DEMOCRAZY.ID – Founder of Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi mengungkap fakta di balik banjir di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Dia mengungkpapkan ada sesuatu dari sekadar banjir.
“Banjir mungkin datang dari langit, tapi kemarahan publik datang dari bawah,” kata Ismail dikutip dari uggahannya di X, Rabu (3/12/2025).
Dia mengatakan, realitasnya jalan-jalan terputus, dan warga berteriak minta tolong. Sementara itu, negara sibuk berdebat soal status bencana nasional.
“Di balik semua itu, satu pertanyaan menggantung di udara. Apakah Aceh dan Sumatera sedang kebanjiran air, atau sedang kebanjiran ketidakadilan?” ujarnya.
Laporan Drone Emprit menunjukkan betapa besar skala bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Antara 25–29 November 2025 saja, percakapan publik mencapai 102.599 mentions dengan 382 juta interaksi, mayoritas dari X/Twitter dan TikTok.
Di lapangan, kerusakan sangat masif. Jembatan putus, jalan nasional lumpuh, puluhan kecamatan terisolasi, dan korban jiwa melonjak hingga 303 orang pada 29 November.
“Tetapi data ini mengungkap sesuatu yang lebih besar dari bencana. Kemarahan terhadap persepsi ketidakadilan politik,” paparnya.
Di media sosial, sentimen negatif mencapai 35–46%. Ada berbagai alasan yang mendorong.
Seperti penolakan pemerintah menetapkan status bencana nasional, isu Jawa-sentrisme dalam penanganan bencana, tuduhan bahwa izin tambang & sawit adalah akar kerusakan ekologis, dan Persepsi bahwa Sumatera diabaikan karena bukan Jawa.
“Tagar seperti #SaveOrangUtanTapanuli dan kritik terhadap deforestasi masif semakin mempertegas bagaimana publik melihat bencana ini bukan lagi sebagai musibah alam, tetapi kejahatan ekologis,” imbuhnya.
Menariknya, Ismail mengatakan, laporan menunjukkan jurang persepsi antara pemberitaan media online dan narasi publik di medsos.
Media mainstream menonjolkan hal-hal positif: helikopter TNI, evakuasi udara, kunjungan presiden, dan bantuan puluhan ton logistik. Sebanyak 60% pemberitaan bernada positif.
“Media sosial menampilkan realitas yang lebih gelap: warga terjebak, akses komunikasi hilang, solar habis, listrik padam berhari-hari, dan banyak yang tidak tersentuh bantuan karena terisolasi,” ucapnya.
Dia mengungkap di percakapan X menunjukkan empat kluster besar.
Pertama, narasi pemerintah terkait update cuaca, instruksi evakuasi, dan evaluasi tata kelola hutan.
Kedua narasi publik positif, seperti doa & donasi. Tiga narasi media, yang mengungkap penyebab banjir (Siklon Senyar & deforestasi), dan terakhir narasi aktivis & publik kritis, yang menuduh bencana ekologis & kritik politik.
“Di sinilah terlihat Indonesia hidup dalam dua realitas informasi. Yang satu melihat negara bekerja, yang satu melihat warga berjuang sendiri,” imbuhnya.
Saat Aceh dan Sumatera “Tenggelam”, Percakapan Publik Mengungkap Sesuatu yang Lebih Gelap dari Sekadar Banjir
Banjir mungkin datang dari langit, tapi kemarahan publik datang dari bawah. Dari lumpur, dari jalan-jalan terputus, dari warga yang berteriak minta tolong sementara… https://t.co/xkUuItALGY pic.twitter.com/xhejCQ1bss
— Ismail Fahmi (@ismailfahmi) December 2, 2025
Sumber: Fajar