DEMOCRAZY.ID – Rekam jejak komunikasi publik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, kini jadi sorotan, terutama saat tensi geopolitik di Timur Tengah sedang membara.
Menyoroti gaya komunikasi Trump sebenarnya bukan upaya mencari-cari kesalahan, melainkan sebuah kewajaran diplomatik.
Catatan dari masa jabatan pertamanya menunjukkan pola yang sama, rentetan pernyataannya kerap dibalut klaim tidak akurat atau menyesatkan.
Analisis mendalam dari The Washington Post pada 2021 memberikan angka yang cukup mencengangkan bagi nalar publik.
Selama empat tahun masa kepresidenannya, Trump tercatat memproduksi sekitar 30.573 klaim palsu atau menyesatkan.
Data ini mencakup periode sejak ia dilantik pada 20 Januari 2017 hingga masa jabatannya berakhir pada 20 Januari 2021.
Jika dirata-ratakan, ia memproduksi sekitar 21 klaim tidak akurat setiap hari.
Pertanyaannya, bagaimana Indonesia harus bersikap jika mitra strategisnya memiliki frekuensi ketidakjujuran sedemikian tinggi?
Salah satu narasi yang paling sering ia jual adalah klaim bahwa pemerintahannya berhasil membangun ekonomi terbesar dalam sejarah dunia.
Berdasarkan analisis data, frasa ini ia ucapkan setidaknya 493 kali melalui berbagai kanal, mulai dari pidato resmi hingga unggahan di media sosial.
Trump juga berulang kali menyatakan bahwa pemerintahannya menjalankan pemotongan pajak terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat.
Pernyataan itu bahkan tetap ia kumandangkan dalam pidato perpisahan yang emosional.
“Kami melakukan pemotongan pajak terbesar dan reformasi terbesar dalam sejarah negara kami,” ujar Trump saat berpidato di Joint Base Andrews sebelum meninggalkan Gedung Putih.
Namun, laporan The Independent justru membedah realita yang berbeda. Pemotongan pajak pada era Trump faktanya hanya berkisar 0,9 persen.
Angka ini justru dua persen lebih kecil dibandingkan kebijakan serupa pada era Ronald Reagan di dekade 1980-an.
Tak hanya soal pajak, Trump kerap memoles citra stabilitas lapangan kerja. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan guncangan hebat saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020.
Pada April tahun itu, tingkat pengangguran di Amerika Serikat justru melonjak hingga sekitar 14 persen, angka tertinggi sejak era Great Depression.
Lonjakan klaim yang menyesatkan ini bahkan mencapai titik puncaknya menjelang Pilpres AS 2020. Pada Oktober 2020 saja, tercatat 3.917 pernyataan yang dinilai tidak akurat.
Sementara rekor harian pecah pada 2 November 2020 atau sehari sebelum pemungutan suara, saat itu ia melontarkan 503 komentar yang dinilai salah atau menyesatkan.
Bagi Indonesia, deretan data ini adalah sinyal kuning.
Di tengah ketidakpastian global, mengandalkan janji atau pernyataan dari sosok dengan reputasi kontroversial terpanjang dalam sejarah politik modern Amerika, tentu membutuhkan kalkulasi yang sangat matang.
Jangan sampai, diplomasi kita hanya berujung pada mengejar bayang-bayang klaim yang tak pernah menginjak bumi.
Sumber: Inilah