Akhirnya Dengan Berat Hati Harus Diakui: ‘Era Jokowi Lebih Baik Dibanding Era Prabowo’

Akhirnya Dengan Berat Hati Harus Diakui: ‘Era Jokowi Lebih Baik Dibanding Era Prabowo’

Oleh: Budi Kurniawan

Bancakan MBG dan Koperasi Merah Putih ini bisa akan ngeri banget. Korupsi di proyek infrastructure public good (Tol, Bandara, dll) sebenarnya lebih “baik” bagi pembangunan ketimbang korupsi barang private seperti makanan bergizi.

Mengapa? Kita akan bahas. Dan inilah alasan mengapa era Jokowi dan sebelumnya lebih baik walau korup juga.

Kita Bedah Buku lagi dengan buku Yuen Yuen Ang CHINA’S GILDED AGE terbit tahun 2021.

Ang bedakan empat tipe Korupsi:

  • Petty theft (contoh pegawai kecil nyolong, polisi lalu lintas “berdamai”)
  • Grand theft (elit nyolong kas negara)
  • Speed money (contoh suap kecil untuk percepat layanan SIM, atau dosen nyogok pegawai kementerian agar cepat naik pangkat), dan
  • Access money (transaksi besar antara kapitalis dan pejabat untuk akses proyek, konsesi, kredit murah, dsb.)

Semua korupsi merusak, tapi dampak terhadap pertumbuhan ekonomi beda: petty theft, grand theft, dan speed money cenderung menghambat pertumbuhan; access money bisa mendorong investasi dan pembangunan, tetapi menciptakan risiko ketimpangan, gelembung aset, dan krisis sistemik.

Kalau kita terjemahkan ke konteks Indonesia era Prabowo dan Jokowi.

Jika korupsi MBG itu berupa pengurangan kualitas makanan, atau markup besar‑besaran, maka ini termasuk grand theft yakni elite ikut masuk (elit mencuri dari kas publik melalui skema pengadaan).

Di zaman Jokowi terutama kepala daerah pada senang pencitraan biar kelihatan membangun.

Jenis korupsinya adalah Access money yang bisa coexist (selaras) dengan pertumbuhan tinggi karena ia mendorong investasi, pembangunan kota, infrastruktur, dll. – tetapi pertumbuhan yang dihasilkan bersifat “speedy and risky”: cepat, penuh proyek, tapi menumpuk utang, gelembung properti, dan ketimpangan. IKN dan Kereta Cepat beresiko seperti ini.

Mudah mudahan jikapun ada korupsi, korupsi MBG “hanya” berupa access money yang tetap menghasilkan program berjalan (makanan benar‑benar dibagi, kualitas masih oke), maka kita melihat pola mirip: program jalan, ekonomi lokal tertentu hidup, tapi dengan rente politik–bisnis yang besar dan tentu ada ketimpangan akses.

Kalau MBG dan Koperasi Merah Putih ini seragam dari pusat ke daerah menggunakan jaringan partai dan ormas.

Maka ini termasuk grand theft (makanan dikurangi, kualitas buruk, sasaran meleset), Ang akan mengkategorikan dampaknya sebagai korupsi yang merusak pertumbuhan dan pembangunan manusia, bukan lagi korupsi yang tumbuh bersama pembangunan istilahnya korupsi yang jadi “oli pembangunan”.

Ang bilang grand theft seperti “racun” yang menguras sumber daya publik tanpa ciptakan aktivitas ekonomi, beda dengan korupsi model access money yang “steroid” (berisiko tapi stimulatif).

Korupsi tetapi ekonomi tetap tumbuh itu harus memenuhi syarat hanya korupsi access money.

Ang mencotohkan China walau korupsi tinggi tetapi jenisnya access money. Ang juga mencontohkan Amerika pada era gilded age, makanya bukunya diberi judul Gilded Age.

Ini juga bisa menjelaskan mengapa zaman ORBA korupsi ada tetapi Pertumbuhan ekonomi tinggi.

Saya juga melihat zaman paska reformasi juga korupsi model begini lebih marak terutama di daerah agar kepala daerahnya terlihat membangun dan terpilih lagi.

Akhirnya, KALAU PRABOWO TIDAK MENGUBAH CARA PENYALURAN MBG dari yang proyek oriented bancakan parpol dan ormas (katanya NU mau ikutan) menjadi dana langsung ke ortu sebagaimana usul Ahok atau langsung ke sekolah dan dikoordinir dan dimanage organisasi orang tua sebagaimana usul Anies, maka Indonesia akan lost generation karena korupsi masif yang harusnya dananya bisa dimanfaatkan secara optimal untuk perbaikan gizi dan tumbuh kembang anak.

Maksud programnya baik tetapi caranya salah dan beresiko Pak Prabowo. ***

Artikel terkait lainnya