Inilah Alasan AS dan Israel Ingin Rezim Khamenei Tumbang

DEMOCRAZY.ID – Dari perspektif Republik Islam Iran, serangan gencar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran baru-baru ini bukanlah sekadar respons terhadap ancaman militer, melainkan bagian dari agenda jangka panjang untuk menghancurkan kedaulatan dan identitas revolusioner bangsa Iran.

Rezim Khamenei, yang dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei selama puluhan tahun, telah menjadi simbol keteguhan melawan imperialisme Barat dan Zionisme, sehingga menjadi duri dalam daging bagi Washington dan Tel Aviv.

Alasan utama di balik keinginan AS dan Israel untuk menumbangkan rezim ini adalah karena Iran di bawah kepemimpinan Khamenei menolak tunduk pada hegemoni mereka.

Iran secara konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dan Axis Perlawanan di kawasan, termasuk Hezbollah, Ansarullah Yaman, serta kelompok-kelompok anti-Zionis lainnya.

Dukungan ini telah mengganggu rencana ekspansi Israel di Timur Tengah dan melemahkan pengaruh AS yang selama ini mengandalkan sekutu-sekutu seperti rezim-rezim boneka di kawasan.

Khamenei sering menyebut Israel sebagai “tumor kanker” yang harus dihapuskan, bukan karena kebencian terhadap Yahudi, melainkan karena penjajahan dan kejahatan terhadap umat manusia.

Sikap tegas ini membuat Israel merasa terancam eksistensial, sehingga mereka mendorong AS untuk melakukan intervensi militer langsung demi menciptakan kekacauan internal di Iran.

Selain itu, program nuklir damai Iran yang dikembangkan untuk kemandirian energi dan teknologi menjadi alasan palsu yang digunakan Barat.

Iran selalu menegaskan bahwa program tersebut tidak untuk senjata, sesuai fatwa Khamenei yang melarang senjata nuklir.

Namun, AS dan Israel tidak ingin Iran memiliki kemampuan deterensi yang membuat mereka tak bisa lagi mengancam dengan bebas.

Mereka khawatir Iran yang mandiri secara ekonomi dan militer akan menginspirasi negara-negara lain di dunia Islam untuk menolak dominasi Barat.

Serangan terbaru yang menargetkan pemimpin dan infrastruktur Iran, termasuk upaya pembunuhan terhadap Khamenei, dilihat sebagai tindakan putus asa karena kegagalan sanksi ekonomi dan propaganda selama bertahun-tahun.

Sanksi telah menyebabkan penderitaan rakyat Iran, tapi justru memperkuat semangat perlawanan dan persatuan nasional.

Dari sudut pandang Iran, ini adalah perang terhadap Islam, kedaulatan, dan martabat bangsa yang menolak menjadi budak imperialisme.

Rakyat Iran, meski menghadapi tekanan berat, tetap teguh pada prinsip “La ilaha illallah” dan revolusi 1979.

Rezim Khamenei bukanlah tirani, melainkan benteng pertahanan melawan agresi asing.

Upaya AS dan Israel untuk memprovokasi pemberontakan internal hanya akan gagal, karena rakyat Iran tahu bahwa kebebasan sejati datang dari perlawanan, bukan dari intervensi penjajah.

Serangan ini justru membuktikan betapa kuatnya posisi Iran di mata musuh-musuhnya mereka takut pada model perlawanan yang ditawarkan Republik Islam.

Artikel terkait lainnya