Pengamat Ungkap Tiga Nama Ini Layak Diperhitungkan Jadi Cawapres Prabowo 2029

DEMOCRAZY.ID – Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai, ada tiga sosok yang memilki potensi mendampingi Presiden Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden di Pilpres 2029.

Hendri memprediksi tiga nama kuat itu adalah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM), dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurutnya, persaingan memperebutkan posisi cawapres bakal lebih sengit daripada pertarungan sosok calon presiden.

Sebab kekuatan elektoral Prabowo melampaui tokoh-tokoh yang ada.

“Pak Prabowo ini tinggal satu periode lagi, 2034 pasti selesai, dia harus pinter-pinter milih wapres. nah kalau intuisi politik saya, dia enggak bisa milih yang beda partai politik,” ujar Hendri dikutip dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).

Hendri menilai Seskab Teddy menjadi sosok yang layak diperhitungkan.

Karena posisi strategis dan kerap tampil dalam menjelaskan agenda pemerintahan di publik.

“Letkol Teddy juga digadang-gadang, banyak netizen yang menyebut dia sebagai calon potensial mendampingi Prabowo,” ucapnya.

Sementara untuk KDM, Hendri menilai Gubernur Jawa Barat tersebut memiliki daya tarik yang nyata, terutama karena basis dukungan publiknya yang besar.

Namun, ia menekankan bahwa peluang KDM sangat bergantung pada kesiapan Gerindra menjadi partai terbuka, yakni partai yang berani mengusung kader di luar lingkaran keluarga pendirinya.

“KDM-nya sendiri tidak masalah menurut saya. Tapi apakah Gerindra sudah siap menjadi partai terbuka? Itu pertanyaannya. Karena masih ada nama-nama dari lingkaran keluarga yang juga digadang-gadang,” paparnya.

Hendri memandang, skenario paling ideal bagi KDM adalah dengan terlebih dahulu mendorong Prabowo maju sebagai calon presiden, sementara KDM mengambil posisi nomor dua.

“Paling ideal. Karena Gerindra tidak kehilangan apa-apa kalau KDM maju, karena ini kadernya dia juga. Belum lagi KDM itu disukai, dicintai masyarakat Jawa Barat yang basis pemilihnya sangat besar,” jelasnya.

“Tapi dengan kekuatannya KDM hari ini, menurut saya dia layak diperhitungkan oleh Pak Prabowo, apalagi kalau memang Prabowo ingin membesarkan Gerindra di 2029,” lanjutnya.

Sedangjan untuk posisi calon wakil presiden, Hensa tetap menempatkan Gibran sebagai nama terkuat.

“Masih Gibran. Yang kedua saya menjagoin KDM, karena dari sisi partai politiknya pun masuk,” ujarnya.

Namun, Hendri menilai ada catatan penting soal skenario Prabowo-Gibran di 2029.

Meski secara elektoral bisa terbilang kuat, sudah tidak lagi menjadi pilihan yang ideal secara politik.

Menurut Hendri, kehadiran Gibran di sisi Prabowo sejak 2024 bukan semata keputusan Prabowo, melainkan bagian dari desain politik Joko Widodo untuk mempersiapkan putranya itu sebagai calon presiden masa depan.

Artinya, menempatkan Gibran kembali sebagai wakil presiden di 2029 justru akan memperlambat laju Gibran menuju puncak kekuasaan.

“Kalau Prabowo bersama Gibran lagi di 2029, itu artinya Prabowo membesarkan Gibran. Memang mempersiapkan Gibran sebagai calon presiden,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hendri mengatakan, kepentingan Jokowi sejak awal adalah menjadikan Gibran sebagai presiden, bukan sekadar wakil presiden yang terus-menerus mendampingi orang lain.

Semakin lama Gibran berada di posisi nomor dua, semakin besar risiko ia kehilangan momentum untuk naik sendiri.

“Prabowo kemungkinan tidak butuh Jokowi lagi untuk menang di 2029 karena dia adalah inkumben. Dia akan memilih cawapres yang tidak punya ambisi mengganggu posisinya dan elektabilitas Gerindra,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya