DEMOCRAZY.ID – Imbas perang antara Israel-Amerika Serikat melawan Iran secara nyata memicu gejolak pada pasar minyak dunia.
Iran sebagai empunya selat Hormuz -palang pintu jalur pelayaran minyak negara-negara teluk- telah memperketat arus kapal yang keluar dari negara-negara Arab.
Hanya negara-negara tertentu yang diizinkan Iran mengangkut minyak melewati selat Hormuz dengan jaminan keamanan.
Padahal selama ini jalur Hormuz adalah rute bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Wal hasil, mayoritas negara berbondong-bondong melakukan lobi ke Teheran. Semua menghitung daya tahan cadangan minyak mereka, dan dihantui krisis energi.
Nah, dalam perkembangannya, dua negara di Asia Tenggara, yaitu Malaysia dan Filipina mengumumkan keberhasilan mereka melobi Iran. Kapal tanker mereka berlayar dengan lancar melewati selat Hormuz tanpa ditagih biaya tol.
Sementara Indonesia masih merana dalam ketidakpastian. Dua kapal tanker Pertamina International Shipping (PIS) tidak diizinkan melintasi Hormuz, yaitu kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Dosen Hubungan Internasional UGM, Muhadi Sugiono, menilai kebijakan Iran terkait akses Selat Hormuz tentunya didasari pertimbangan diplomatik.
Teheran hanya memberi akses Hormuz bagi negara-negara yang dianggap teman baik.
Selat Hormuz tidak akan dibuka bagi kapal-kapal minyak dari negara yang dianggap musuh ataupun sekutu dari Amerika Serikat dan Isarel.
“Pada dasarnya penutupan Selat Hormuz dilakukan oleh Iran untuk negara-negara yang dikategorikan sebagai musuh seperti Amerika Serikat dan Israel,” kata Muhadi.
Lantas, apakah Indonesia dianggap Iran sebagai musuh, sehingga kapal Pertamina tidak diizinkan lewat Hormuz?
Menjawab pertanyaan ini, Muhadi menduga penahanan kapal Indonesia kemungkinan besar terkait dengan protokol keamanan yang ketat di wilayah konflik, bukan karena masalah diplomatik.
“Kita harus paham, ini situasi perang. Bukan tidak mungkin protokol keamanan membuat akses kapal Indonesia terhambat,” ujarnya.
Pendapat lebih detail disampaikan Direktur The National Maritime Institute Siswanto Rusdi, bahwa tertahannya dua kapal minyak Pertamina sebenarnya adalah karena masalah bendera.
Siswanto menjelaskan, meskipun kapal tanker tersebut milik Pertamina, namun bendera yang dipakai bukanlah bendera merah putih.
Kapal Gamsunoro berbendera Panama, sedangkan Kapal Pertamina Pride berbendera Singapura.
Dengan fakta ini, Siswanto menilai Indonesia tidak bisa aktif melakukan negosiasi kepada Iran, karena kapal terbit tidak dilihat sebagai milik Indonesia.
Istilahnya “Lo ngomong apa aja, kagak akan didengerin sama Iran. Lha wong benderanya aja Singapura dan Panama.”
“Iran memandang ini kapal bukan kapal Indonesia, sehingga jurisdiksi negara bendera-lah yang harus lebih aktif dalam membebaskan kapal itu keluar dari Selat Hormuz. Ya Singapura dan Panama,” tandas Siswanto.
Dalam kondisi seperti ini, Indonesia tak bisa berbuat banyak. Upaya negosiasi dengan Iran pun menjadi buntu, karena kapal tanker Pertamina tidak diakui milik Indonesia.
Meskipun sejatinya adalah punya Pertamina, Iran masa bodoh karena benderanya adalah negara sekutu “musuh”.
Atau diam-diam selama ini Pertamina memang tidak Merah Putih, dan kebetulan terpergok berbendera Singapura dan Panama?
Sumber: LiraNews