Kontroversi Baru! Prabowo PujI Bahlil, Tapi Sisipkan Stereotip yang Bikin Publik Murka

DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam acara puncak HUT ke-61 Partai Golkar di Jakarta, Jumat 5 Desember 2025.

Menuai sorotan tajam. Alih-alih menyoroti penanganan bencana yang sedang berlangsung di Sumatera.

Prabowo justru melontarkan sederet pernyataan yang dinilai problematik.

Mulai dari stereotip soal masyarakat Indonesia Timur hingga candaan tentang “porsi makan yang banyak”.

Dalam sambutannya, Prabowo memuji Ketua Umum Golkar sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebagai sosok yang sangat cerdas dan detail.

Ia juga menyinggung aksi Bahlil yang turun ke lokasi banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Namun pujian tersebut disertai komentar yang dianggap tidak pantas dan berpotensi menyinggung identitas kelompok tertentu.

Orang Indonesia timur itu memang sifatnya setia, dan keras.

“Tetapi kalau sudah menetapkan hatinya dia setia sampai mati,” ujar Prabowo, dikutip dari beritasatu, 5 Desember 2025.

Ia juga menambahkan, dengan nada bercanda, bahwa orang Indonesia Timur cenderung “makan banyak” hingga membuat hadirin tertawa.

Komentar itu dinilai sejumlah pihak tidak sensitif, terlebih di tengah situasi bencana yang masih menimbulkan duka.

Pernyataan yang membawa stereotip fisik dan karakter etnis dianggap tak relevan dan tidak tepat disampaikan oleh kepala negara di forum resmi.

Apalagi ketika masyarakat sedang berjuang di pengungsian.

Prabowo juga berkelakar bahwa istri-istri yang bersuami pria dari Indonesia Timur harus “siap belanja lebih banyak” karena porsi makan yang besar.

“Ransum untuk 10 hari bisa habis 5 hari,” ujarnya sambil tertawa, memancing tawa ribuan kader Golkar.

Candaan itu justru dinilai semakin menggeser fokus dari konteks penderitaan para korban bencana.

Di sisi lain, Prabowo memuji keputusan Bahlil yang meminta kader Golkar tidak berpesta.

Dalam peringatan HUT partai kali ini sebagai bentuk solidaritas untuk korban banjir.

Namun apresiasi tersebut tenggelam oleh rangkaian pernyataannya yang mencampuradukkan pujian, stereotip, hingga candaan yang dinilai tidak peka.

Kritik juga muncul karena Prabowo lebih banyak menyinggung karakter personal Bahlil.

Dan identitas budaya ketimbang memberikan pesan kuat terkait penanganan bencana.

Padahal banjir besar di Sumatera telah menyebabkan kerusakan luas, korban jiwa, ribuan pengungsi, dan kondisi logistik yang masih memprihatinkan.

Pernyataan-pernyataan Presiden dinilai semakin mengaburkan esensi pidato seorang kepala negara.

Pada momen ketika sebagian masyarakat Indonesia sedang mengalami kesulitan berat.

Publik pun mempertanyakan sensitivitas komunikasi elite politik yang kerap melontarkan candaan di tengah situasi darurat.

Dengan kritik yang terus mengemuka, masyarakat menunggu langkah konkret pemerintah, bukan sekadar retorika dan lelucon.

Bencana yang sedang berlangsung membutuhkan kepemimpinan yang tegas dan empatik.

Bukan kata-kata yang berpotensi memperluas polemik baru di ruang publik.

Sumber: PojokSatu

Artikel terkait lainnya