Sosok Ahmad Bahar Penulis Buku ‘Gibran The Next President’ Ngamuk Besar, Tak Terima Anaknya Disandera GRIB Jaya

DEMOCRAZY.ID – Nama Ahmad Bahar menjadi sorotan di tengah polemik dengan organisasi masyarakat GRIB Jaya pimpinan Rosario De Marshall alias Hercules.

Konflik yang diduga bermula dari peretasan terhadap akun WhatsApp putri dari Ahmad Bahar berlanjut.

Terbaru, Ahmad Bahar tak terima putrinya ia sebut disandera oleh GRIB Jaya.

Ahmad Bahar mengaku baru mengetahui peristiwa yang dialami putrinya pada Senin (18/5/2026) malam.

Ia menyebut perlakuan sejumlah anggota GRIB Jaya membawa anaknya dari rumah di Depok ke markas GRIB Jaya di Kedoya Jakarta Barat pada Minggu (17/5/2026) sebagai penyanderaan.

Putri Ahmad Bahar dibawa ke Markas GRIB Jaya untuk mengklarifikasi soal video yang diduga membuat Hercules murka.

“Lho, klarifikasi kok ke anak? Ini sepertinya kan sebenarnya maunya yang diambil kan saya, cuman karena pas saya enggak ada, kok begitu caranya? Ini kan namanya kan penyanderaan, kan begitu?” ujar Ahmad Bahar di kantor PP Muhammadiyah Jakarta Pusat pada Selasa (19/5/2026).

Lantas siapa sosok Ahmad Bahar?

Ahmad Bahar merupakan penulis buku yang pernah menjadi sorotan.

Buku tersebut berjudul “Gibran The Next President”.

Tak sendiri, Ahmad menulis buku dengan sampul foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu bersama Dr. Aprinus Salam dan Dr. Purwadi.

Penulis buku Gibran The Next President, Ahmad Bahar, membantah anggapan bahwa buku tersebut dibuat atas permintaan partai politik maupun kelompok pendukung tertentu. Ia menegaskan seluruh isi buku lahir dari gagasan para penulis yang terlibat di dalamnya.

“Tidak ada pesanan,” ujar Ahmad Bahar saat dihubungi TribunSolo.com, Selasa (11/6/2024).

Ia menjelaskan, buku tersebut merupakan kumpulan esai yang memuat sudut pandang kebudayaan dari sejumlah penulis, akademisi, hingga budayawan. Nama-nama seperti Dr. Aprinus Salam dan Dr. Purwadi disebut ikut menyumbangkan tulisan dalam proyek tersebut.

Menurut Ahmad, dirinya hanya berperan menyusun konsep utama sekaligus menentukan garis besar tema agar setiap tulisan memiliki keterkaitan satu sama lain.

“Saya membuat semacam benang merah supaya tulisan-tulisan itu tetap satu arah,” katanya. Buku tersebut diketahui terbit pada Februari 2024.

Ahmad mengaku mulai menyusun buku itu usai hasil hitung cepat Pilpres 2024 menunjukkan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka unggul sebagai presiden dan wakil presiden terpilih.

Ia juga mengatakan sebelumnya pernah menulis buku mengenai tokoh politik lain, termasuk Anies Baswedan pada awal 2023, sebelum masa pemilu berlangsung.

Sebelum memakai judul Gibran The Next President, naskah tersebut awalnya diberi nama Menang Ora Opo-Opo Kalah Yo Wis pada 2020.

Setelah hasil Pilpres diumumkan pada 14 Februari 2024, buku itu kemudian direvisi dengan tambahan materi baru sekaligus pergantian judul.

“Sebagian isi lama masih dipakai, tapi banyak juga tambahan baru yang disesuaikan dengan situasi sekarang,” jelasnya.

Ahmad menegaskan dirinya hanya bertindak sebagai penulis dan tidak terafiliasi sebagai pendukung politik pihak tertentu.

Penulis Buku Raport Merah Sang Jenderal

Selain buku Gibran The Next President, Ahmad juga menulis buku yang tak kalah menjadi perbincangan.

Di tengah aksi demonstrasi besar pada Agustus 2025 lalu, Ahmad Bahar tetap menyampaikan kritik terhadap institusi kepolisian melalui tulisan dan karya bukunya.

Lewat buku berjudul Rapot Merah Sang Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Ahmad Bahar menyoroti berbagai kebijakan dan langkah aparat yang menurutnya menunjukkan gejala pembatasan ruang demokrasi.

Dalam pra-peluncuran buku di Yogyakarta, Jumat (30/1/2026), Bahar menyebut sejumlah persoalan yang dianggap ikut memengaruhi kualitas demokrasi nasional.

“Indeks demokrasi menurun, muncul kriminalisasi hukum, budaya setoran, sampai fenomena no viral no justice,” ujarnya.

Buku setebal 240 halaman itu ditulis sebagai bentuk kritik sekaligus pengingat agar institusi Polri melakukan pembenahan internal dan menjaga integritas sebagai aparat penegak hukum.

Menurut Bahar, kritik terhadap kepolisian tidak bisa langsung dimaknai sebagai bentuk kebencian. Ia justru melihat kritik sebagai wujud kepedulian terhadap institusi berbaju cokelat tersebut.

Selain menjadi media kritik, ia berharap buku itu dapat memperluas sudut pandang publik mengenai kondisi kepolisian saat ini.

Ahmad Bahar berencana meluncurkan buku tersebut secara resmi pada Kamis, 5 Februari 2026, di Galery Kopi Darmin, kawasan Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan.

Ia mengatakan agenda peluncuran buku nantinya juga akan diisi diskusi bersama sejumlah tokoh, di antaranya Komjen Pol (Purn) Oegroseno, Rismon, dan Mahfud MD yang saat itu masih dalam tahap konfirmasi kehadiran.

Polemik dengan Hercules

Polemik antara penulis dan pegiat media sosial Ahmad Bahar dan ormas GRIB Jaya terkait konten di media sosial yang diduga menyinggung Ketua Umum GRIB Jaya Rosario De Marshall alias Hercules belum selesai.

Polemik yang juga diwarnai dugaan peretasan terhadap akun WhatsApp putri dari Ahmad Bahar itu pun kini berlanjut.

Meski telah berdamai dengan GRIB Jaya terkait dengan polemik konten di media sosial tersebut, Ahmad Bahar mengaku tak terima dengan perlakuan Hercules terhadap putrinya.

Ahmad Bahar mengaku baru mengetahui peristiwa yang dialami putrinya pada Senin (18/5/2026) malam.

​Ahmad Bahar menyebut perlakuan sejumlah anggota GRIB Jaya membawa anaknya dari rumah di Depok ke markas GRIB Jaya di Kedoya Jakarta Barat pada Minggu (17/5/2026) sebagai penyanderaan.

Putri Ahmad Bahar dibawa ke Markas GRIB Jaya untuk mengklarifikasi soal video yang diduga membuat Hercules murka.

“Lho, klarifikasi kok ke anak? Ini sepertinya kan sebenarnya maunya yang diambil kan saya, cuman karena pas saya enggak ada, kok begitu caranya? Ini kan namanya kan penyanderaan, kan begitu?” ujar Ahmad Bahar di kantor PP Muhammadiyah Jakarta Pusat pada Selasa (19/5/2026).

Menurut pengakuan anaknya, Ilma, pada Senin (18/5/2026) malam, putrinya berada di Markas GRIB Jaya Kedoya selama sekira enam jam dari waktu Maghrib sekira pukul 18.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB.

Namun, dari rentang waktu itu, kata dia, Ilma baru ​berhadapan langsung dengan Hercules sekira 30 menit terakhir.

Saat berhadapan dengan Hercules, kata Ahmad Bahar, semua orang yang ada di lokasi berdiri termasuk anaknya.

Menurut Ahmad Bahar, saat ditanya-tanya Hercules, Ilma dikerumuni anggota GRIB Jaya dan menjadi satu-satunya perempuan di sana.

Bahkan, kata dia, Ilma mengaku sempat menangis saat itu.

Ilma, kata dia, saat itu menangis karena anggota Hercules sempat mengatakan bahwa mereka telah mengetahui data terkait dirinya dan ayahnya.

Bahkan, kata Ahmad Bahar, menurut pengakuan Ilma, anggota Hercules sempat menyebutkan hari ulang tahunnya.

“‘Saya tahu loh, datamu. Data ayahmu saya juga tahu. Kamu lahir tanggal 17 kan? Kamu ulang tahun kan?’ Nah di situ dia nangis itu karena disebut ulang tahunnya itu. Ulang tahun kok di sini (markas GRIB Jaya) maksudnya,” ungkap Ahmad Bahar.

Saat itulah, kata Ahmad Bahar, putrinya mengalami dugaan kekerasan verbal.

Namun, ia tidak menjelaskan lebih rinci terkait dugaan kekerasan verbal yang dimaksud.

“Kaitannya ini karena menyangkut harga diri seorang wanita juga dalam pengertian yang bisa luas. Jadi tertekannya di sini bisa sangat luas artinya. Dan mungkin seumur hidup anak saya itu belum pernah melihat, mengalami peristiwa seperti itu, dan itu tentu mengalami trauma yang sangat mendalam,” ungkapnya.

“Siapapun orang tua pasti tidak terima mengalami hal itu,” imbuh dia.

Untuk itu, ia mengatakan siap menempuh jalur hukum.

Namun, ​Ahmad Bahar dan tim penasihat hukum dari LBH PP Muhammadiyah beserta LBH dari ormas Islam lainnya akan terlebih dahulu berdiskusi.

“Iya, nanti kita akan konsultasi dulu ke LPSK, kemudian ke (Komnas) Perlindungan Perempuan, terus pada akhirnya ya mau tidak mau ke Polda Metro,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Riset dan Advokasi Publik LBH AP PP Muhammadiyah, Gufroni, mengungkapkan akan secepatnya menyampaikan pengaduan ke pihak kepolisian.

Ia berencana pengaduan tersebut akan disampaikan ke pihak LPSK dan sejumlah lembaga lain termasuk Komnas Perempuan pada Kamis (21/5/2026) pekan ini.

“Tentu kami dalam waktu dekat akan meminta perlindungan hukum ke Mabes Polri termasuk jaminan keamanan, jangan sampai peristiwa kemarin dua hari berturut-turut terulang kembali,” ujar Gufroni.

“Tentu saja kita kita akan menggunakan cara-cara yang konstitusional. Dan kita berharap kepada aparat kepolisian untuk secara aktif menjamin keselamatan warga negara,” ucapnya.

GRIB Jaya Membantah

Sementara itu, GRIB Jaya membantah telah mengepung rumah penulis buku Ahmad Bahar di Cimanggis, Depok, Minggu (17/5/2026).

Kabid Humas dan Publikasi DPP GRIB Jaya, Marcel Gual, mengatakan kedatangan mereka untuk meminta klarifikasi konten video yang menyinggung Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules.

“Narasi yang menyebutkan adanya ‘pengepungan massa’ dinilai sangat berlebihan dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan,” ujar Marcel dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan.

Marcel mengatakan kedatangan anggota GRIB Jaya juga mengingatkan Ahmad Bahar bahwa ruang publik harus diisi dengan fakta, bukan fitnah atau provokasi.

Untuk menjaga kondusivitas di lingkungan sekitar dan menghindari hal-hal anarkistis, anggota GRIB meminta Ahmad Bahar langsung datang ke Kantor DPP GRIB Jaya guna mengklarifikasi pernyataannya yang menyinggung Hercules.

“Sayangnya, Ahmad Bahar dinilai tidak ksatria dan mencoba lepas dari tanggung jawab. Alih-alih hadir secara jantan, ia justru melarikan diri, mematikan telepon genggamnya, dan hanya mengutus putrinya untuk datang ke kantor DPP,” kata Marcel.

Sebelum ke rumah Ahmad Bahar, Tim Hukum DPP GRIB Jaya telah merampungkan berkas dan mengumpulkan bukti-bukti digital untuk melapor ke polisi.

Hal ini dipicu aksi doxing yang dilakukan secara masif oleh sejumlah nomor asing melalui aplikasi WhatsApp.

Nomor-nomor gelap tersebut menyebarkan konten TikTok Ahmad Bahar yang ditujukan terhadap Hercules.

Pesan-pesan tersebut sengaja dikirimkan secara berulang kepada orang-orang terdekat Hercules.

“Sebelum bergerak ke lokasi, Tim Hukum DPP GRIB Jaya telah merampungkan berkas dan mengumpulkan bukti-bukti digital untuk melaporkan Ahmad Bahar ke pihak kepolisian,” ujar dia.​

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya