DEMOCRAZY.ID – BAHLIL Lahadalia yang kebetulan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sering membuat gebrakan aneh dan lucu. Aneh karena di luar kelaziman, lucu karena mengundang tawa.
Baru-baru ini Bahlil mencubit pantan Ketua Danantara Roslan Roeslani saat Presiden Prabowo berbicara.
Padahal seorang anak buah seharusnya diam kalau atasan sedang berbicara.
Apalagi yang dibicarakan soal korupsi, kerugian negara, dan hilangnya sumber daya alam Indonesia.
Sebagai anak buah wajib hukumnya menyimak lalu mengamalkannya.
Tetapi hal itu tidak terjadi pada Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Golkar, loyalis Jokowi.
Ia saat Presiden Prabowo gerah melihat kenyataan duit negara raib Rp 300 triliun karena aktivitas tambang, Bahlil malah asyik sendiri.
Entah apa yang dirasakan Bahlil saat Prabowo menyentil soal korupsi jumbo tersebut.
Mungkin tidak terpengaruh apapun, mungkin dianggap angin lalu, mungkin dirinya terancam atau mungkin Bahlil merasa Prabowo bukan atasannya, melainkan Jokowi.
Bahwa Bahlil tampak hormat pada Prabowo itu untuk keperluan pencitraan.
Apa yang Bahlil lakukan terlepas dia gemulai atau perkasa, itu adalah perbuatan tercela, tidak elok, dan memalukan. Bahkan bisa dikatakan Bahlil sedang melecehkan Presiden.
Atau menganggap apa yang dikatakan Prabowo sebagai lelucon.
Gestur spontan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia jadi sorotan saat Presiden Prabowo meninjau kawasan smelter PT Tinindo Internusa di Pangkalpinang, Senin (6/10/2025).
Dalam kunjungan itu, Presiden Prabowo juga memantau langsung tambang ilegal yang telah disita dan diserahkan kepada… pic.twitter.com/Dy5hUiFM9I
— Kompas.com (@kompascom) October 7, 2025
Bahlil bukan kali ini saja tampil aneh dan norak. Pernyataan paling fenomenal adalah ketika dia menjilat Jokowi begitu kaffah dengan sebutan Raja Jawa.
Bahlil mengancam pada kader Go;kar untuk tidak main-main dengan Raja Jawa.
Saat itu Jokowi masih menjabat Presiden. Anugerah Bahlil untuk Jokowi sebagai Raja Jawa mungkin dipercaya oleh sebagian orang pengikutnya.
Tetapi bagi sebagian besar yang lain adalah sebuah pelecehan dan penghinaan.
Seorang Jokowi tak layak dianugerahi gelar Raja. Bahlil lupa pepatah Melayu “Raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah.”
Catatan buruk Bahlil sebelumnya adalah gelar doktor yang disandangnya.
Ia memperoleh gelar tersebut dari Universitas Indonesia dalam waktu kurang dari dua tahun, memicu spekulasi tentang kualitas akademik dan potensi plagiarisme.
Bahlil juga terlibat jual beli izin tambang. Bahlil melakukan tebang pilih dalam pencabutan izin usaha tambang, menimbulkan tuduhan korupsi dan konflik kepentingan.
Perilaku yang mempengaruhi kebijakan aneh Bahlil adalah kebijakan pembatasan penjualan LPG 3 kg yang menimbulkan menuai protes karena dianggap menghilangkan pendapatan pedagang kecil serta menyebabkan antrean panjang.
Tak berhenti di situ, Bahlil juga terlibat dalam kontroversi terkait izin tambang nikel di Pulau Gag, Raja Ampat, yang memicu protes keras dari masyarakat lokal dan organisasi lingkungan.
Sikap arogan Bahlil ditunjukkan dalam pernyataan bahwa tenaga kerja lokal belum bisa diandalkan untuk berkarier di perusahaan berstandar internasional. Sebuah pernyataan inferior dan berkapasitas rendahan.
Yang juga membuat decak heran masyarakat adalah saat Bahlil nenggak minuman keras.
Sebuah foto yang memperlihatkan sosok mirip Bahlil dengan minuman keras sempat viral di media sosial. Bahlil tidak membantah.
Begitulah Bahlil, pejabat negara dengan sejuta cacat moral.
Akibat ulahnya, kini sebuah survei menunjukkan penurunan tingkat kepercayaan publik terhadap Kementerian ESDM di bawah kepemimpinan Bahlil, membuatnya menjadi salah satu menteri berkinerja terburuk sepanjang sejarah.
Anehnya menteri selevel ini tetap dipertahankan Prabowo.
Sumber: LiraNews