2 Kontroversi George Soros di Indonesia, Penyebab Krismon dan Tunggangi Demo?

DEMOCRAZY.ID – George Soros adalah salah satu investor paling berpengaruh di dunia yang memiliki rekam jejak yang teruji dalam membaca pergerakan pasar global.

Di balik reputasinya, George Soros juga dikenal sebagai orang yang penuh kontroversi.

Strategi berani yang dijalankannya kerap memicu perdebatan karena memberikan dampak yang sangat luas.

Bukan hanya merugikan investor perorangan, aksinya dinilai mampu melumpuhkan ekonomi negara hingga memicu krisis ekonomi di tingkat regional.

Itulah sebabnya, banyak orang tidak menyukainya karena ia berhasil menjadi kaya dengan cara yang dianggap tidak etis.

Asal-Usul Julukan “The Man Who Broke the Bank of England”

Julukan “The Man Who Broke the Bank of England” ini diraih oleh George Soros dari sebuah peristiwa bersejarah yang terjadi pada 16 September 1992 atau yang lebih dikenal sebagai “Black Wednesday”.

Kala itu, Inggris bergabung dalam sistem bernama ERM (Exchange Rate Mechanism), di mana nilai mata uang Pound Sterling harus dijaga agar selalu stabil mengikuti nilai Mark Jerman.

Namun, di waktu yang bersamaan, kondisi perekonomian Inggris sedang loyo.

Bukannya membuat keputusan yang bijak, pemerintah Inggris lebih mementingkan “gengsi” dan memaksa nilai Pound tetap tinggi agar terlihat “kuat” di Eropa.

Sebagai pakar investasi, George Soros melihat situasi tersebut tidak akan bertahan lama, terlebih lagi saat mengetahui kondisi perekonomian Inggris yang kurang baik.

Soros kemudian melakukan strategi short selling, di mana ia meminjam uang sebanyak 10 miliar Poundsterling dan menukarnya atau menjualnya ke mata uang Mark Jerman dan Dolar AS saat harganya masih tinggi.

Penjualan mata uang Poundsterling secara masif itu membuat pasar panik. Investor langsung menjual Poundsterling karena ada ketakutan nilainya jatuh.

Pemerintah Inggris yang masih tetap mempertahankan “gengsi”nya mencoba melawan aksi Soros dengan menaikkan suku bunga secara gila-gilaan (sekitar 15 persen) agar banyak orang mau menyimpan Pound.

Mereka juga menghabiskan cadangan devisa negara untuk membeli kembali Poundsterling di pasar uang.

Di saat cadangan uang mulai menipis, Inggris akhirnya menyerah, keluar dari sistem ERM, dan membiarkan nilai Pound jatuh atau devaluasi.

Setelah nilai Pound jatuh sekitar 15 persen, Soros kembali membeli Poundsterling di harga yang sangat murah untuk melunasi pinjaman awalnya.

Dari selisih harga jual (saat mahal) dan harga beli kembali (saat murah), Soros meraup keuntungan bersih sekitar US$1 miliar (setara Rp17 triliun dengan kurs saat ini) hanya dalam waktu singkat.

Akhir dari peristiwa ini, Soros menjadi sangat kaya raya. Namun, di sisi lain, banyak orang yang membencinya karena aksinya dinilai “merampok” ekonomi sebuah negara.

Kasus dan Kontroversi George Soros di Indonesia

1. Biang Kerok Rontoknya Rupiah dan Krisis Moneter 1998

George Soros dituding sebagai pemicu utama jatuhnya nilai mata uang di Asia Tenggara.

Semua ini berawal ketika perusahaannya, Quantum Fund, melihat adanya celah keuntungan yang menggiurkan pada mata uang Baht Thailand.

Soros kemudian menjalankan strategi short selling, yaitu meminjam mata uang Baht di sejumlah bank nasional dalam jumlah besar, lalu dijual kembali ke mata uang Dolar saat nilainya masih tinggi.

Strategi ini dilakukan karena ia memiliki keyakinan besar bahwa nilai mata uang Baht akan segera jatuh.

Prediksinya benar. Di saat mata uang Baht merosot tajam, Soros langsung membeli kembali Baht di harga rendah, di mana uang itu digunakan untuk melunasi pinjaman awal.

Dalam praktiknya ini, Soros berhasil meraih keuntungan besar dari selisih penjualan mata uang Baht ke Dolar saat nilainya masih tinggi.

Di sisi lain, praktik yang dilakukannya menimbulkan efek domino ke negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.

Kejatuhan mata uang nilai Baht membuat investor asing panik dan menarik modal secara massal dari pasar Asia Tenggara.

Dampaknya begitu besar bagi Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 6 persen, langsung terjun bebas menjadi minus 13 persen.

Dalam kurun waktu setahun (1997-1998), nilai Rupiah terhadap Dolar AS merosot tajam hingga lebih dari 600 persen.

Mantan Menteri Keuangan, Rizal Ramli menyebutkan bahwa “dosa” Soros yang sulit diampuni adalah ketika ia memberi contoh sukses kepada spekulan lain untuk melakukan hal yang sama kepada mata uang negara yang sedang rapuh.

Bahkan dalam peristiwa ini, PM Malaysia, Mahathir Mohamad, turut menuding Soros sebagai pemicu krisis Asia.

2. “Sutradara” di Balik Demonstrasi di Indonesia

Menurut laporan media asal Rusia, Sputnik, George Soros bersama lembaga National Endowment for Democracy (NED) dituding sebagai pihak asing yang menunggangi aksi demonstrasi dan kerusuhan di Indonesia pada tahun 2024.

Analisis tersebut mengaitkan pada gerakan protes di Indonesia dengan strategi “Revolusi Warna” (Color Revolution), sebuah pola perubahan rezim yang sering dikaitkan dengan intervensi Barat.

Dalam hasil analisisnya, ada beberapa poin menarik yang mendasari tudingan tersebut, seperti:

  • Penggunaan atribut dari anime Jepang “One Piece” (bendera bajak laut bertopi jerami) oleh para pengunjuk rasa dituding bukan sekadar tren, melainkan taktik terorganisir untuk menyimbolkan perlawanan terhadap “Tirani”.
  • George Soros dan lembaga donor Barat lainnya dituding tidak sejalan dengan arah politik luar negeri Indonesia di bawah Presiden Prabowo. Terlebih lagi adanya hubungan mesra antara Indonesia dengan blok Timur seperti Rusia, China, hingga keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS.

Meskipun laporan ini memicu perdebatan luas, perlu dicatat bahwa hingga saat ini tidak ada konfirmasi resmi baik dari pihak George Soros maupun pemerintah Indonesia mengenai kebenaran keterlibatan tersebut.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya