DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Yunarto Wijaya menilai dinamika kepemimpinan nasional dalam lebih dari satu dekade terakhir cenderung fluktuatif layaknya “roller coaster”.
Ia merujuk pada periode pemerintahan Presiden ke-7 RI Jokowi selama dua periode yang kemudian dilanjutkan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menurutnya menghadirkan gaya kepemimpinan populis dengan ritme kebijakan yang naik-turun.
“Dalam 10 tahun Jokowi dan satu tahun Prabowo ini terasa seperti ‘dung dang dung dang’, ada dinamika yang cukup terasa,” kata Yunarto dalam podcast Gercep (Gerak Cerita Politik) di Youtube @HarianKompasCetak, tayang perdana pada Selasa (24/3/2026).
Menurutnya, dinamika tersebut memunculkan kecenderungan di sebagian masyarakat yang mulai menginginkan stabilitas dalam kepemimpinan nasional.
Yunarto menyebut, ada kerinduan terhadap model kepemimpinan yang lebih sistematis dan minim gejolak, seperti yang dianggap pernah hadir di era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Sebagian orang mulai berpikir, cari yang ‘proper’ saja, yang bekerja by system, mungkin terasa pelan tapi tidak menimbulkan guncangan besar,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam konteks tersebut, kepemimpinan SBY dinilai memberikan kestabilan, meskipun kerap dikritik karena dianggap lamban.
“Orang mulai agak merindukan SBY. Minimal enggak ada, ‘polisi tidurnya’ dikit gitu ya selama kepemimpinannya gitu kan, walaupun terasa agak lamban, kritik sebagian orang,” kata Yunarto.
Fenomena ini, lanjut dia, berpotensi menguntungkan figur seperti Ketua Umum Demokrat yang juga sulung dari SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Menurut Yunarto, faktor historis dan emosional pemilih terhadap era kepemimpinan SBY bisa menjadi modal politik tersendiri bagi AHY dalam kontestasi Pilpres 2029.
“AHY punya keuntungan karena ada asosiasi dengan kepemimpinan SBY yang dianggap stabil,” ujarnya.
Meski begitu, Yunarto mengingatkan bahwa peluang tersebut sangat bergantung pada keberanian politik Partai Demokrat dalam menentukan posisi.
Ia menilai, karakter politik SBY cenderung berhati-hati dan baru akan mengambil langkah berbeda jika situasi benar-benar aman.
“SBY biasanya realistis. Kalau situasinya belum benar-benar memungkinkan, kemungkinan besar tetap akan mengambil posisi aman,” katanya.
Dengan demikian, Yunarto melihat skenario paling realistis bagi AHY dalam waktu dekat adalah tetap berada di lingkar kekuasaan, dan bisa saja menjadi cawapres pendamping Prabowo.
“Selama Prabowo masih kuat dan tingkat kepuasannya tinggi, opsi paling rasional bagi AHY mungkin di posisi cawapres,” pungkasnya.
Sementara itu, pengamat politik Adi Prayitno membaca, setidaknya ada dua skenario besar yang bisa terjadi bagi AHY di Pilpres 2029.
Pertama, AHY tetap berada dalam orbit kekuasaan dengan mendampingi Prabowo Subianto sebagai cawapres.
Menurut Adi, skenario ini cukup realistis mengingat Partai Demokrat saat ini masih berada dalam lingkaran koalisi pemerintahan.
“Harapan paling minimal tentu AHY atau kader Demokrat bisa didorong sebagai cawapres jika Prabowo kembali maju,” katanya.
Jika peluang mendampingi Prabowo tertutup, AHY dinilai bisa mengambil langkah alternatif dengan membangun poros baru bersama Anies Baswedan.
“Kalau tidak bisa bersama Prabowo, bukan tidak mungkin ada opsi lain, termasuk berpasangan dengan Anies,” jelas Adi.
Ia menilai, duet Anies-AHY yang sempat ramai dijodohkan pada Pilpres 2024 lalu, bisa jadi skenario tertunda yang akhirnya terwujud di 2029.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu juga menekankan bahwa kehadiran Anies sebagai figur dengan elektabilitas yang masih diperhitungkan menjadi faktor penting dalam kalkulasi politik ke depan.
“Anies itu punya magnet politik yang masih kuat. Itu yang membuat skenario duet dengan AHY tetap relevan,” ujarnya.
Meski begitu, Adi mengingatkan semua kemungkinan tersebut masih sangat cair dan bergantung pada dinamika politik mendekati 2029.
“Pada akhirnya, ini soal momentum dan kesepakatan politik. Tapi yang jelas, semua kemungkinan itu terbuka,” tutupnya.
Sumber: Tribun