Relakah Anda Jika Gibran Jadi Presiden Gantikan Prabowo?

Relakah Anda Jika Gibran Jadi Presiden Gantikan Prabowo?

Oleh: Tarmidzi Yusuf | Kolumnis

Situasi politik tanah air akhir-akhir ini eskalasinya meningkat. Bukan hanya ekonom dan analis politik yang menyuarakan tentang potensi makin memburuknya ekonomi dan demokrasi Indonesia. Banyak pihak ikut bersuara seperti Jusuf Kalla dan Saiful Mujani.

Salahsatu indikator yang sering disuarakan pengamat ekonomi adalah soal makin melebarnya defisit APBN tahun 2026.

Sampai akhir bulan Maret, defisit APBN sudah tembus Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis pro demokrasi, Andrie Yunus menambah catatan kelam demokrasi di Indonesia.

Apalagi dikait-kaitkan dengan dugaan keterlibatan institusi intelijen terhadap penyiraman air keras kepada Andrie Yunus.

Tidak kurang Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla ikut memperingatkan adanya potensi terjadinya chaos pada bulan Juli-Agustus 2026.

Merespon warning dari Jusuf Kalla, Ketua Umum Golkar 2004-2009, Wakil Ketua Umum Golkar Idrus Marham lebih spesifik mengatakan, “Kalau sebuah pernyataan sudah menentukan akan terjadi sesuatu, itu bukan lagi prediksi.

Itu seperti sudah ada skenario dan target operasi,” kata Idrus Marham seperti dikutip dari beberapa media.

Kekhawatiran adanya skenario atau target operasi ditengah potensi ambruknya ekonomi Indonesia diperjelas lagi oleh seruan Pendiri lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyerukan penggulingan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Gonjang-gonjing politik bakal terjadinya chaos dan potensi ambruknya ekonomi Indonesia dinilai sebagai bagian dari skenario dan target operasi penggulingan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk digantikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Andai isu adanya skenario dan target operasi penggulingan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto digantikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka benar.

Relakah Anda jika Gibran Rakabuming Raka yang saat proses awal pencalonannya sebagai calon wakil presiden dinilai oleh Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) sebagai pelanggaran etika berat karena belum cukup umur seperti dipersyaratkan oleh Undang-undang?

Bukan itu saja. Gibran Rakabuming Raka juga sedang menghadapi berbagai tudingan terkait pendidikan terakhirnya yang diisukan tidak tamat SMA dan isu lainnya.

Banyaknya isu negatif yang menerpa putra sulung Jokowi, Gibran akan memantik aksi besar-besaran penolakan terhadap Gibran andai ada skenario dan operasi pergantian Presiden Prabowo oleh Wakil Presiden Gibran.

Pertanyaan ini penting. Publik resah. Khawatir tingkat tinggi. Apalagi isu kudeta merangkak telah lama beredar.

Belum lagi berdasarkan survei elektabilitas Gibran “nasakom” alias “nasib satu koma”. Gibran muncul ke pentas politik bukan karena prestasi dan isi otak.

Hanya karena anak seorang presiden dan paman hakim MK. Keluarnya putusan MK No 90 merupakan bukti nyata hadirnya Gibran di pentas politik nasional karena faktor paman dan anak presiden. Keduanya telah dikonfirmasi oleh Mahkamah Konstitusi.

Menurut prediksi penulis tingginya resistensi terhadap Gibran. Potensi bertemuanya dua massa aksi.

Yang satu massa aksi menolak Gibran. Massa aksi lainnya adalah massa pendukung Gibran. Massa pendukung Jokowi yang masih eksis hingga hari ini.

Bertemuanya dua massa pro dan kontra Gibran berpotensi terjadinya pertumpahan darah. Apalagi Kapolri dan Panglima TNI saat ini dinilai dekat dengan mantan Presiden RI ke-7, Jokowi.

Apakah Presiden Prabowo Subianto mengetahui adanya skenario dan target operasi penggulingannya? Tentu saja pasti tahu.

Tidak mungkin Presiden Prabowo tidak tahu. Hanya saja Prabowo pura-pura tidak tahu. Ibarat pepatah, “sambil menyelam minum air”.

Kita tunggu saja skenario Allah subhanahu wata’ala. Yakinlah bahwa rencana Allah jauh lebih indah dan baik, bahkan saat rencana kita tidak berjalan sesuai keinginan, karena Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hambanya. ***

Artikel terkait lainnya