Israel Panik! Netanyahu Mulai Khawatir Trump ‘Main Belakang’ dengan Iran

DEMOCRAZY.ID – Di tengah perang yang berkecamuk di Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan khawatir pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump menjalin pembicaraan rahasia dengan Iran.

Menurut laporan Axios, Netanyahu mendekati Gedung Putih setelah menerima intelijen yang menyebut pemerintahan Trump berbicara dengan Iran mengenai kemungkinan gencatan senjata.

Gedung Putih menegaskan kepada Netanyahu bahwa tidak ada pembicaraan semacam itu.

Kecurigaan ini menyinggung potensi gesekan antara sekutu yang baru saja melancarkan serangan bersama terhadap rezim Iran.

Netanyahu diyakini khawatir perang berakhir sebelum Israel mencapai tujuan militernya.

The New York Times melaporkan bahwa intelijen Iran sempat menghubungi CIA untuk membahas syarat mengakhiri perang, namun tawaran itu dipandang skeptis oleh AS.

Netanyahu kemudian kembali mendekati Gedung Putih dan diyakinkan bahwa tidak ada komunikasi dengan Teheran.

Seorang pejabat AS menyebut utusan perdamaian Steve Witkoff dan Jared Kushner berbicara dengan Netanyahu hampir setiap hari. Mereka menegaskan: “Kami tidak berbicara dengan Iran.”

Trump sendiri menolak pembicaraan dengan rezim Iran.

Di Truth Social ia menulis: “Pertahanan udara, angkatan udara, angkatan laut, dan kepemimpinan mereka sudah hancur. Mereka ingin berbicara. Saya bilang ‘terlambat!’”

Pemerintahan Trump menyatakan tujuan perang adalah menghancurkan program nuklir, kemampuan rudal balistik, dan angkatan laut Iran, serta melemahkan kelompok proksi mereka di Timur Tengah.

Meski tidak secara eksplisit menyebut ingin mengganti rezim, Trump menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan: “Itu akan menjadi milik kalian.”

Israel, sebaliknya, menargetkan tokoh-tokoh utama rezim. Pada Sabtu pagi, Israel membunuh Ayatollah Ali Khamenei dengan menjatuhkan puluhan bom di kompleksnya di pusat Teheran.

Hingga Rabu, Gedung Putih menyebut 49 tokoh senior Iran telah tewas sejak konflik dimulai.

Trump kemudian menyebut skenario “sempurna” baginya adalah sistem seperti Venezuela, di mana Delcy Rodriguez mengambil alih setelah AS menangkap Nicolas Maduro.

Namun rencana itu berisiko gagal karena tokoh-tokoh senior Iran terus menjadi target serangan udara Israel. “Sebagian besar orang yang kami pikirkan sudah mati,” kata Trump.

Analis menilai Israel mungkin tidak menginginkan Trump menemukan “solusi ala Venezuela” di Iran yang memungkinkan rezim tetap bertahan, meski lebih ramah terhadap kepentingan AS.

Kerugian Ekonomi Israel Capai $3 Miliar per Minggu

Kementerian Keuangan Israel memperkirakan ekonomi negara itu bisa menderita kerugian lebih dari 9 miliar shekel (US$2,93 miliar) per minggu akibat perang dengan Iran.

Di bawah pembatasan “zona merah” yang diberlakukan Komando Front Dalam Negeri, kerugian mingguan bahkan bisa mencapai 9,4 miliar shekel (US$3,06 miliar).

Langkah-langkah tersebut mencakup pembatasan perjalanan ke tempat kerja, penutupan sekolah, serta mobilisasi pasukan cadangan militer, yang mengganggu aktivitas di seluruh negeri.

Bagaimana Israel Menyikapi Perang

Sejak menyerang Iran, Israel menghadapi serangan berulang berupa rudal dan drone. Kota-kota seperti Haifa dan Tel Aviv mengalami serangan berkelanjutan, layanan darurat kewalahan, dan publik harus bolak-balik masuk ke tempat perlindungan bom.

Untuk saat ini, antusiasme terhadap perang masih tinggi.

Ekonom politik Shir Hever menilai kali ini berbeda dengan perang 12 hari pada Juni 2025: bukan lagi kepanikan, melainkan militansi penuh semangat dan kepercayaan diri berlebihan.

Akademisi Tel Aviv University Daniel Bar-Tal menambahkan bahwa masyarakat Israel semakin terindoktrinasi untuk melihat Iran sebagai musuh utama sejak kecil, diperkuat melalui pendidikan dan militer. Ia membandingkan kondisi ini dengan Blitz di Inggris pada Perang Dunia II.

Pertimbangan Militer dan Ekonomi

Analis pertahanan Hamze Attar menyebut dalam tiga hari pertama perang, Iran meluncurkan lebih dari 200 rudal balistik ke Israel.

Tanpa bantuan AS, Israel kemungkinan sudah kehilangan kendali atas wilayah udaranya.

Israel memiliki tiga sistem pertahanan udara: Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow 2/3.

Namun stok pencegat terbatas, sehingga jika perang berlanjut lama, Israel mungkin harus merasionalisasi penggunaannya, berfokus pada target militer dan politik, yang berisiko meningkatkan korban sipil.

Secara ekonomi, lebih dari dua tahun perang hampir tanpa henti telah membebani Israel.

Pengeluaran perang mencapai US$31 miliar pada 2024 dan US$55 miliar pada 2025, menyebabkan penurunan peringkat kredit negara itu.

Hever menegaskan: “Israel mengalami krisis utang, energi, transportasi, dan layanan kesehatan.”

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya