DEMOCRAZY.ID – Ruang digital masyarakat belakangan ini dipenuhi oleh rentetan disinformasi yang menyasar Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.
Sejak menjelang akhir tahun 2025 hingga awal 2026, berbagai narasi hoaks (berita bohong) tersebar secara masif di ragam platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook.
Beredarnya informasi palsu ini memantik keresahan sekaligus pertanyaan besar di tengah publik.
Hal ini secara tegas disoroti dalam sebuah video narasi klarifikasi yang kini mulai ramai dibagikan untuk melawan misinformasi tersebut.
“Menjelang akhir tahun 2025 hingga awal 2026, nama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi masif diserang narasi hoaks. Mulai dari narasi cerita di media sosial yang terus-terusan menyerang, hingga konten-konten video yang dipotong-potong sehingga menimbulkan disinformasi di masyarakat,” demikian kutipan peringatan dalam narasi video tersebut.
Mirisnya, potongan-potongan video yang sengaja dimanipulasi itu ditelan mentah-mentah oleh sebagian warganet tanpa proses cross-check (uji fakta).
“Celakanya, narasi hoaks ini dikonsumsi oleh ribuan viewer dan menganggap itu sebagai kebenaran,” lanjut narasi tersebut.
Berdasarkan penelusuran fakta di lapangan, setidaknya terdapat dua isu hoaks utama yang gencar digulirkan untuk menyudutkan orang nomor satu di Jawa Tengah tersebut. Narasi dalam video klarifikasi merinci dua fitnah keji itu:
Hoaks tentang Hukum: “Narasinya adalah Gubernur Ahmad Luthfi ditangkap oleh KPK bersama Bupati Pekalongan di rumahnya.”
Hoaks tentang Pajak: “Narasinya adalah penunggak pajak kendaraan, akan ditagih ke rumahnya secara langsung.”
Penting untuk meluruskan narasi menyesatkan tersebut sebagai bentuk pencerahan publik (clearing house).
Terkait hoaks operasi hukum, faktanya penangkapan Bupati Pekalongan oleh KPK sama sekali tidak berkaitan dan tidak dilakukan bersama Gubernur Ahmad Luthfi.
Pihak Pemprov Jateng maupun otoritas terkait telah berulang kali meluruskan bahwa sang Gubernur tidak berada di lokasi saat penangkapan terjadi dan tidak ada kaitannya dengan kasus tersebut.
Begitu pula dengan hoaks penagihan pajak kendaraan ke rumah secara paksa, hal tersebut merupakan program sosialisasi dan edukasi kepatuhan pajak yang sengaja dipotong konteksnya oleh oknum tak bertanggung jawab untuk menciptakan kepanikan warga.
Kendati berbagai klarifikasi resmi mengenai kedua isu di atas telah diterbitkan, masih ada saja oknum warganet yang terus memproduksi konten serupa.
“Padahal, narasi-narasi hoaks itu sudah ada klarifikasinya lho. Namun masih ada saja yang mengabaikan klarifikasi dan tetap memproduksi serta menyebarkan hoaks,” sesal pihak pembuat narasi klarifikasi.
Fenomena ini memunculkan kecurigaan publik mengenai adanya motif politis di balik layar.
Publik diajak untuk kritis dan mempertanyakan muara dari rentetan fitnah ini.
“Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ini sekadar hoaks biasa karena ketidaktahuan? Ataukah pola serangan hoaks yang ditujukan bagi Gubernur Ahmad Luthfi dengan terstruktur serta sengaja digulirkan?” tutup narasi tersebut secara tajam, sembari melempar tanya: “Gubernur Jateng diserang hoaks secara masif, siapa yang bermain sih? Siapa pula yang ambil keuntungan?”
Sumber: Inilah