DEMOCRAZY.ID – Di balik panasnya konflik dan krisis internal yang melanda Iran, tersimpan operasi intelijen berskala besar yang digerakkan oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
Manuver ini bukan hanya melibatkan serangan militer, tetapi juga sabotase ekonomi, perang informasi, hingga pendanaan kelompok demonstran secara terorganisasi.
Fakta tersebut diungkapkan oleh Mantan Pilot tempur F-16 Fighting Falcon Marsma TNI (Purn), Agung Sasongkojati, dalam analisisnya terkait kondisi geopolitik Iran.
Menurut Agung, AS memanfaatkan kombinasi empat instrumen kekuatan nasional, diplomasi, informasi, militer, dan ekonomi untuk menumbangkan pemerintahan sah di Teheran.
Puncak dari operasi ini, terjadi pada akhir Desember tahun lalu ketika unjuk rasa besar-besaran meletus di Iran.
“Mossad itu berhasil menggalang Demonstran. Tapi sebelum itu dimulai dengan Amerika melakukan sesuatu dengan finance-nya Iran sehingga harga lira Iran tuh anjlok jatuh dan membuat pengusaha-pengusaha yang menjual barang impor menjadi kesulitan dan mereka berdemo,” ujar Agung dalam kanal Youtube Forum Keadilan Tv, Kamis (12/3/2026).
Selain tekanan ekonomi, AS juga melancarkan “perang informasi” dengan masif.
Melalui kampanye di media sosial, mereka membujuk rakyat Iran untuk memberontak.
Propaganda ini bahkan menyusup ke lembaga-lembaga swadaya masyarakat setempat.
Agung menyebut, demonstrasi yang awalnya berjalan damai dengan tuntutan perbaikan ekonomi berubah menjadi kerusuhan terorganisasi.
Kelompok-kelompok tertentu secara sengaja membakar fasilitas publik, bank, hingga klinik, bahkan menembaki aparat dan sesama demonstran untuk menciptakan kondisi chaos.
Lebih mengejutkan lagi, intelijen asing turut memfasilitasi komunikasi para perusuh.
“Jadi diakui juga oleh Amerika, CIA itu membantu memasukkan Starlink ke Iran sejumlah 40.000. Disebarkan ke seluruh provinsi Iran. Gunanya apa? Untuk koordinasi. Untuk internet koordinasi. Kalau internet dimatikan atau di dihambat,” ungkap Agung.
Skenario kudeta yang nyaris sempurna itu akhirnya berhasil dipatahkan. Iran tidak tinggal diam.
Dengan bantuan teknologi dari China dan Rusia, Teheran berhasil mengoperasikan alat jamming yang tidak hanya mematikan sinyal Starlink, tetapi juga melacak lokasi para operator yang menggerakkan kerusuhan.
“Sejak tanggal 8 (Januari), itu dioperasikan alat itu, alat itu berhasil membuat bukan saja tidak berfungsi internet Starlink tapi juga bisa menangkap siapa operator-operatornya,” ujar Agung.
Tertangkapnya ribuan operator dan agen yang diduga berafiliasi dengan Mossad ini menjadi pukulan telak bagi AS dan Israel.
Ancaman hukuman gantung bagi para pengkhianat negara pun membuat jaringan intelijen asing di Iran kelabakan.
Hal inilah yang diyakini Agung sebagai alasan mengapa Israel akhirnya menahan diri untuk tidak melakukan serangan militer terbuka untuk membantu pemberontak.
Pasca-kegagalan skenario kudeta, dinamika bergeser ke meja perundingan.
Agung mencatat bahwa Iran kini menunjukkan sikap yang jauh lebih fleksibel terkait program nuklirnya demi meredakan ketegangan.
Dalam perundingan terbaru di Oman dan Jenewa, Iran dilaporkan bersedia meluruhkan material nuklirnya atau menyerahkannya ke negara lain.
Mereka juga setuju untuk membatasi tingkat pengayaan uranium seminimal mungkin.
“Iran sudah bersedia untuk nuklirnya itu sudah bersedia diluruhkan atau dikasih orang negara lain. Yang kedua dia mau untuk kalau on pengayaan nanti pengayaannya minimal saja dan yang paling penting dia mempersilahkan orang Amerika datang untuk memeriksa,” ungkap Agung.
Sumber: Suara