DEMOCRAZY.ID – Dunia menahan napas setelah serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026), dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Alih-alih jatuh menyerah atau terjerembap ke dalam kekacauan dan perebutan kekuasaan yang dramatis, Teheran justru menunjukkan ketenangan institusional mengejutkan.
Kematian pria berusia 86 tahun tersebut, yang juga merenggut nyawa anak, menantu, dan cucunya, ternyata telah diantisipasi melalui sebuah arsitektur kepemimpinan masa perang yang sangat kompleks.
Khamenei, sebagaimana dilaporkan The New York Times, telah jauh-jauh hari memerintahkan pembangunan sistem kepemimpinan berlapis untuk mencegah keruntuhan rezim atau pemerintahan yang berkuasa, jika terjadi serangan penghancuran kepala negara atau decapitation strikes.
Strategi Iran tidak hanya tentang pembalasan militer, tapi tentang keberlangsungan organisasi.
Belajar dari eliminasi komandan militer oleh Israel pada Juni 2025 yang sempat memicu kekacauan, Khamenei menetapkan doktrin “redundansi”.
Setiap pejabat tinggi militer dan negara memiliki empat calon pengganti yang ditunjuk langsung.
Bahkan untuk posisinya sendiri, sang Rahbar dikabarkan telah menyiapkan tiga nama rahasia.
Langkah ini memastikan bahwa saat rudal menghantam kediamannya, sistem pemerintahan tetap stabil, operasional, dan layak fungsi.
Dalam struktur darurat ini, satu nama muncul sebagai pemegang kendali utama, yakni Ali Larijani.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) ini dilaporkan telah mengonsolidasikan kekuasaan sejak Januari 2025, saat ketegangan dengan AS meningkat dan protes domestik meletus.
Larijani bukanlah orang baru. Veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berusia 67 tahun ini berasal dari keluarga elite politik-agama dan menyandang gelar PhD dalam Filsafat Barat.
Pengalamannya memimpin lembaga penyiaran negara (IRIB) selama 10 tahun dan menjadi Ketua Parlemen (2008-2020) membuatnya memahami seluk-beluk sistem Teheran secara mendalam.
“Larijani adalah orang dalam sejati, operator cerdik yang memahami cara kerja sistem dan kecenderungan pemimpin tertinggi,” ujar Ali Vaez dari International Crisis Group.
Sejak awal 2025, otoritas Larijani bahkan disebut melampaui Presiden Mahmoud Pezeshkian, terutama dalam koordinasi militer dan negosiasi rahasia dengan pihak asing seperti Rusia dan Oman.
Meskipun Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional, aparat keamanan tidak mengendurkan pengawasan.
Di tengah laporan Caspian Post mengenai kembali pecahnya demonstrasi mahasiswa di Universitas Teheran pada akhir Februari, unit-unit IRGC dan polisi khusus telah dikerahkan untuk berpatroli guna mencegah volatilitas internal.
Sementara itu, Khamenei juga telah membentuk Dewan Pertahanan Nasional di bawah Laksamana Ali Shamkhani untuk mengoordinasikan operasi militer.
Sedangkan, untuk urusan harian pemerintahan efektif berada di tangan Larijani.
Sumber: Tribun