DEMOCRAZY.ID – Isak tangis menyelimuti Perum Depsos, Cikarang Barat, saat jenazah Tutik Anitasari (31) tiba di rumah duka.
Ibu muda yang menjadi korban ke-16 dalam tragedi tabrakan maut di Stasiun Bekasi Timur ini meninggalkan seorang balita berusia satu tahun.
Sosok Tutik juga telah mengukir sejuta kenangan yang kini berubah menjadi firasat memilukan bagi orang-orang terdekatnya.
Sri Untung (48), tetangga sekaligus tempat curhat almarhumah, mengenang momen terakhir mereka pada Minggu (26/4/2026), tepat sehari sebelum kecelakaan berdarah itu terjadi.
Tak seperti biasanya, Tutik yang dikenal ceria dan gemar bercerita, tiba-tiba menunjukkan gelagat yang membuat Sri merinding jika mengingatnya kembali.
Saat mengasuh anaknya di depan warung gado-gado milik Sri, Tutik hanya terdiam dengan tatapan kosong.
“Biasanya dia suka bercanda dan curhat. Tapi waktu itu dia cuma nongkrong melihat ke arah warung saya, mukanya pucat dan diam saja meski anaknya bermain kompor,” kenang Sri sambil menyeka air mata, Rabu (29/4/2026).
Sri mengaku kehilangan sosok ‘adik’ yang kerap berbagi keluh kesah, mulai dari cerita sederhana tentang sang suami yang hobi makan tempe, hingga mimpi besar almarhumah untuk memiliki rumah sendiri di lingkungan yang bebas banjir tersebut.
“Kehilangan banget… rasanya semalam masih ngobrol. Sampai kebangun karena mimpi,” ucapnya dengan suara bergetar.
Sosok Tutik dikenal sebagai pejuang keluarga yang tak kenal lelah.
Setiap hari, ia menempuh perjalanan jauh dari Cikarang Barat menuju tempat kerjanya di bidang kecantikan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Rutinitasnya dimulai sejak pukul 06.00 WIB dan baru kembali ke rumah pukul 22.00 WIB.
“Dia kerja Senin sampai Sabtu. Hari Minggu adalah satu-satunya waktu dia bersama anak dan suaminya. Itulah kenapa niatnya membeli rumah di sini sangat kuat, karena suaminya sudah nyaman dengan akses kerjanya,” tambah Sri.
Sayangnya, mimpi memiliki hunian tetap itu harus terkubur bersama raga Tutik yang menjadi korban dalam hantaman kereta api tersebut.
Insiden kecelakaan di Bekasi Timur sendiri menyisakan luka besar.
Hingga Rabu (29/4/2026) pukul 11.00 WIB, jumlah korban mencapai 106 orang. Sebanyak 90 orang mengalami luka-luka, sementara korban meninggal dunia bertambah menjadi 16 orang.
Di balik angka-angka itu, ada cerita-cerita kecil seperti milik Tutik—tentang perjuangan, harapan, dan kehidupan yang terhenti terlalu cepat.
Dari 90 korban luka, sebanyak 44 orang telah diperbolehkan pulang, sementara 46 lainnya masih berjuang di ruang perawatan berbagai rumah sakit di Bekasi.
Proses pengusutan penyebab kecelakaan beruntun ini pun terus dikebut oleh pihak berwenang guna mencari titik terang di balik tragedi yang merenggut banyak “pejuang rupiah” ini.
Sumber: Tribun