Apa Isi 10 Poin Rencana Perdamaian Iran Yang Disebut Trump ‘Tidak Cukup Baik’?

DEMOCRAZY.ID – Iran mengusulkan rencana perdamaian 10 poin untuk mengakhiri perang dengan AS-Israel.

Presiden AS Donald Trump menyebut rencana tersebut sebagai langkah signifikan, tetapi belum cukup baik, Senin (6/4/2026).

Apa Rencana 10 Poin Iran?

Mengutip Al Jazeera, pada Senin (6/4/2026), Pakistan, yang memediasi pembicaraan di Islamabad untuk mengakhiri perang, mengajukan proposal gencatan senjata selama 45 hari setelah pertemuan terpisah dengan pejabat AS dan Iran.

Negosiator Iran dan AS belum bertemu langsung terkait rencana tersebut.

Pada akhir Maret, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa utusannya telah berkomunikasi dengan seorang pejabat senior Iran, namun hal ini tidak dikonfirmasi oleh Teheran.

Iran membantah telah mengadakan pembicaraan langsung dengan negosiator AS.

Kantor berita IRNA melaporkan bahwa Iran menyampaikan tanggapannya melalui Pakistan.

Iran dilaporkan menolak usulan gencatan senjata tersebut dan, sebagai gantinya, mengajukan seruan untuk mengakhiri permusuhan secara permanen.

Proposal Iran terdiri dari 10 klausul, termasuk pengakhiran konflik di kawasan, protokol jalur aman melalui Selat Hormuz, pencabutan sanksi, serta rekonstruksi, lapor IRNA.

Namun, rincian lengkap 10 poin tersebut belum dipublikasikan.

Bagaimana Tanggapan Gedung Putih?

Menanggapi rencana Iran, Trump mengatakan:

“Mereka mengajukan proposal yang signifikan. Tidak cukup baik, tetapi itu merupakan langkah yang sangat berarti. Kita akan lihat apa yang terjadi.”

“Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, mereka tidak akan memiliki jembatan dan pembangkit listrik,” tambahnya.

Sebelumnya, dalam unggahan di Truth Social pada Minggu, Trump mengancam akan menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika Selat Hormuz tidak sepenuhnya dibuka.

“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan—semuanya dalam satu hari di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat itu, atau kalian akan hidup dalam neraka—LIHAT SAJA!” tulisnya.

Batas waktu ditetapkan pukul 20.00 waktu Washington pada Selasa, atau sekitar pukul 07.00 WIB pada Rabu (8/4/2026).

Iran menolak ultimatum tersebut dan mengancam akan melakukan pembalasan.

Organisasi hak asasi manusia dan sejumlah anggota Kongres AS mengkritik pernyataan Trump karena dinilai mengarah pada ancaman terhadap target sipil, yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Namun, Trump sama sekali tidak khawatir bahwa melakukan hal itu bisa dianggap sebagai kejahatan perang.

“Tahukah Anda apa itu kejahatan perang? Memiliki senjata nuklir,” katanya, seperti dikutip Guardian.

Proposal Apa Lagi yang Diajukan?

Sebelumnya, sumber diplomatik tingkat tinggi mengatakan kepada Al Jazeera pada 25 Maret lalu bahwa Iran telah menerima rencana 15 poin yang disusun AS dan disampaikan melalui Pakistan.

Namun, Iran menilai proposal tersebut terlalu maksimalis dan tidak realistis.

“Itu tidak masuk akal, bahkan di atas kertas,” kata sumber tersebut, menyebut rencana itu menyesatkan dalam penyajiannya.

Rencana 15 poin tersebut mencakup gencatan senjata selama 30 hari, pembongkaran fasilitas nuklir Iran, pembatasan program rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sebagai imbalannya, AS akan mencabut seluruh sanksi terhadap Iran dan memberikan dukungan untuk pembangkit listrik di fasilitas nuklir Bushehr.

Iran menolak gencatan senjata sementara karena dinilai memberi waktu bagi AS dan Israel untuk berkonsolidasi dan melancarkan serangan lanjutan.

Iran merujuk pada perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025. Dalam konflik tersebut, AS terlibat selama satu hari dengan menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran.

Trump saat itu mengklaim fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan, namun beberapa bulan kemudian kembali menyatakan Iran masih menjadi ancaman nyata.

Sementara itu, badan pengawas nuklir PBB menyatakan Iran belum berada pada tahap mampu memproduksi senjata nuklir.

AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari 2026, saat negosiasi dengan Iran masih berlangsung.

Sehari sebelum konflik pecah, Oman sebagai mediator menyatakan bahwa kesepakatan hampir tercapai.

Iran selama ini menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil dan bukan untuk pengembangan senjata.

Iran juga pernah menandatangani kesepakatan dengan AS pada 2015 untuk membatasi program nuklirnya sebagai imbalan pencabutan sanksi.

Namun, Trump menarik AS keluar dari kesepakatan tersebut pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran.

Sebagai respons, Iran meningkatkan pengayaan uranium dari 3,6 persen, sesuai batas kesepakatan, menjadi hampir 60 persen setelah fasilitas nuklir Natanz diserang pada 2021, yang dituduhkan kepada Israel.

Untuk membuat senjata nuklir, diperlukan tingkat pengayaan sekitar 90 persen.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Menjelang tenggat waktu Rabu, peluang tercapainya gencatan senjata dinilai masih kecil karena kedua pihak belum mencapai titik temu, sementara konflik telah memasuki bulan kedua.

Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, menyatakan melalui platform X:

“Upaya positif dan konstruktif Pakistan untuk menghentikan perang kini memasuki tahap yang kritis dan sensitif.”

“Nantikan informasi lebih lanjut.”

Situs berita AS, Axios, melaporkan bahwa tim negosiasi Trump, yang terdiri dari wakil presiden JD Vance, Witkoff, dan penasihat Jared Kushner, berpendapat bahwa Trump harus mencoba mencapai kesepakatan.

Namun, situs tersebut menambahkan bahwa Israel, serta para pemimpin Arab Saudi dan UEA, mendesak pemimpin AS untuk tidak menerima gencatan senjata.

Situs itu juga mengutip seorang pejabat AS yang mengatakan: “Presiden adalah orang yang paling haus darah, seperti anjing gila”.

Trump Ancam Hapus Peradaban Iran

Dalam unggahan di media sosialnya pada Selasa (7/4/2026) pukul 19.06 WIB, Trump mengisyaratkan kemungkinan eskalasi besar.

“Seluruh peradaban bisa hilang malam ini dan mungkin tidak akan pernah kembali.”

“Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi kemungkinan itu ada.”

“Namun, jika terjadi perubahan rezim secara total—dengan kepemimpinan yang lebih rasional dan tidak radikal—mungkin sesuatu yang besar dan luar biasa bisa terjadi.”

“Kita akan mengetahuinya malam ini, salah satu momen terpenting dalam sejarah dunia.”

“Tuhan memberkati rakyat Iran.”

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya