Said Didu Tak Peduli Disebut “Ternak Wowo”, Tegaskan Tetap Melawan Oligarki!

DEMOCRAZY.ID – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menegaskan dirinya tidak gentar meski mendapat berbagai stigma dan julukan negatif akibat sikap kritis yang ia sampaikan di ruang publik.

Salah satu label yang diarahkan kepadanya adalah sebutan “TERWO” atau “ternak Wowo”.

Melalui pernyataannya, Said Didu mengungkapkan bahwa dalam memperjuangkan kebenaran, selalu ada ujian yang harus dihadapi, termasuk penolakan dari berbagai pihak.

“Selalu ada ujian saat menyuarakan kebenaran tanpa memihak. Saat ini ‘dibenci’ orang dalam dan ‘tidak disukai’ orang luar. Bahkan diberikan gelar sebagai TERWO (ternak Wowo),” ujar Said Didu, Rabu (4/2/2026).

Namun, ia menegaskan tidak sedikit pun terpengaruh oleh cemoohan tersebut.

Baginya, suara-suara yang mencoba melemahkan justru menjadi konsekuensi dari sikap konsisten dalam menyuarakan kritik terhadap kekuasaan dan praktik oligarki.

“Tapi saya tidak peduli suara mereka. Saya akan tetap tegak berjuang agar kedaulatan dikembalikan dari oligarki,” tegasnya.

Said Didu dikenal sebagai salah satu tokoh yang vokal mengkritisi kebijakan pemerintah, terutama yang dinilai lebih menguntungkan kelompok elite dan oligarki dibandingkan kepentingan rakyat luas.

Sikap tersebut membuatnya kerap diserang, baik oleh pihak yang berada di lingkaran kekuasaan maupun oleh kelompok di luar pemerintahan.

Meski demikian, Said Didu menegaskan bahwa perjuangan untuk mengembalikan kedaulatan negara dari cengkeraman oligarki tidak boleh berhenti hanya karena tekanan, stigma, atau serangan personal.

Pernyataan ini kembali menegaskan posisi Said Didu sebagai figur oposisi kritis yang memilih tetap berada di jalur perlawanan moral, meski harus menanggung risiko sosial dan politik.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya