DEMOCRAZY.ID – Akademisi Ubedilah Badrun mendaftarkan sejumlah “dosa politik” Prabowo Subianto, dengan inkonsistensi sebagai yang paling menonjol, jurang lebar antara narasi patriotik di hadapan publik dengan praktik kekuasaan yang dinilainya represif dan mengecewakan.
“Manis di mulut, tapi pahit dalam kenyataan,” kata Ubedilah dalam wawancara di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin (6/4/2026).
Ubedilah mencontohkan dukungan Prabowo terhadap kebijakan yang dinilai tidak melewati mekanisme DPR, sikap terhadap kasus penyiraman air keras kepada Andy Yunus yang diduga melibatkan aparat TNI, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipaksakan di tengah krisis fiskal.
Ia juga menyebut Prabowo tak bisa lepas dari bayang-bayang Joko Widodo.
“Prabowo pernah mengatakan Jokowi adalah guru politiknya. Ini sebetulnya periode ketiga Joko Widodo,” sindirnya.
Kognisi sosial Prabowo, menurut Ubedilah, dibentuk oleh pengaruh ayahnya, Soeharto, dan Jokowi, kombinasi yang disebutnya membuat harapan pada pemerintahan ini menjadi sangat tipis.
Akademisi dan aktivis senior Ubedilah Badrun menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sudah menjadi beban bagi bangsa Indonesia dan harus segera mengakhiri kekuasaannya.
“Secara argumentatif saya meyakini bahwa Prabowo-Gibran adalah beban buat bangsa ini,” kata Ubedilah dalam wawancara di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin (6/4/2026).
Ubedilah menyebut rezim ini memiliki cacat bawaan sejak awal, mulai dari proses pemilihan yang disebutnya mengandung cacat konstitusional hingga beban masa lalu Prabowo.
Ia menilai dalam setahun setengah berkuasa, pemerintahan ini justru memperburuk situasi ekonomi, demokrasi, dan penegakan hak asasi manusia.
Menurutnya, ada dua jalan yang bisa ditempuh: pemakzulan melalui mekanisme konstitusional di parlemen, atau Prabowo-Gibran mundur secara sukarela.
“Presiden dan wakil presiden jika mundur itu akan lebih terhormat dibanding dimundurkan oleh rakyat,” ujarnya.
[FULL VIDEO]