Retorika vs Realita: Mengapa Rusia dan China Ogah ‘Pasang Badan’ Total Buat Iran?

DEMOCRAZY.ID – Eskalasi di Timur Tengah telah mencapai titik didih yang mencemaskan.

Serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke jantung pertahanan Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu bukan sekadar gertakan militer biasa.

Peristiwa ini menjadi ujian ‘telanjang’ bagi ketangguhan aliansi global, terutama bagi dua sekutu utama Teheran: Rusia dan China.

Selama ini, Moskow dan Beijing dicitrakan memiliki kedekatan tanpa batas dengan Teheran, mulai dari urusan diplomatik, perdagangan, hingga pasokan militer.

Namun, respons keduanya pasca-serangan justru memperlihatkan pola yang identik: sangat keras dalam kata-kata, namun amat irit dalam tindakan nyata.

Rusia: Macan Kertas yang Terbelenggu di Ukraina

Moskow memang bereaksi cepat. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, langsung menghujani media dengan kecaman, menyebut meja perundingan telah berganti menjadi agresi terbuka yang berbahaya.

Presiden Vladimir Putin pun secara resmi menyampaikan belasungkawa atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei—sebuah insiden yang disebutnya sebagai pelanggaran berat hukum internasional.

Namun, mari bicara jujur secara geopolitik. Di balik narasi ‘agresi tanpa provokasi’ itu, ada kalkulasi pragmatis yang dimainkan Kremlin.

Rusia saat ini masih ‘terperosok’ dalam palagan panjang di Ukraina.

Meski Iran adalah pemasok utama drone Shahed dan rekan strategis untuk mengakali sanksi Barat, Moskow tampak enggan—atau mungkin tidak sanggup—menyeret dirinya ke dalam konfrontasi langsung dengan AS dan Israel.

Ironisnya, di tengah kecaman terhadap serangan ke Iran, Kremlin masih sempat-sempatnya ‘main mata’ dengan menyampaikan terima kasih kepada Donald Trump atas mediasi dalam isu Ukraina.

Ini menegaskan satu hal: bagi Rusia, kepentingan nasional adalah panglima.

Perjanjian kemitraan strategis yang ditandatangani Januari 2025 terbukti bukan pakta pertahanan bersama.

Tidak ada klausul wajib bela jika salah satu pihak digempur habis-habisan.

China: Penopang Ekonomi yang Alergi Perang

Setali tiga uang dengan Rusia, Beijing juga melontarkan kecaman keras atas terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai negara yang secara historis alergi dengan strategi regime change alias penggantian rezim ala Amerika, China memandang stabilitas di Teheran sebagai harga mati bagi kepentingan ekonomi mereka.

Perlu dicatat, inti hubungan China-Iran bukanlah ideologi atau pertahanan kolektif, melainkan energi dan arus kas.

China adalah pelanggan minyak mentah terbesar sekaligus mitra dagang utama Iran.

Bagi Beijing, Iran adalah elemen kunci dalam menjaga keseimbangan energi global dan stabilitas kawasan yang mendukung inisiatif ekonomi mereka.

Namun, garis keterlibatan China sangat tegas: hanya berada pada koridor ekonomi.

Meskipun ada kabar mengenai pendanaan sistem pertahanan udara Verba dari Rusia untuk Iran melalui jalur tertentu, China tetap ‘main cantik’ agar tidak mengganggu stabilitas pasar global yang bisa memukul balik ekonomi domestik mereka yang sedang rapuh.

Kesimpulan: Realita Pahit bagi Teheran

Konflik terbaru ini membuktikan sebuah tesis geopolitik klasik: dukungan Rusia dan China terhadap Iran memiliki batas yang sangat tegas.

Keduanya lebih memilih jalur diplomatik yang aman dan bantuan teknis ‘di bawah meja’ ketimbang intervensi militer langsung yang berisiko memicu Perang Dunia III.

Bagi Teheran, ini adalah sinyal pahit yang harus ditelan mentah-mentah.

Dalam rimba politik global, kawan dekat sekalipun akan tetap menghitung untung-rugi sebelum melangkah di medan tempur.

Persahabatan antarnegara ternyata hanya sekuat kepentingan yang mengikatnya.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya