DEMOCRAZY.ID – Amerika Serikat (AS) gagal menggulingkan Republik Islam Iran setelah 12 hari perang berlangsung di Timur Tengah.
Kegagalan ini didukung oleh temuan Intelijen AS CIA yang menyebut bahwa Kepemimpinan Pemerintah Republik Islam Iran masih berdiri kokoh sekalipun telah diserang habis-habisan oleh AS-Israel.
Bahkan dari laporan Intelijen AS yang dimuat The Times of Israel pada Kamis (12/3/2026) menyebutkan bahwa pemerintahan Republik Islam Iran tidak bergeming sedikitpun meski pemimpin mereka Ayatollah Ali Khamenei wafat dalam serangan AS-Israel.
“Intelijen AS menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran sebagian besar masih utuh dan tidak berisiko runtuh dalam waktu dekat setelah hampir dua minggu pemboman tanpa henti oleh AS dan Israel, menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut,” tulis The Times of Israel.
Dalam diskusi tertutup, para pejabat Israel juga mengakui bahwa tidak ada kepastian perang akan menyebabkan runtuhnya pemerintahan ulama.
Sumber-sumber tersebut menekankan bahwa situasi di lapangan masih belum pasti dan dinamika di dalam Iran dapat berubah.
Temuan intelijen yang diberitakan media Israel ini sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengaku akan segera menghentikan perang dengan Iran dalam waktu dekat.
Dalam konferensi pers di Trump National Doral Miami, Florida, Minggu (8/3/2026), Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer terhadap Iran sebagai langkah sementara untuk menekan ancaman di kawasan Timur Tengah.
“Ini akan segera berakhir. Sangat segera,” kata Trump saat ditanya wartawan mengenai kemungkinan berakhirnya perang dalam beberapa hari ke depan, seperti dilansir laman The Guardian.
Namun ketika didesak apakah konflik itu akan selesai dalam pekan ini, Trump tidak memberikan kepastian.
“Tidak minggu ini, tapi segera. Sangat segera,” ujarnya.
Namun demikian pernyataan Trump dibantah keras oleh pihak Iran.
IRGC memastikan bahwa pasukan militer Iran sejauh ini telah berhasil menghancurkan 10 sistem radar canggih milik Amerika Serikat di wilayah Teluk Persia.
Keuntungan ini membuat Iran merasa sebagai pihak yang menentukan akhir dari perang saat ini.
“Kami tahu bahwa persediaan amunisi Anda semakin menipis dan Anda mati-matian mencari jalan keluar dari perang yang akan menyelamatkan muka Anda. Mengapa Anda tidak mengatakan yang sebenarnya kepada rakyat Amerika?” demikian ia tujukan kepada pihak berwenang Amerika.
Sumber: Tribun