DEMOCRAZY.ID – Ancaman perang nuklir pada 2026 disebut-sebut semakin besar menyusul konflik antara Amerika Serikat dengan Iran.
Ketakutan ini muncul setelah serangan udara gabungan AS-Israel ke Tehran pada 28 Februari lalu yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan yang dilancarkan AS-Israel ke Tehran ini diketahui terjadi lantaran ketakutan AS terhadap program nuklir milik Iran.
Menteri perang AS, Pete Hegseth mengungkap kepada CBS News akhir pekan kemarin bahwa Presiden Trump melihat program nuklir Iran sebagai ancaman jangka panjang yang akan terus berkembang jika tidak dihentikan.
Lantas seberapa bahaya perang nuklir ini? Dalam sebuah penelitian yang telah melalui proses penelaahan ilmiah dan dipublikasikan di jurnal Nature menunjukkan bahkan perang nuklir yang tergolong ‘kecil’ sekalipun berpotensi menewaskan miliaran manusia.
Hal ini terjadi karena ledakan nuklir akan mengirimkan sejumlah besar jelaga ke atmosfer, menghalangi sinar matahari, dan memicu apa yang disebut sebagai “musim dingin nuklir” yang menyelimuti seluruh Bumi.
Pakar skenario kiamat nuklir Annie Jacobsen, yang juga penulis buku Nuclear War: A Scenario, menelaah berbagai penelitian ilmiah serta pendapat para ahli pertahanan untuk menggambarkan apa yang akan terjadi jika negara-negara besar mulai meluncurkan sekitar 12.000 senjata nuklir yang saat ini tersimpan di berbagai persenjataan dunia.
“Ratusan juta orang akan tewas seketika dalam bola-bola api dari ledakan nuklir, itu sudah pasti,” jelas jurnalis investigatif tersebut dalam podcast The Diary Of A CEO yang dipandu Steven Bartlett.
Sementara itu, Direktur Kebijakan Senior di Center for Arms Control and Non-Proliferation, John Erath mengatakan bahwa orang-orang yang tinggal di dekat fasilitas militer, silo rudal balistik antarbenua di wilayah Midwest Amerika Serikat, atau pangkalan kapal selam di daerah pesisir kemungkinan akan merasakan dampak paling cepat dan paling parah dari serangan nuklir.
Tak hanya itu saja, majalah Newsweek pada 2024 sempat menyajikan pandangan terkait dengan dampak perang nuklir.
Mengacu pada data penelitian yang sebelumnya dipublikasikan dalam jurnal Nature Food, diperkirakan sekitar 6,7 miliar orang bisa meninggal akibat kelaparan setelah perang nuklir.
Beberapa negara-negara yang diprediksi akan mengalami kelaparan masal antara lain Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris.
Sebagian besar wilayah Rusia dan beberapa kawasan di Eropa juga diperkirakan akan mengalami kehancuran besar.
Ada pula negara yang tidak sepenuhnya mengalami kelaparan, tetapi harus menurunkan asupan kalori hingga tingkat yang sangat rendah cukup untuk aktivitas ringan saja yang pada akhirnya membuat banyak orang kehilangan berat badan.
Dalam skenario lain yang disebut sebagai ‘kasus ternak parsial’, sebanyak 50 persen biji-bijian pakan ternak dialihkan untuk konsumsi manusia, sementara sisanya tetap digunakan untuk memberi makan hewan yang masih bertahan.
Dalam kondisi ini, diperkirakan sekitar 312,2 juta orang di Amerika Serikat akan meninggal dunia atau sekitar 98 persen dari total populasi negara itu pada 2024.
Sumber: VIVA