Ainun Najib Tanggapi Aksi Oknum Banser yang Dinilai Ancam Nyawa Kru TV: Separuh Awal Oke, Separuh Akhirnya Provokatif!

DEMOCRAZY.ID – Praktisi teknologi informasi asal Gresik, Ainun Najib, turut menanggapi aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser) baru-baru ini.

Ainun yang juga diketahui adalah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menyebut bahwa aksi tersebut pada awalnya berjalan baik, namun di bagian akhir justru menimbulkan kesan yang berpotensi memicu provokasi.

“Separuh awal videonya OK, separuh akhirnya provokasi berbahaya,” kata Ainun di X @ainunnajib (17/10/2025).

Ainun berharap agar Banser dapat lebih menahan diri dan bertindak secara terukur dalam menyampaikan aspirasi.

Ia kemudian menyinggung sikap Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) yang sebelumnya melakukan aksi serupa di kantor Trans7 dengan cara yang dinilainya lebih tertib dan terarah.

“Semoga Banser lebih bisa mengukur dan menahan diri seperti Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) yang pertama ngeluruk ke Trans7,” lanjutnya.

Tidak berhenti di situ, Ainun juga mengingatkan agar situasi sosial-politik saat ini tidak mengarah pada konflik seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

“2025 tidak seperti Banyuwangi 1998 apalagi Madiun 1948,” tandasnya.

Sebelumnya, pihak Trans7 akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada*Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Permintaan maaf itu disampaikan usai program Xpose Uncensored menuai sorotan dan kecaman dari publik karena dinilai menyinggung para kiai serta dunia pesantren.

Permohonan maaf tersebut dituangkan dalam surat bernomor 399/DSMA-PR/25, bertanggal 14 Oktober 2025.

Surat itu ditandatangani langsung oleh Renny Andhita, selaku Kepala Departemen Programming, dan Andi Chairil, selaku Direktur Produksi PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh (Trans7).

Dalam surat yang beredar, manajemen Trans7 mengakui adanya keteledoran dan kurangnya ketelitian selama proses produksi, yang berujung pada munculnya ketidaknyamanan di kalangan keluarga besar pesantren.

“Kami dari Trans7 dengan segala kerendahan hati menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap kiai dan keluarga, para pengasuh, santri, serta alumni Pondok Pesantren Lirboyo,” tulis pihak Trans7 dalam surat tersebut.

Pihak Trans7 juga mengakui bahwa tayangan itu menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, terutama di kalangan pesantren.

Mereka pun berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Kami menyadari tayangan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi keluarga besar pesantren,” tulis manajemen dalam surat itu.

“Hal ini menjadi pembelajaran berharga bagi kami di Trans7 agar tidak lagi menayangkan pemberitaan yang berkaitan dengan pesantren dalam program yang tidak relevan,” lanjut isi surat tersebut.

Lebih jauh, manajemen menyampaikan komitmennya untuk menampilkan program-program yang lebih menghormati nilai-nilai luhur pesantren dan menggambarkan keteladanan para kiai sebagai bagian dari kekayaan moral bangsa.

Dalam bagian penutup suratnya, pihak Trans7 berharap permohonan maaf itu dapat diterima dengan baik oleh keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo.

Ini merupakan sebagai bentuk itikad baik dan komitmen menjaga kehormatan lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

“Kami berharap surat ini dapat diterima sebagai bentuk itikad baik dan komitmen kami untuk menjaga marwah lembaga pendidikan keagamaan, khususnya pesantren,” demikian isi penutup surat dari manajemen Trans7.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya