpa adanya pengganti yang teratur, Timur Tengah terancam menjadi ‘negara gagal’ raksasa.
Skenario terburuknya adalah perang saudara berkepanjangan seperti di Suriah yang bisa menewaskan ratusan ribu jiwa.
Pertaruhan Trump bahwa perang ini akan membuat dunia lebih aman jelas sangat menantang, mengingat luka di Irak dan Libya yang hingga kini belum juga mengering.
Sumber: Inilah