DEMOCRAZY.ID – Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Barat, Siti Nurhayati Barsasmy, mengungkap pengalaman pahit berupa teror dan intimidasi yang menimpanya.
Teror tersebut muncul tak lama setelah ia mengunggah konten solidaritas untuk aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman air keras.
Siti menceritakan bahwa ancaman tersebut datang melalui pesan singkat WhatsApp dan Direct Message (DM) Instagram pada 21 Maret 2026, tepat setelah ia mengunggah video pernyataan sikap.
“Di situ instruksinya saya harus diam, terus juga harus menghapus videonya, menyebutkan posisi ibu saya. Jika saya tidak menghapus videonya, saya akan bernasib sama seperti Bang Andrie,” ujar Siti dalam podcast Madilog di kanal Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (8/4/2026).
Pasca menerima teror tersebut, Siti mengaku didatangi pihak kepolisian dari bagian Cyber yang menawarkan perlindungan sekaligus meminta data.
Namun, ia secara tegas menolak untuk membuat laporan resmi karena tidak ingin perhatiannya teralihkan dari substansi kasus Andrie Yunus.
“Saya di situ tegas menolak untuk tidak melaporkan karena alasannya pertama saya tidak mau terdistraksi untuk mengawal substansi dari kasus tersebut… kemudian saya tidak ingin menjadi peluru lah untuk kepentingan instansi terkait,” tuturnya.
Tak hanya kepolisian, dua minggu kemudian Siti mengaku dihubungi oleh pihak Kodim Jawa Barat dan BAIS.
Dalam komunikasi tersebut, muncul narasi yang menurutnya mengindikasikan adanya persaingan kepentingan antar-institusi.
“Mereka melontarkan bahwa kalau misalkan ini tidak jelas berarti dimainkan oleh ‘sebelah’. Saya kan di situ bertanya sebelah itu siapa? Mereka bilang ya ‘cokelat’ lah karena kita ‘loreng’,” ungkap Siti menirukan percakapan dengan oknum tersebut.
Siti menegaskan dirinya tidak ingin masuk dalam pusaran konflik atau kepentingan antar lembaga tersebut.
“Saya bilang ya tidak peduli lah, saya enggak peduli dengan kepentingan kalian dan semuanya… Saya tidak memberikan data tersebut. Saya tidak ingin terbelenggu oleh kepentingan instansi-instansi tersebut,” tambahnya.
Meski mengaku tidak merasa takut, Siti mengatakan teror tersebut sempat mengguncang keluarganya, terutama karena sang ibu ikut disebut dalam ancaman.
Khawatir akan keselamatan orang tuanya, Siti bahkan memutuskan untuk mengosongkan rumah sementara waktu dan membawa keluarganya mengungsi.
“Sempat mengungsi selama seminggu lebih lah. Jadi rumah tempat tinggal dikosongin semua sekeluarga, saya bawa biar saya juga tetap lantang menyuarakan ini biar tidak terdistraksi,” jelasnya.
Siti juga mengungkap bahwa orang tuanya sempat terkejut ketika aparat kepolisian datang ke rumah setelah peristiwa teror tersebut.
Sang ibu bahkan sempat meminta agar video yang diunggahnya di media sosial dihapus demi alasan keamanan.
Namun, Siti memilih tetap mempertahankan sikapnya dan menjelaskan bahwa tindakannya merupakan bagian dari kepentingan bersama, terutama terkait masa depan demokrasi.
Bagi Siti, intimidasi yang ia terima merupakan bentuk keputusasaan pihak-pihak tertentu yang ingin membungkam suara kritis anak muda.
Ia menegaskan tidak akan menghapus video solidaritasnya selama keadilan bagi Andrie Yunus belum ditegakkan.
“Toh saya menghapus video itu tidak mempengaruhi apapun. Kalaupun mau dihapus, kembalikan kondisi Bang Andrie Yunus kepada semula dan itu mustahil terjadi. Maka saya juga mustahil untuk menghapus video tersebut karena saya tidak takut dengan para pengecut itu,” pungkas Siti.
Ia juga berharap Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serius agar instrumen negara tidak melakukan normalisasi terhadap kekerasan dan teror terhadap warga yang menyuarakan kritik.
Menurutnya, perlindungan terhadap suara kritis sangat penting demi menjaga kesehatan demokrasi Indonesia.
[FULL VIDEO]
Sumber: Suara