Presiden Ini Dituding Memuja Mantan Diktator: Publik Kecewa, Mirip Negara Mana Ya?

DEMOCRAZY.ID – Presiden baru Chile, Jose Antonio Kast, menuai kontroversi setelah dikaitkan dengan pujian terhadap mantan diktator militer Augusto Pinochet.

Sejumlah analis menilai sikap Kast mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem politik saat ini, bukan sekadar nostalgia terhadap rezim masa lalu.

Kontroversi muncul setelah Kast menampilkan lambang negara pada selempang presiden dalam potret resminya.

Simbol tersebut terakhir digunakan oleh Pinochet sebelum berakhirnya pemerintahan militer pada 1990.

Direktur Museum Memori dan HAM Chile, Maria Fernanda Garcia, menilai fenomena ini bagian dari tren global menuju politik yang lebih keras.

“Ada krisis demokrasi yang membuat masa lalu penuh kekerasan justru dipandang positif oleh sebagian orang yang tidak mengalaminya,” katanya dilansir dari Aljazeera.

Garcia menambahkan perubahan sikap generasi muda juga berperan.

“Pemberontakan sekarang bukan melawan perang atau diktator, tetapi melawan sistem yang sudah mapan, termasuk demokrasi dan hak asasi manusia,” ujarnya.

Kast memenangkan pemilu dengan lebih dari 58 persen suara, hasil terbesar dalam sejarah pemilihan presiden Chile.

Kemenangannya tetap terjadi meski ia pernah menyatakan bahwa Pinochet kemungkinan akan memilih dirinya jika masih hidup.

Pinochet sendiri berkuasa setelah kudeta militer 1973 dan memimpin selama 17 tahun.

Dalam periode itu, lebih dari 3.000 orang tewas dan ribuan lainnya dipenjara atau disiksa oleh rezim militer.

Penulis buku tentang politik sayap kanan Chile, Felipe Gonzalez Mac-Conell, menyebut pengaruh era Pinochet masih terlihat dalam kebijakan Kast.

“Proyek politik Kast selalu memuat pembenaran nilai budaya dan ekonomi dari masa diktator,” katanya.

Beberapa tokoh yang pernah menjadi pengacara Pinochet bahkan masuk kabinet pemerintahan baru.

Mereka akan menjabat sebagai menteri pertahanan dan menteri kehakiman.

Ilmuwan politik Peru, Jose Alejandro Godoy, menilai naiknya Kast bukan fenomena tunggal di Amerika Latin.

Ia menyebut munculnya pemimpin keras di kawasan terjadi karena masyarakat merasa politik tidak lagi membawa perubahan.

“Orang-orang merasa politik tidak memperbaiki hidup mereka. Dalam situasi seperti itu, muncul figur yang lebih dekat dengan visi otoriter,” kata Godoy.

Menurutnya, daya tarik Kast lebih karena janji ketertiban dan keamanan, bukan semata dukungan pada diktator masa lalu.

“Kekhawatirannya adalah ketika keamanan ditukar dengan kebebasan sipil,” ujarnya.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya