DEMOCRAZY.ID – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI (Wamenlu), Dino Patti Djalal, menyoroti sikap pemerintah yang belum juga menyatakan ucapan duka cita atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Diketahui, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam rangkaian serangan udara yang diluncurkan duet Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang menargetkan para pejabat tinggi negara yang dulu disebut Persia itu.
Ia meninggal dunia dalam usia 86 tahun. Meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi langsung oleh media Iran, Fars New Agency, pada Minggu (1/3/2026).
Fars News Agency menyebut, “Ali Khamenei telah syahid,” dalam sebuah serangan yang menghantam kompleks kediamannya di ibu kota Iran, Teheran, saat ia “tengah menjalankan tugasnya,” sebagaimana dilansir CNN.
Namun, hingga empat hari setelah Ayatollah Ali Khamenei gugur, belum ada ucapan bela sungkawa secara terbuka dari pemerintah RI.
Bahkan, dari Presiden RI Prabowo Subianto sekalipun, berdasarkan pantauan Tribunnews.com hingga Rabu (4/3/2026) siang pukul 12.30 WIB, belum ada satu pun ucapan duka cita secara publik yang disampaikan oleh Prabowo.
Baik di akun media sosial X (dulu Twitter) dan Instagram @prabowo, kanal YouTube pribadi Prabowo Subianto (@djojohadikusumo), maupun di website resmi prabowosubianto.com.
Sementara, Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu), Kedutaan Besar RI untuk Iran, maupun Duta Besar RI untuk Iran Rolliansyah Soemirat juga terpantau tidak menyampaikan ucapan bela sungkawa atas wafatnya Supreme Leader yang berkuasa di Iran selama empat dekade tersebut.
Di media sosial Instagram masing-masing, pihak Kemlu (@kemlu_ri) maupun Kedubes RI untuk Iran (@indonesiaintehran) hanya sama-sama mengunggah imbauan untuk para Warga Negara Indonesia (WNI) di Iran terkait perkembangan situasi dan potensi eskalasi konflik di Asia Barat (Timur Tengah).
Dalam unggahannya, Kemlu RI juga cuma menyatakan bahwa Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, serta mengumumkan bahwa Prabowo bersedia memfasilitasi dialog dan bertolak ke Teheran untuk menjadi mediator atau penengah.
Dino Patti Djalal yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk AS periode 2010-2013 menyayangkan sikap pemerintah RI yang tidak menyampaikan duka cita atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Padahal, menurutnya, sudah lazim bagi pemerintah untuk menyampaikan belasungkawa saat pemimpin negara sahabat meninggal dunia.
Hal tersebut, disampaikan Dino dalam sebuah cuitan di akun media sosial X (dulu Twitter), @dinopattidjalal, Rabu (4/3/2026).
Dino pun bertanya-tanya, apakah pemerintah memang sengaja, dan jika iya, apa yang harus ditakutkan sampai tidak berani mengungkapkan belasungkawa.
Diplomat senior kelahiran Belgrade, Yugoslavia 10 September 1965 itu mengingatkan bahwa Iran dan Indonesia adalah dua negara sahabat dan menjalin hubungan bilateral yang kuat.
Indonesia dan Iran sama-sama aktif di berbagai organisasi multilateral.
Dino menyebut, Iran dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik yang sehat, bahkan ketika Iran memiliki musuh, tidak pernah mengajak Indonesia untuk ikut memusuhi musuh-musuhnya.
Oleh karenanya, Dino juga mempertanyakan apakah Indonesia masih menganut politik luar negeri bebas aktif, (tidak memihak blok kekuatan dunia tertentu, sekaligus berperan aktif dalam perdamaian dunia dan penyelesaian konflik global), karena tidak ada ucapan bela sungkawa dari Pemerintah RI atas meninggalnya Ali Khamenei.
Terlebih, Dino menduga, sikap tersebut juga membuat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak halus tawaran mediasi dari Indonesia, dan hal ini harus benar-benar dipertimbangkan.
Berikut cuitan lengkap Dino Patti Djalal:
Apakah yakin kita masih bebas aktif ? Selama bertahun2, Iran adalah negara sahabat Indonesia. Kita sama2 anggota NonBlok, OKI, D8, G77, BRICS. Kita sering beda pandangan dan beda posisi dgn Iran, dan sistim politik + ideologi masing2 juga beda, namun Indonesia dan Iran tidak pernah cekcok. Iran punya sejumlah musuh tapi tidak pernah meminta Indonesia memusuhi musuh2nya. Fokus hubungan bilateral kita adalah kerjasama, persahabatan dan saling menghormati.
Sayangnya, ketika Ayatollah Khamenei dll tewas terbunuh, Pemerintah Indonesia tidak menyatakan ucapan belasungkawa, sbgmana lazimnya kl pemimpin negara sahabat Indonesia meninggal. Kelupaan atau sengaja ? Kalau sengaja, yg kita takutkan apa ? Apakah yakin kita masih bebas aktif ? Krn merasakan sikap dingin kita thdp kematian pemimpinnya, tidak heran Menlu Iran menolak dgn halus tawaran mediasi Indonesia . Mungkin mereka menyangsikan motivasi Indonesia .. something to think about
Sebagai informasi, hubungan bilateral Indonesia dan Iran merupakan kemitraan strategis yang telah berlangsung lama dan stabil, didukung oleh kepentingan bersama di bidang ekonomi, energi, serta solidaritas terhadap isu-isu global dan kawasan, dikutip dari file atau berkas yang diunggah di laman resmi Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu), kemlu.go.id.
Sejak terjalinnya hubungan diplomatik pada 1950, Indonesia dan Iran terus memperkuat sinergi dalam berbagai kerjasama strategis.
Antara lain bidang perdagangan, teknologi, kesehatan, pendidikan, dan isu-isu global yang menjadi perhatian kedua negara, termasuk dukungan terhadap hak-hak Palestina dan penyelesaian konflik regional melalui jalur diplomasi.
Kedekatan ini juga diwujudkan dalam dukungan dan kolaborasi di berbagai forum internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja sama Islam (OKI), Kelompok D-8 Negara Berkembang (D-8), hingga BRICS.
Sumber: Tribun