Dirut ASDP Pencetak Laba Tertinggi Kini Dipenjara, Ferry Irwandi Ungkap Surat Menohok dari Ira Puspadewi!

DEMOCRAZY.ID – Pendiri Malaka Project, Ferry Irwandi, membagikan cerita yang menurutnya paling berat selama ia membuat konten.

Melalui kanal YouTube miliknya, Ferry mengungkap isi surat dari mantan Direktur Utama ASDP, Ira Puspadewi, yang baru saja divonis 4,5 tahun penjara.

Putusan itu dijatuhkan meski, menurut Ferry, tidak ada bukti bahwa Ira menerima aliran dana dalam kasus dugaan korupsi yang menjeratnya.

Ferry menyebut kasus ini bukan hanya memilukan, tetapi bisa mengubah cara pandang terhadap penegakan hukum di Indonesia.

Ia mengatakan dakwaan terhadap Ira terasa janggal sejak awal, apalagi ASDP di bawah kepemimpinan Ira mencatat sejarah laba tertinggi sejak perusahaan tersebut berdiri.

Dalam videonya, Ferry membacakan surat pribadi yang ia terima langsung dari Ira saat berada di Rutan KPK.

Dalam surat itu, Ira menegaskan tidak pernah menerima sepeser pun uang.

Ia memastikan seluruh rekeningnya sudah diperiksa PPATK, sementara rumah dan kantornya ikut digeledah penyidik.

Ira menjelaskan alasan ASDP melakukan akuisisi PT Jembatan Nusantara (JN).

Menurutnya, langkah itu diambil untuk memperkuat portofolio komersial perusahaan agar bisa terus mensubsidi lebih dari 200 rute di wilayah 3T.

ASDP merupakan satu-satunya operator feri yang melayani kebutuhan logistik, kesehatan, hingga pendidikan di banyak daerah terpencil. Tanpa subsidi silang, rute-rute tersebut terancam terhenti.

Ira menambahkan bahwa pembelian kapal baru bukan solusi karena izin trayek untuk kapal komersial terkena moratorium sejak 2017.

Sementara itu, PT JN sudah memiliki 53 kapal lengkap dengan izin operasional yang melekat pada perusahaannya.

Valuasi akuisisi dilakukan oleh konsultan profesional bersertifikat seperti Deloitte dan PYC, yang menaksir harga perusahaan sekitar 1,2 triliun rupiah.

Namun auditor KPK menilai nilai tersebut seharusnya hanya 19 miliar rupiah.

Ira mengaku sedih karena upaya memperkuat pelayanan daerah terpencil justru berujung kriminalisasi.

Ia berharap proses hukum bisa memberi keadilan, terutama karena ASDP selama ini menjalankan lebih dari 300 lintasan, dan mayoritas rutenya dalam kondisi merugi sehingga harus selalu disubsidi.

Ferry menilai putusan 4,5 tahun terhadap Ira memunculkan banyak tanda tanya.

Ia mengingatkan bahwa BPK pernah memeriksa transaksi tersebut dan memberi status wajar dengan pengecualian.

Seluruh rekomendasi BPK bahkan telah ditindaklanjuti ASDP.

Karena itu, Ferry mempertanyakan mengapa audit internal lain bisa menghasilkan selisih perhitungan kerugian negara yang sangat besar.

Sebagai seseorang yang pernah bekerja di bidang keuangan negara, Ferry menilai pola penetapan kerugian negara dalam kasus ini bisa berbahaya jika dibiarkan.

Keputusan bisnis yang tidak memiliki unsur korupsi berpotensi diseret menjadi tindak pidana, dan hal itu menurutnya dapat membuat para profesional enggan kembali membantu negara.

Ferry juga melihat dampak lebih luas terhadap berbagai proyek pemerintah.

Ia menyebut banyak proyek yang terlambat, mangkrak, atau membengkak biayanya, dan jika pendekatan yang sama diterapkan, semuanya berpotensi dipermasalahkan dengan logika serupa.

Menurutnya, itu dapat menjadi preseden yang mengkhawatirkan.

Menutup videonya, Ferry berharap Ira dapat mengajukan banding dan mendapatkan keadilan.

Ia menegaskan bahwa vonis terhadap seorang pimpinan BUMN yang terbukti tidak mengambil keuntungan pribadi layak menjadi perhatian serius publik.

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya