DEMOCRAZY.ID – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melontarkan ancaman keras kepada pihak-pihak yang berseberangan dengan Teheran seiring meningkatnya tensi usai gagalnya perundingan dengan AS di Islamabad.
IRGC menegaskan masih memiliki sejumlah kemampuan militer yang belum diungkap ke publik.
Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menyatakan bahwa eskalasi konflik akan memicu penggunaan kekuatan baru yang belum pernah diperlihatkan.
“Kami belum mengungkap banyak dari kemampuan kami. Jika perang berlanjut, kami akan menunjukkan kemampuan yang bahkan tidak pernah dibayangkan musuh,” ujarnya dilansir dari Tasnim News Agency, Selasa (15/4).
Menurut Mohebbi, Iran juga siap menerapkan metode tempur baru yang sulit diantisipasi lawan.
Mohebbi menegaskan pendekatan militer tersebut dirancang untuk melemahkan kemampuan respons musuh secara signifikan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyalahkan Amerika Serikat atas gagalnya kesepakatan dalam perundingan yang dimediasi Pakistan.
Abbas Araghchi menilai tuntutan Washington yang berlebihan serta perubahan sikap yang tidak konsisten menjadi penyebab utama kebuntuan.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot, Menlu Iran itu memaparkan jalannya negosiasi intensif Iran-AS yang berlangsung akhir pekan lalu di Islamabad.
Pembicaraan itu disebut sempat menunjukkan kemajuan sebelum akhirnya terhenti.
“Iran, meski memiliki ketidakpercayaan penuh terhadap pihak Amerika, tetap memasuki negosiasi dengan itikad baik dan pendekatan yang bertanggung jawab,” ujarnya.
“Namun tuntutan berlebihan dan perubahan posisi yang terus-menerus dari pihak AS menghalangi tercapainya kesepakatan.”
Sementara itu, Prancis menegaskan dukungannya terhadap jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik.
Barrot berharap dialog yang berlanjut dapat membuka jalan menuju kesepakatan final antara kedua pihak.
Di sisi lain, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, menyetujui rencana lanjutan operasi militer yang menargetkan Iran dan sejumlah front lainnya.
Keputusan itu diambil dalam rapat evaluasi situasi khusus bersama forum staf umum angkatan bersenjata Israel, Senin (13/4) waktu setempat.
Dikutip dari laporan Channel 14, rapat petinggi militer Israel itu membahas perihal kesiapan tempur dan strategi lanjutan untuk menghadapi eskalasi konflik usai pembicaraan AS dan Iran di Islamabad tanpa hasi.
Zamir menyinggung momentum menyerang Iran, menjelang Hari Peringatan Holocaust sebagai refleksi tanggung jawab sejarah.
Saat kami merencanakan kelanjutan operasi, saya tidak bisa mengabaikan besarnya tanggung jawab sejarah yang ada di pundak kami,” ujar Eyal Zamir.
Eyal Zamir menegaskan bahwa Israel kini berada dalam posisi berbeda dibanding masa lalu.
“Dari bangsa yang pernah teraniaya tanpa perlindungan, kini kami berperang untuk menghilangkan ancaman eksistensial terhadap negara Israel dan rakyat Yahudi,” katanya.
Zamir juga mengklaim keberhasilan signifikan dalam operasi melawan Iran dan sekutunya.
“Kami menghadapi musuh yang belum pernah terjadi sebelumnya, baik dari dekat maupun jauh. Kami mengalahkan Iran dan proksinya, telah memberikan pukulan keras dan melemahkan kemampuan militernya,” tegasnya.
Sumber: Suara