DEMOCRAZY.ID – Pengamat Sosial & Politik: Whoosh Jadi Simbol Utang, Korupsi, dan Konspirasi di Negeri Sendiri!
Pengamat sosial dan politik, Yusuf Blegur, menyoroti tajam proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau yang dikenal dengan nama Whoosh.
Ia menilai proyek tersebut bukan sekadar infrastruktur transportasi modern, melainkan simbol dari praktik konspirasi, manipulasi, dan korupsi yang telah lama mengakar di negeri ini.
“Seperti pada kebanyakan proyek infrastruktur, apapun program dan pembangunan di republik ini, selalu membonceng perangai konspirasi, manipulasi dan korupsi. Ada uang besar untuk segelintir orang dari elit kekuasaan, yang tersisa buat rakyat hanya utang, rente, dan beban pajak selangit,” ujar Yusuf Blegur dalam keterangannya, Rabu (5/11/2025).
Menurutnya, Whoosh layak disebut proyek gegabah, mubazir, dan sarat kepentingan politik serta ekonomi golongan tertentu.
Ia menilai sejak awal pembangunan kereta cepat ini tidak melalui perencanaan yang matang dan tidak berlandaskan skala prioritas kebutuhan rakyat.
“Konsepnya berubah-ubah, pelaksanaannya molor, dan utangnya membengkak. Bahkan penyimpangannya signifikan, dari skema business to business (B2B) menjadi business to government (B2G), yang akhirnya membebani APBN dan menyebabkan kerugian negara hingga Rp4,1 triliun per tahun,” jelas Yusuf.
Ia juga menyoroti ketimpangan biaya pembangunan dibandingkan dengan negara lain.
Misalnya, Arab Saudi mengeluarkan dana sekitar Rp112 triliun untuk proyek kereta cepat sepanjang 1.500 km, sedangkan Whoosh menelan biaya hingga Rp113 triliun—membengkak hampir Rp20 triliun—hanya untuk 142 km.
“Padahal, Jepang sebelumnya menawarkan skema lebih rasional, yakni investasi 40 tahun sebesar Rp97 triliun dengan bunga 0,1 persen. Kini kita justru menanggung bunga utang 2 persen dari pinjaman luar negeri,” tambahnya.
Menurut Yusuf, proyek ini menjadi bukti bahwa semangat pembangunan di Indonesia kerap didorong oleh ambisi dan pencitraan, bukan kebutuhan rakyat.
“Whoosh seperti diambil dari bunyi yang sekelebat dan kencang—cepat tapi tak terlihat dan tak terdengar manfaatnya bagi rakyat. Proyek ini lahir dari halusinasi dan hasrat legasi yang tak tahu diri, mengorbankan negeri demi gengsi,” ujarnya dengan nada tegas.
Ia menilai, Whoosh hanya mempercepat satu hal: manipulasi, korupsi, dan konspirasi.
“Kereta cepat ini memang cepat, tapi cepat juga membebani rakyat dengan utang, pajak, dan derita ekonomi. Cepat manipulasinya, cepat korupsinya, cepat konspirasinya. Saking cepatnya, tak terlihat lagi siapa yang harus bertanggung jawab,” pungkas Yusuf.
Sumber: RadarAktual